{"id":229098,"date":"2023-08-27T09:50:10","date_gmt":"2023-08-27T02:50:10","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=229098"},"modified":"2023-08-27T07:29:26","modified_gmt":"2023-08-27T00:29:26","slug":"khotbah-dari-bawah-mimbar-oleh-ahmad-khadafi-berdakwah-lewat-obrolan-sehari-hari","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/khotbah-dari-bawah-mimbar-oleh-ahmad-khadafi-berdakwah-lewat-obrolan-sehari-hari\/","title":{"rendered":"Khotbah dari Bawah Mimbar oleh Ahmad Khadafi: Berdakwah lewat Obrolan Sehari-hari"},"content":{"rendered":"<p><em>Khotbah dari Bawah Mimbar yang ditulis oleh Ahmad Khadafi terasa ringan dan segar ketika dibaca.<\/em><\/p>\n<p>Judul : Khotbah dari Bawah Mimbar<br \/>\nPenulis : Ahmad Khadafi<br \/>\nPenerbit : Buku Mojok<br \/>\nTahun Terbit : Cetakan kedua, 2021<br \/>\nTebal buku : 234 halaman<\/p>\n<p>\u201cSubuh kok pakai qunut, sih!\u201d<\/p>\n<p>Zaman saya kecil, saya juga termasuk salah satu manusia yang heran sama orang yang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/salat-subuh\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">salat subuh<\/a> menggunakan qunut. Waktu itu akses internet belum secanggih sekarang ini dan kebetulan saya besar di lingkungan Muhammadiyah, yah wajar saja kalau tidak mengenal doa qunut sampai saya berusia 10 tahun.<\/p>\n<p>Hingga suatu ketika, ada seorang ustaz tamu yang mengimami masjid di desa saya saat bulan Ramadan. Sudah tahu jamaahnya itu penganut aliran <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/muhammadiyah\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Muhammadiyah<\/a> semua, eh, sang imam justru salat subuh menggunakan doa qunut. Alhasil subuh pagi itu cukup gempar. Kami yang biasanya habis bangkit dari rukuk langsung sujud, pagi itu ada tambahan qunut-nya.<\/p>\n<p>Subuh itu bisa dibilang menjadi momen yang awkward banget. Gimana ya, soalnya tak sedikit jamaah yang telanjur sujud lalu kaget ketika sang imam membaca doa qunut. Ada yang mengintip ke depan atau ke samping dan akhirnya dengan malu-malu kembali bangkit berdiri. Saya dan anak-anak lain sebagai jamaah tim rusuh kala itu tentu tak kuasa menahan tawa cekikan di barisan belakang.<\/p>\n<h2><strong>Khotbah dari Bawah Mimbar bercerita soal Kiai Kholil yang berdakwah lewat obrolan sehari-hari<\/strong><\/h2>\n<p>Salah satu cerita dalam buku <em>Khotbah dari Bawah Mimbar<\/em> karya Ahmad Khadafi ini bercerita tentang Kiai Kholil yang setiap hari menggunakan doa qunut tiap subuh. Kiai Kholil lalu diundang mengimami masjid tetangga yang menganggap bahwa qunut itu bidah, membuat saya teringat akan kejadian dua puluh tahun lalu tersebut.<\/p>\n<p>Waktu itu memang belum zamannya orang bilang bidah, tapi perbedaan seperti ini sudah ada dan hal ini masih sering sekali diperdebatkan. Saya terkesima dengan keputusan yang diambil Kiai Kholil yang akhirnya memilih untuk tetap mengimami <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/masjid\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">masjid<\/a> tetangga, namun tidak menggunakan qunut karena menghargai jamaah di sana.<\/p>\n<p>\u201cHukum itu keyakinan kita bahwa doa qunut itu disarankan, tapi sikap hukum kita terhadap yang tidak melakukan itu, ya, baiknya biasa saja. Monggo aja kalau tidak mau melakukan. Itu hak masing-masing. Dan soal keputusanku yang nggak pakai doa qunut itu, ya, karena menghormati tuan rumah itu jauh lebih baik ketimbang mempertahankan kebiasaan yang nggak terlalu prinsipil,\u201d kata Kiai Kholil.- Hal 41.<\/p>\n<p>Selama ini mungkin kita terbiasa mendengar para kiai berkhotbah di atas mimbar. Tapi dalam buku <em>Khotbah dari Bawah Mimbar,<\/em> saya jadi paham bahwa berkhotbah tak harus di atas mimbar namun bisa juga dari bawah mimbar. Kiai Kholil dan anaknya, Gus Mut, merupakan ulama kampung yang menjawab beragam permasalahan keagamaan dengan cara yang adem, santun, dan sederhana sekali.<\/p>\n<p>Dalam buku ini ada juga tokoh Mas Is, Fanshuri, dan lainnya sebagai orang awam. Mereka suka mempertanyakan haram halal, boleh tidak, pahala dosa, serta diterima ditolak dalam beribadah.<\/p>\n<h2><strong>Kumpulan cerita pendek yang terinspirasi dari cerita Gus Baha<\/strong><\/h2>\n<p>Buku karya Ahmad Khadafi ini merupakan kumpulan cerita yang cukup pendek dan banyak terinspirasi dari cerita <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Ahmad_Bahauddin_Nursalim\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Gus Baha<\/a>. Menurut saya pribadi membaca cerita dalam <em>Khotbah dari Bawah Mimbar<\/em> vibes-nya kayak tengah mendengarkan pengajian NU.<\/p>\n<p>Gimana ya menjelaskannya? Yah, intinya, membaca buku ini tidak bikin ngantuk seperti membaca buku nonfiksi pada umumnya. Cerita dalam buku setebal 234 halaman ini cukup pendek. Satu masalah langsung disuguhkan satu penyelesaian. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, cara penyampaiannya itu seperti obrolan sederhana seorang teman yang berkunjung lalu ngobrol di teras rumah.<\/p>\n<p>Persoalan yang dibahas dalam <em>Khotbah dari Bawah Mimbar<\/em> juga cukup sederhana sekali dan relate dengan kehidupan sehari-hari. Cara penyampaian Kiai Kholil adem banget dan tidak ndakik-ndakik atau mengeluarkan banyak hadis dalam berkhotbah.<\/p>\n<p>Menurut saya, tujuan dari Kiai Kholil atau Gus Mut ini dalam menyampaikan khotbahnya karena menyesuaikan lawan bicaranya juga. Mungkin kalau terlalu ribet, perkataan beliau belum tentu bakalan diterima oleh Mas Is, Fanshuri, ataupun saya sebagai pembaca.<\/p>\n<p>Tapi beneran, lho, membaca buku karya Ahmad Khadafi ini euforianya seperti membaca <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/fiksi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">buku fiksi<\/a> tapi tetap kerasa banget nonfiksinya. Penghayatan ceritanya terasa, tapi pengetahuan ngajinya juga ngena. Kita terlalu diperdaya oleh cerita Kiai Kholil dan Gus Mut, hingga tak sadar kalau khotbah mereka berdua sampai hati jamaahnya tanpa mereka perlu naik mimbar.<\/p>\n<p>Penulis: Reni Soengkunie<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/khotbah\/khotbah-jumat-terlalu-lama-dan-stigma-yang-menyertainya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Khotbah Jumat Terlalu Lama dan Stigma yang Menyertainya<\/a>.<\/strong><\/p>\n<div class=\"jeg_ad jeg_ad_article jnews_content_inline_2_ads \">\n<div class=\"ads-wrapper align-center \">\n<div class=\"ads_code\" style=\"text-align: left;\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam buku Khotbah dari Bawah Mimbar, kita bakal membaca kisah Kiai Kholil dan warga kampung lainnya.<\/p>\n","protected":false},"author":32,"featured_media":229102,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13303],"tags":[20355,13327,20354,10060],"class_list":["post-229098","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-buku","tag-ahmad-khadafi","tag-buku-mojok","tag-khotbah-dari-bawah-mimbar","tag-review-buku"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/229098","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/32"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=229098"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/229098\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/229102"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=229098"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=229098"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=229098"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}