{"id":229596,"date":"2023-09-01T08:23:34","date_gmt":"2023-09-01T01:23:34","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=229596"},"modified":"2023-09-02T10:29:19","modified_gmt":"2023-09-02T03:29:19","slug":"jakarta-dan-sisi-gelapnya-prostitusi-di-balik-kampus-islami","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jakarta-dan-sisi-gelapnya-prostitusi-di-balik-kampus-islami\/","title":{"rendered":"Sisi Gelap Kampus Islami di Jakarta: Sarang Ayam Kampus dan Prostitusi yang \u201cTersembunyi\u201d"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa waktu yang lalu, bekas kampus saya di Jakarta masuk ke dalam daftar kampus terbaik di Indonesia. Kalau mengingat masa lalu, saya nggak habis pikir, deh. Jadi, setelah saya masuk kampus itu, ternyata ya nggak baik-baik banget.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu saja yang saya maksud bukan kampusnya. Kampus tersebut tetap salah satu yang terbaik di Indonesia. Fakta keras, no debat. Yang saya maksud adalah orang-orang di dalamnya: oknum mahasiswanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika mendapatkan informasi bahwa kampus di Jakarta itu menerima saya, bayangan pertama yang muncul di benak saya adalah \u201cnyantri\u201d. Bagaimana tidak, di benak saya, kampus itu mempunyai pesona agamis penuh ajaran Islam di mana semua mahasiswa meresapinya. Yah, mirip <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nanti-kita-cerita-tentang-pesantren-kilat-hari-ini\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pesantren kilat<\/a>, lah. Namun ternyata, kampus ini tidak sebaik yang orang-orang pikirkan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ulah oknum mahasiswa mematahkan bayangan saya yang indah akan kampus tercinta ini. Ternyata, ada sisi negatifnya juga. Seperti kata pepatah, \u201cSepintar-pintarnya menutup bangkai, baunya akan tercium juga.\u201d<\/span><\/p>\n<h2><b>Awal masuk ke sebuah kampus islami di Jakarta<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya masuk kampus tersebut pada 2014. Waktu masuk, saya nggak kaget-kaget banget sama mata kuliah yang ada di sini. Dulu, waktu menempuh pendidikan dasar dan menengah pertama, saya masuk ke Ibtidaiyah (SD) dan Tsanawiyah (SMP).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tahun pertama menjadi tahun yang berat bagi saya. Alasannya, saya harus mulai membiasakan kembali kebiasaan yang sudah lama saya tinggalkan waktu SMP, yaitu membaca Al-qur\u2019an. Meskipun demikian, saya merasa beruntung juga karena kampus di Jakarta itu mengarahkan saya untuk menjadi a good muslim.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masuk tahun kedua dan ketiga, saya semakin tidak merasa seperti anak kuliah yang bener. Saya jarang masuk kelas dan memilih untuk nongkrong dari satu fakultas ke fakultas lain. Nah, pada fase ini, saya menemukan temuan yang membuat saya sendiri tidak mempercayainya (awalnya).\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Sisi gelap kampus di Jakarta<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pasti pembaca sudah sangat memahami apa itu \u201c<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jangan-pernah-adili-pelakor-psk-dan-ayam-kampus\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ayam kampus<\/a>\u201d. Awalnya, saya tidak terlalu peduli dengan keberadaan mereka. Gimana ya, \u201cbermain wanita\u201d tidak pernah menjadi passion saya. Jujur saja, saat itu, mungkin saya adalah satu-satunya \u201corang cupu\u201d di circle saya di Jakarta. Entah apa sebabnya, ketertarikan saya terhadap wanita tidak seperti teman-teman saya yang lain.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat itu, yang paling saya sukai hanya mabuk dan nongkrong di depan Sekretariat Dewan Eksekutif Mahasiswa. Mabuk dan ngomongin orang. Kombinasi yang menyenangkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makanya, saya agak kaget ketika mengetahui ternyata kampus saya juga tidak luput dari cap \u201csarang ayam kampus\u201d. Saya mengetahui cap itu dari teman saya. Waktu kami sedang nongkrong, dengan bangganya dia bilang, \u201cGue semalam abis kelonan sama dia.\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sontak tongkrongan yang tadinya sepi karena sedang sibuk dengan gadget masing-masing, berubah menjadi heboh. Banyak pertanyaan muncul:\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSama siapa?\u201d, \u201cAnak fakultas mana?\u201d, \u201cMantep nggak?\u201d, \u201cMain di mana?\u201d, hingga \u201cSama si itu bukan?\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaan demi pertanyaan terus muncul hingga teman saya nggak bisa menjawab dengan lancar. Dia lalu duduk diam selama beberapa waktu, lalu mengeluarkan sebatang rokok. Kami semua kompak meletakkan gadget masing-masing dan siap mendengarkan ceritanya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Fakta yang membuat saya kaget<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selesai mendengarkan cerita teman saya, saya justru termenung. Bukan karena iri, tapi terkejut. Ternyata, kampus di Jakarta yang bernuansa agamis ini juga memiliki mahasiswa seperti itu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu saja kita nggak bisa menyalahkan kampusnya. Kampus tentu nggak bisa mengawasi mahasiswanya selama 24 jam. Lagian, mungkin, banyak kampus besar menyimpan sisi gelap yang sama. Saya rasa, cerita seperti ini juga ada di banyak kota besar selain Jakarta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, fakta yang membuat saya tertegun adalah ketika mengetahui \u201cayam kampus\u201d yang dimaksud adalah teman saya. Kenal baik malah. Tapi ya sudah. Saya tidak mau terlalu mengurusi karena itu kehidupan pribadi orang lain. Saya tidak punya hak untuk menghakimi. Lagian mereka juga tidak mengganggu kehidupan saya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Cap yang sudah melekat sejak lama<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Informasi yang saya dapat tadi ternyata bukan hal baru. Cap ini bahkan sudah ada sejak lama. Cuma saya saja yang nyatanya memang kurang update. Kata orang, kampus di Jakarta tersebut memang sudah terkenal sejak lama sebagai \u201csarangnya mahasiswi solehot\u201d.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya, banyak teman-teman dari kampus lain yang membenarkan anggapan itu. Bahkan ada juga yang bertanya kepada saya. Lebih tepatnya minta dikenalin. Ketika saya menolak, teman saya langsung kecewa. Katanya, \u201c<a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/jangan-jatuh-cinta-di-bandung\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sesekali nakal sama cewek, lah!<\/a>\u201d Hadeh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semakin banyak mendapatkan informasi, saya semakin penasaran. Akhirnya, atas nama penasaran, saya meneliti lebih jauh. Saya mulai bertanya-tanya. Rata-rata dari fakultas mana, semester berapa, dan tinggalnya di mana. Ternyata, para \u201csolehot\u201d ini kebanyakan yang berasal dari perantauan dan memilih untuk kos.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya mulai meneliti, kira-kira kalau di Jakarta, mereka tinggal di kos yang mana. Yang masuk akal, pasti mereka mencari kos yang bebas. Satu nama langsung muncul, yaitu Kos (SENSOR). Kita sebut saja \u201ckos itu\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ternyata dugaan saya benar. Di \u201ckos itu\u201d, mereka berkumpul. Bukan tempat berkumpul, sih. Lebih ke tempat di mana mereka \u201ctidak sengaja\u201d jadi berkumpul. Bukan tanpa alasan mereka berada di kos ini karena termasuk murah. Selain itu, nggak ada aturan yang ketat banget. Pokoknya bebas banget.<\/span><\/p>\n<h2><b>Tempat \u201cberkumpul\u201d yang menjadi legenda di Jakarta<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbagai macam jenis manusia ada di \u201ckos itu\u201d. Mulai dari pasangan suami-istri, pasangan anak-anak jalanan, pasangan yang \u201cmaksa\u201d untuk menjadi pasangan, mahasiswa-mahasiswi yang tinggal bareng, bahkan sampai gembong narkoba juga pernah tinggal di \u201ckos itu\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain \u201ckos itu\u201d, teman sekampus juga memberi informasi bahwa ada 1 tempat lagi \u201cuntuk berkumpul\u201d. Kita sebut saja \u201capartemen\u201d untuk kelonan anak muda yang berada di dekat kampus saya di Jakarta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cWah, yang itu kelas kakap!\u201d Ujar teman saya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah meneliti lebih lanjut, \u201capartemen\u201d ini punya \u201chubungan erat\u201d dengan salah satu aplikasi bernama <a href=\"https:\/\/www.viva.co.id\/digital\/digilife\/1458130-fakta-aplikasi-michat?page=all\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">MiChat<\/a>. Yah, kata orang, \u201capartemen\u201d ini sarangnya mereka yang biasa janjian pakai aplikasi itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cApartemen\u201d ini sebetulnya ya sama seperti apartemen di Jakarta pada umumnya. Namun, karena letaknya yang berada di pinggiran dan murah, \u201capartemen\u201d ini menjadi tujuan kelonan berbayar. Apalagi, di \u201capartemen\u201d ini kamu bisa menyewa secara shortime, yaitu per 3 jam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saking buruknya stigma yang melekat, setiap melihat orang yang kita kenal ada di sana, langsung kena tembak kalimat: \u201cHabis jajan, ya!\u201d Sialan, batin saya, karena ya nggak semua orang yang menginap di sana pasti jajan kelon.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebetulnya, ya, \u201capartemen\u201d dekat kampus saya di Jakarta itu nyaman dan enak untuk staycation. Tempatnya tuh rimbun pepohonan, bikin sejuk. Di sana ada kolam renang dan public space juga. Cocok banget untuk sekadar \u201cganti suasana\u201d selama beberapa waktu. Namun ya balik lagi. Pikiran-pikiran orang sudah kadung buruk terhadap tempat ini. Akibatnya tempat ini jadi sepi dan seperti kurang terawat.<\/span><\/p>\n<h2><b>Mari berpikir secara adil untuk kampus saya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oya, satu hal lagi, nggak cuma kos bebas yang menjadi melting pot kelon berbayar. <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/jbt\/fenomena-kos-lv-di-jogja-dicari-karena-bebas-bawa-pacar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kos eksklusif<\/a> ya ada juga yang menjadi tempat begituan. Mereka itu kayak kamuflase setelah mengedepankan privasi dan kenyamanan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak jauh beda sama apartemen, cuma skalanya lebih kecil saja. Sama-sama mempunyai sistem keamanan yang sulit ditembus. Tidak seperti kos biasa di mana aparat kalau mau menggerebek bisa langsung saja tanpa prosedur rumit seperti apartemen dan kos eksklusif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebetulnya, khususnya di Jakarta, apartemen sebagai melting pot kelon berbayar bukan rahasia lagi. Ada beberapa apartemen di daerah Depok, Ciledug, dan beberapa daerah di Jakarta Selatan khususnya, yang telah menyandang gelar \u201csarang PSK\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kos-kosan juga sama saja, sih. Nggak jauh beda menyandang cap jelek untuk kelon berbayar. Dan, nggak cuma kampus saya yang menjadi \u201ckorban\u201d di sini. Cuma, kebetulan, saya pernah kuliah di sana. Bisa jadi, ada pembaca yang mau spill the tea tentang prostitusi di sekitar kampus? Saya yakin bakalan seru. Hehe.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Saar Ailarang Abdullah<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/open-bo-via-michat-alternatif-prostitusi-bagi-mahasiswa-penjaja-cerita-seksual\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Open BO via MiChat, Alternatif Prostitusi Bagi Mahasiswa Penjaja Cerita Seksual<\/a><br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ulah oknum mahasiswa membuat nama baik kampus islami di Jakarta itu tercoreng. Sebuah fenomena yang kini sudah menjadi rahasia umum.<\/p>\n","protected":false},"author":2279,"featured_media":229597,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[20434,2154,20431,529,20433,20430,20432],"class_list":["post-229596","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-apartemen-prostitusi","tag-ayam-kampus","tag-harga-open-bo-di-jakarta","tag-jakarta","tag-kos-eksklusif","tag-prostitusi-di-jakarta","tag-prostitusi-kampus"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/229596","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2279"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=229596"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/229596\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/229597"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=229596"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=229596"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=229596"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}