{"id":229710,"date":"2023-09-02T10:20:26","date_gmt":"2023-09-02T03:20:26","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=229710"},"modified":"2023-09-02T07:48:49","modified_gmt":"2023-09-02T00:48:49","slug":"culture-shock-orang-palembang-saat-pertama-kali-ke-bogor","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/culture-shock-orang-palembang-saat-pertama-kali-ke-bogor\/","title":{"rendered":"Culture Shock Orang Palembang Saat Pertama Kali Datang ke Bogor: Indomie Goreng kok Pakai Saos Sambal?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seharusnya, saya mulai merantau ke Bogor tahun 2020 kemarin. Tapi karena pandemi berkepanjangan, akhirnya kisah perantauan saya di Kota Hujan baru terealisasikan tahun 2022. Satu tahun lebih saya kuliah online dari Palembang sebelum akhirnya kuliah tatap muka langsung di Bogor. Selama itu pula saya membayangkan Bogor sebagai kota yang sejuk, asri, dan dingin sama halnya seperti yang digambarkan oleh Google.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hingga akhirnya tiba di Bogor, saya menemukan beberapa hal unik dan nggak sesuai sama ekspektasi saya. Berikut beberapa <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/culture-shock\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">culture shock<\/a> yang saya rasakan sebagai orang Palembang saat pertama kali ke Bogor.<\/span><\/p>\n<h2><strong>#1 Indomie gorengnya beda sama Indomie goreng di Palembang<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini adalah culture shock pertama saya saat baru tiba di Bogor. Saya memang sudah cukup sering mendengar urban legend mengenai perbedaan Indomie goreng Jawa dan Sumatra yang terletak pada bumbunya. Namun, baru kali ini saya melihat dan mencobanya secara langsung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/indomie-goreng\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Indomie goreng<\/a> warkop adalah sarapan pertama saya di Kota Hujan. Saya cukup terkejut saat melihat si penjual mengeluarkan bumbu indomie yang ada saos sambalnya. Di Palembang, bumbu yang digunakan adalah bubuk cabai. Meskipun rasanya nggak jauh berbeda, yang paling nyambung di lidah saya tetap bumbu indomie ala Sumatra. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah saya googling, saya baru tahu kalau bumbu indomie menyesuaikan dengan selera masyarakat setempat. Mungkin hal ini yang menunjukkan bahwa lidah saya ini memang lidah orang Sumatra.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Indomie goreng adalah salah satu makanan favorit saya. Namun sejak tinggal di Bogor, saya jadi jarang mengonsumsi Indomie karena bumbunya yang beda. Saya justru jadi lebih suka menjajal <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/mi-instan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">mi instan<\/a> lainnya ketimbang harus makan Indomie goreng pakai bumbu saos sambal. Hehehe.<\/span><\/p>\n<h2><strong>#2 Hanya ada dua warna angkot di Bogor dan nggak ada musiknya<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sambil memakan indomie, saya semakin terkejut lagi dengan warna <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/angkot\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">angkot<\/a> yang di Bogor. Sejauh mata memandang, hanya ada satu warna angkot yang saya lihat, yaitu warna biru. Angkot berwarna biru untuk Kabupaten Bogor dan yang berwarna hijau untuk Kota Bogor. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal di Palembang, kita akan menemui angkot dengan warna yang beragam. Setiap trayek akan ditandai dengan warna angkot yang berbeda, sehingga lebih mudah mengingatnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbeda halnya dengan di Bogor, perbedaan trayek angkot hanya ditandai dengan penomoran dan nama rute yang ditempel di kaca bagian depan angkot. Yang jadi masalah adalah banyak tempelan di bagian kaca depan angkot yang lepas. Belum lagi ditambah dengan semua warna angkot yang sama dan nama trayek yang penyebutannya mirip-mirip. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kebanyakan nama daerah di Bogor itu diawali dengan \u201cCi\u201d. Cibeureum, Ciluar, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/cibinong\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Cibinong<\/a>, Ciawi, dan Ci, Ci lainnya. Saya pernah salah naik angkot lantaran belum hafal trayek angkot yang melewati tempat tinggal saya. Saya dengan pede menaiki angkot ini karena saya yakin sekali dengan ingatan saya. Alhasil, saya harus ganti angkot dan bayar dua kali dari seharusnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, angkot di Bogor cukup ramah di telinga penumpang. Angkot-angkot di sini nggak memasang speaker dan menyetel lagu remix yang bikin jantung jedag-jedug seperti angkot Palembang. Satu hal yang sama dari angkot Bogor dan Palembang adalah mereka sama-sama penguasa jalanan. Mereka nggak mau kalah, sering memotong jalan, dan ugal-ugalan. Serasa yang punya jalan ini neneknya aja.<\/span><\/p>\n<h2><strong>#3 Banyak penjual pempek seperti di Palembang<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau banyak yang jualan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/pempek\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pempek<\/a> di Palembang, tentu suatu hal yang wajar karena memang daerah asalnya. Tapi ternyata di Bogor juga banyak yang jualan pempek. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di dekat kos saya, ada lebih dari 3 penjual pempek. Culture shock yang satu ini adalah salah satu hal yang saya syukuri karena cukup dapat mengobati rasa rindu saya terhadap pempek. Meskipun rasa dan bentuk pempek di Bogor dan Palembang ini berbeda, sih. Hehehe.<\/span><\/p>\n<h2><strong>#4 Sama panasnya dengan Palembang<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak teman-teman, tetangga, kerabat, serta keluarga saya yang menyangka Bogor sejuk. Sebenarnya nggak sepenuhnya salah karena memang beberapa <a href=\"https:\/\/superapps.kompas.com\/read\/1895907\/5-tempat-wisata-di-bogor-berudara-sejuk-dan-segar-untuk-lepas-penat-saat-liburan-akhir-pekan\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">daerah di Kota Hujan itu sejuk<\/a>. Tapi, Bogor tempat saya tinggal nggak sesejuk itu. Bahkan, suhunya terkadang hanya beda satu derajat Celcius saja dengan Palembang. Saya kasih tahu sekali lagi, Bogor nggak sedingin itu, mas dan mbak sekalian.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Intinya, Bogor ya sama aja kayak daerah lainnya, ada kelebihan dan kekurangannya. Meski begitu, Bogor tetap nyaman untuk ditinggali orang Palembang kayak saya. Wilujeng sumping!<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Aulia Syafitri<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/keresahan-yang-saya-rasakan-sebagai-orang-palembang-di-bogor\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Keresahan yang Saya Rasakan Sebagai Orang Palembang di Bogor<\/a>.<\/strong><\/p>\n<div class=\"jeg_ad jeg_ad_article jnews_content_inline_2_ads \">\n<div class=\"ads-wrapper align-center \">\n<div class=\"ads_code\" style=\"text-align: left;\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Yang paling bikin kaget, Indomie goreng di Bogor beda sama Indomie goreng di Palembang!<\/p>\n","protected":false},"author":2152,"featured_media":229730,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[9819,2921,15853,7729],"class_list":["post-229710","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bogor","tag-culture-shock","tag-orang-palembang","tag-palembang"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/229710","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2152"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=229710"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/229710\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/229730"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=229710"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=229710"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=229710"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}