{"id":229749,"date":"2023-09-02T15:18:52","date_gmt":"2023-09-02T08:18:52","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=229749"},"modified":"2023-09-04T11:11:28","modified_gmt":"2023-09-04T04:11:28","slug":"upin-dan-ipin-mengklaim-budaya-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/upin-dan-ipin-mengklaim-budaya-indonesia\/","title":{"rendered":"Budaya Indonesia yang &#8220;Diklaim&#8221; oleh Malaysia dengan Bantuan Upin dan Ipin"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kartun <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Upin dan Ipin<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> telah menjadi tontonan favorit bagi semua golongan dan usia. Mulai dari anak kecil hingga orang tua akan terhibur melihat tingkah-tingkah lucu nan konyol dari duo bocil botak bersinar yang tiap hari tayang di layar kaca dari pagi hingga petang ini. Cerita yang dekat dengan keseharian bocil ini membuat banyak kalangan menyukainya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Serial animasi asal Negeri Jiran ini ternyata juga mengangkat berbagai kebudayaan, di antaranya budaya Melayu. Entah kebetulan atau disengaja, banyak budaya Indonesia yang ditampilkan pada serial animasi ini. Ini maksudnya mau meng-klaim melalui kartun atau hanya sekedar hiburan, tidak diketahui dengan pasti pula. Apa sajakah itu?<\/span><\/p>\n<h2><b>Lagu \u201cRasa Sayange\u201d di Upin dan Ipin<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang pertama yaitu lagu \u201cRasa Sayange\u201d. Yaps, lagu daerah asal Maluku ini pernah dinyanyikan oleh <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Upin dan Ipin<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan kawan-kawannya (Musim 4) saat piknik di suatu ladang bersama Cikgu Jasmin. Mereka kompak menyanyi bersama-sama sambil berjalan kaki dari Tadika Mesra hingga lokasi piknik. Mungkin ini sekilas tampak biasa saja, tetapi sebenarnya ya nggak bisa kita sebut biasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengapa begitu? Malaysia pernah menggunakan lagu \u201cRasa Sayange\u201d untuk promosi pariwisata 2007 silam. Tak berhenti sampai di situ, di tahun 2017, lagu ini juga diputar pada pembukaan SEA Games yang mana saat itu Malaysia didapuk sebagai tuan rumah. Bahkan, ada salah seorang menteri Malaysia yang secara gamblang menyebut bahwa lagu ini adalah lagu asli Malaysia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang tidak semua orang Malaysia menyetujui bahwa lagu ini adalah lagu Malaysia. Anwar Ibrahim justru tertawa mendengar ini. Perdana Menteri Malaysia ini mengatakan bahwa klaim lagu \u201cRasa Sayange\u201d sebagai lagu Malaysia merupakan pelanggaran fakta dan menunjukkan kebodohan. Bahkan, ia juga menyebut bahwa dengan adanya peristiwa ini menunjukkan bahwa tidak semua menteri Malaysia itu orang pintar. Ya, kurang lebih begitulah ucapnya saat wawancara eksklusif di CNN Indonesia TV.<\/span><\/p>\n<p><strong>Baca halaman selanjutnya<\/strong><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/upin-dan-ipin-mengklaim-budaya-indonesia\/2\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em>Keris Tok Dalang, wayang kulit, apalagi?<\/em><\/a><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>Keris koleksi Tok Dalang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masih ingat dengan episode saat Tok Dalang merapikan gudang bawah rumahnya? Dalam episode tersebut, Tok Dalang memperlihatkan berbagai koleksi barang antiknya kepada duo bocil botak bersinar itu. Si Ipin menemukan Uang Jepun (Jepang) yang konon kata Tok Dalang jika dijual harganya 7 ribu Ringgit Malaysia atau sekitar 22 juta Rupiah untuk kurs saat ini. Ada koleksi lain yang membuat saya langsung terpaku. Tok Dalang ternyata juga seorang kolektor keris. Ada beragam macam keris yang dikoleksi oleh Tok Dalang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini membuat saya berpikir lain. Dulu, Malaysia pernah mengklaim bahwa keris merupakan warisan budaya leluhurnya. Padahal jika kita melihat dari sisi historis, keris sudah di gunakan oleh orang Nusantara, terutama Jawa sejak masa kekuasaan Majapahit. Klaim Malaysia terhadap keris ini akhirnya selesai ketika <a href=\"https:\/\/ich.unesco.org\/en\/RL\/indonesian-kris-00112\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">UNESCO menetapkan keris<\/a> sebagai lambang budaya warisan asli Indonesia.<\/span><\/p>\n<h2><b>Wayang Kulit muncul di Upin dan Ipin<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada lagi budaya Indonesia yang diklaim <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Upin dan Ipin<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Ini merupakan budaya Nusantara yang sangat terkenal, terlebih di Jawa. Yaps, wayang kulit. Dalam episode di sebalik tabir, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Upin dan Ipin<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan kawan-kawan menemukan wayang kulit yang patah hidungnya. Tiba-tiba, ada seorang kakek yang datang sambil marah-marah dengan bahasa dan intonasi yang agak kasar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ternyata, dia adalah Tok Mat, yang menurut Tok Dalang merupakan legenda wayang kulit. Mereka pun akhirnya membuat pertunjukan wayang kulit di halaman rumah Tok Dalang dengan tajuk di sebalik tabir. Entah cerita wayang yang mereka tampilkan mengadopsi lakon apa, yang jelas mereka berempat berhasil membuat pertunjukan wayang kulit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Malaysia rupanya juga pernah mengklaim bahwa wayang kulit merupakan budaya asli mereka. Bahkan, produsen sepatu dunia asal Singapura, Adidas pernah membuat postingan yang isinya adalah wayang kulit merupakan bagian dari budaya Malaysia. Hal tersebut tentunya menyedot perhatian netizen dari seluruh Indonesia. Pasalnya, wayang kulit telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai budaya Indonesia pada 2003 silam.<\/span><\/p>\n<h2><b>Legenda Malin Kundang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam salah satu episode <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Upin dan Ipin<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, tampak Susanti bercerita soal legenda asli Indonesia, Malin Kundang. Legenda yang menceritakan anak durhaka yang dikutuk menjadi batu ini mendapat tanggapan dari Si Ipin. Sambil mengeluarkan buku miliknya, Ipin membantah bawa cerita yang disampaikan Susanti adalah Malin Kundang. Menurut Ipin, cerita yang benar adalah Si Tanggang, bukan Malin Kundang. Mereka pun terlibat debat kusir antara mana yang benar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perdebatan mereka pun akhirnya berhenti ketika Cikgu Melati menjelaskan bahwa tidaklah penting memperdebatkan mana yang benar. Sebab, pada intinya keduanya mengandung pesan amanat yang baik dan mulia. Hmmm, apakah ini klaim atau hanya kesamaan saja. Mungkin kebetulan saja ceritanya mirip.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu semua merupakan beberapa budaya Indonesia yang pernah diklaim oleh Malaysia. Dan tak tahu bagaimana, budaya tersebut juga muncul dalam episode kartun animasi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Upin dan Ipin<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Entah ini hanya sebatas kebetulan atau memang disengaja. Mungkin Malaysia sudah merasa gagal mengakui budaya tersebut melalui jalan klaim, sehingga mereka meminta bantuan kepada duo bocil <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Upin dan Ipin<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita lihat saja sampai nanti, mungkin akan ada episode Jarjit menari reyog Ponorogo (yang benar reyog bukan reog, lihat di tulisan saya sebelumnya) atau bahkan Fizi bermain kuda kepang. Mungkin juga cerita Kak Ros dengan Abang Iz yang dibuat mirip Ande-Ande Lumut? Kita lihat saja. Hehehe.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Miftakhu Alfi Sa&#8217;idin<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/upin-ipin-dan-sifatnya-yang-saya-benci\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Upin Ipin dan Sifatnya yang Saya Benci<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Beberapa adegan budaya Indonesia sempat muncul di adegan Upin dan Ipin. Hmmm, apakah ini suatu kebetulan, atau malah sebaliknya?<\/p>\n","protected":false},"author":2264,"featured_media":217122,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13083],"tags":[576,17056,18847,20460,5612,10690,20461],"class_list":["post-229749","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-acara-tv","tag-budaya-indonesia","tag-keris","tag-klaim","tag-legenda-malin-kundang","tag-malaysia","tag-upin-dan-ipin","tag-wayang-kulit"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/229749","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2264"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=229749"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/229749\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/217122"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=229749"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=229749"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=229749"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}