{"id":22941,"date":"2019-12-16T13:00:06","date_gmt":"2019-12-16T06:00:06","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=22941"},"modified":"2019-12-16T13:22:34","modified_gmt":"2019-12-16T06:22:34","slug":"apa-cuma-saya-yang-malas-ikutan-giveaway","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/apa-cuma-saya-yang-malas-ikutan-giveaway\/","title":{"rendered":"Apa Cuma Saya yang Malas Ikutan Giveaway?"},"content":{"rendered":"<p>Sekarang banyak orang yang suka bagi-bagi hadiah secara gratis. Sepertinya mau menyaingi para pejabat yang suka bagi-bagi sembako gratis pada saat kampanye. Kita kenal bagi-bagi hadiah gratis ini dengan nama <em>giveaway<\/em>. Biasanya dilakukan oleh (tapi tidak selalu) para orang-orang yang disebut sebagai <em>influencer.<\/em><\/p>\n<p><em>Giveaway<\/em> ini dilakukan dengan berbagai alasan. Salah satunya untuk merayakan sesuatu. Misalnya, si <em>influencer<\/em> ini sudah mencapai jumlah <em>follower<\/em> tertentu. Dan dia ingin mengadakan <em>giveaway<\/em> untuk itu. Dan yang ikutan\u00a0ini biasanya selalu banyak.<\/p>\n<p>Siapa yang tidak suka barang gratis? Yang gratis itu selalu diminati. Apalagi orang Indonesia yang hobi nyambat sambil rebahan. Dan memang hal seperti itu manusiawi. Kenapa harus bayar kalau bisa dapat dengan cuma-cuma? Lumayan bisa hemat.<\/p>\n<p>Usaha-usaha yang membutuhkan promosi sepertinya memanfaatkan dengan baik fakta tersebut. Makanya sekarang sangat banyak yang menggunakan <em>giveaway<\/em> sebagai salah satu teknik pemasaran. Dengan memberikan barang &#8220;gratis&#8221;, bisa membuat barang atau jasa di-<em>notice<\/em> oleh orang banyak.<\/p>\n<p>Banyak orang akhirnya mau mengikuti sebuah <em>giveaway.<\/em> Toh juga tidak ada ruginya. Semuanya gratis, tidak keluar uang sepeser pun. Paling kuota internet yang berkurang. Itu pun tidak seberap, tidak sampai se-giga.<\/p>\n<p>Jangan remehkan pengaruh dari sebuah <em>giveaway. Giveaway<\/em> itu bisa jadi alat yang mampu menggerakan segenap netizen yang budiman. Beberapa kali sebuah isu bisa <em>trending<\/em> di Twitter karena <em>giveaway<\/em>. Hanya dengan iming-iming dikasih pulsa, sebuah postingan bisa di-<em>share<\/em> ramai-ramai sebagai syarat untuk bisa ikutan.<\/p>\n<p>Hadiahnya itu beragam. Syarat untuk ikutan juga tergantung hadiahnya. Semakin mahal hadiahnya, biasanya syarat untuk ikut <em>giveaway<\/em>-nya semakin susah. Dari sekadar retweet dan <em>share<\/em> (biasanya ini hadiah pulsa) sampai disuruh buat video YouTube (Raditya Dika pernah <em>giveaway<\/em> mobil dengan syarat tersebut).<\/p>\n<p>Walaupun hadiahnya ini memang menggiurkan, saya termasuk orang yang malas ikutan. Dan mungkin juga banyak orang lain yang berpikiran seperti itu.<\/p>\n<p>Ada beberapa hal yang bikin malas untuk ikutan. Salah satunya karena terlalu banyak persyaratan yang harus dipenuhi. Yang memang tidak salah. Tapi syarat yang banyak itu bikin saya malas. Misalnya, kalau mau ikut harus retweet, di-<em>posting<\/em> di Instastory. Sebenarnya syaratnya mudah saja, tidak sulit sama sekali. Tapi kita jadi ketahuan kalau sedang ikut <em>giveaway.<\/em> Dan itu jadi beban tersendiri: takut dibilang pemburu <em>giveaway.<\/em><\/p>\n<p>Yang bikin saya malas untuk <em>share<\/em> postingan sebagai syarat untuk ikutan adalah karena postingannya yang kadang provokatif. Apalagi hadiahnya cuma <a href=\"https:\/\/tirto.id\/cara-isi-ulang-pulsa-untuk-operator-telkomsel-dan-xl-ej9R\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">pulsa 25 ribu<\/a>. Hadiahnya tidak seberapa, dosanya ditanggung sampai akhirat.<\/p>\n<p>Syarat lain yang bikin saya malas ikutan adalah harus nge-<em>follow<\/em> akun-akun tertentu. Memang, <em>giveaway<\/em> ini sepertinya menjadi cara yang lumayan manjur untuk menambah <em>follower.<\/em> Kalau disuruh untuk <em>follow<\/em> satu akun, saya sih tidak masalah. Tapi tak jarang kita harus nge-<em>follow<\/em> beberapa akun medsos supaya bisa ikutan. Kalau akunnya memposting hal-hal yang bermanfaat sih juga tidak apa-apa. Tapi kalau isinya banyakan unfaedahnya, mending tidak usah.<\/p>\n<p>Hal lain yang juga bikin saya malas ikut <em>giveaway<\/em> adalah banyaknya orang yang juga ikutan. Bisa sampai ribuan yang berebut hadiah. Dan memang selalu seperti itu. Membayangkannya saja sudah bikin malas. Peluang untuk menang <em>giveaway<\/em> jadi sangat kecil.<\/p>\n<p>Walaupun begitu, saya juga pernah ikut <em>giveaway<\/em>. Tapi yang syaratnya tidak muluk-muluk. Dan hadiahnya juga memang saya sukai (buku). Akun-akun yang mengadakan <em>giveaway<\/em> buku biasanya persyaratannya tidak muluk-muluk. Bahkan kadang tidak perlu <em>follow<\/em> akun tersebut. Memberikan komen (biasanya alasan kenapa mau buku A, misalnya) saja sudah cukup. Dan Alhamdulillah, saya belum pernah dapat. Setidaknya sampai sebelum saya ikut kelas menulis WhatsApp yang diadakan oleh Mojok.<\/p>\n<p>Jadi, Mojok Institute itu mengadakan kelas menulis populer melalui WhatsApp. Pematerinya yang lalu itu ada Mas Agus Mulyadi sama Mbak Audian Laili. Materinya itu bagus-bagus (ini serius). Kelasnya juga terkontrol dengan baik. Tidak gaduh. Walaupun pesertanya banyak, tapi tetap nyaman untuk diikuti. Kelas menulis melalui WhatsApp terbaik yang pernah saya ikuti sejauh ini.<\/p>\n<p>Di kelas menulis ini, kita dapat tantangan menulis dari Mas Mois. Tema tulisannya waktu itu tentang kota asal. Karena saya dari desa, makanya saya menulis tentang kampung halaman saya. Dan tidak disangka-sangka, ternyata saya yang menang tantangan tersebut. Dan saya dapat hadiah sebuah buku.<\/p>\n<p>Ternyata memang <em>giveaway<\/em> itu menyenangkan (anggap saja ini <em>giveaway<\/em>). Apalagi kalau yang didapat bisa dobel. Sudah dapat ilmunya, dapat buku pula. Buku yang saya dapat adalah karya Eddward S. Kennedy, judulnya <em>Born Outlaw<\/em>. Setelah saya cek, ternyata harga bukunya itu 78 ribu. Kalau ditambah dengan ongkos kirim, bisa sekitar 100 ribu lebih. Hitung-hitungannya, saya jadi balik modal dari membayar 99 ribu untuk ikut kelas menulis ini. Bahkan untung banyak.<\/p>\n<p>Makanya saya bakal ikut kelas menulis fiksi lagi. Semoga saja dapat buku lagi.<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <\/strong><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/melihat-kegigihan-para-pejuang-giveaway-17-agustus-gigihnya-sampai-titik-kuota-penghabisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Melihat Kegigihan Para Pejuang Giveaway 17 Agustus, Gigihnya Sampai Titik Kuota Penghabisa<\/a>n atau tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/ikhdatmuhammad\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Muhammad Ikhdat Sakti Arief<\/a>\u00a0lainnya.<\/p>\n<p>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Syarat lain yang bikin saya malas karena harus nge-follow akun-akun tertentu. Memang, giveaway ini menjadi cara yang cukup manjur untuk nambah follower.<\/p>\n","protected":false},"author":36,"featured_media":23051,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[2571,102],"class_list":["post-22941","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-giveaway","tag-media-sosial"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22941","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/36"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=22941"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22941\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/23051"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=22941"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=22941"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=22941"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}