{"id":2287,"date":"2019-05-27T07:00:33","date_gmt":"2019-05-27T00:00:33","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=2287"},"modified":"2021-10-05T13:29:54","modified_gmt":"2021-10-05T06:29:54","slug":"antara-berwirausaha-dan-bekerja-setelah-wisuda","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/antara-berwirausaha-dan-bekerja-setelah-wisuda\/","title":{"rendered":"Antara Berwirausaha dan Bekerja Setelah Wisuda"},"content":{"rendered":"<p>Sewaktu SMP, salah satu guru pernah berpesan, \u201cJika kalian nanti bisa belajar sampai dengan sarjana, baiknya nanti kalian yang menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain. Agar gelar kalian bisa bermanfaat\u201d. Saya ingat betul pesan ini, karena kala itu saya sedang datang terlambat dan diminta untuk duduk di depan. Sehingga kesempatan mengobrol di bangku paling belakang pun seketika sirna.<\/p>\n<p>Wejangan itu membekas di benak dan seakan mendoktrin saya, agar ketika mendapatkan gelar sarjana, saya harus berwirausaha\u2014apa pun itu. Saya berharap supaya orang lain yang kesulitan bekerja di suatu perusahaan bisa ditampung di badan usaha milik saya pribadi\u2014paling tidak, idealnya seperti itu. Kemudian yang menjadi permasalahannya adalah saya merasa tidak memiliki bakat jualan atau menjadi seorang <em>marketer<\/em>.<\/p>\n<p>Saat duduk di bangku perkuliahan, saya yang memiliki sahabat di jurusan Ekonomi mulai membuka obrolan tentang masa depan kami selepas lulus kuliah. Lalu dengan mantap, teman saya lebih memilih berwirausaha dibanding <a href=\"https:\/\/tirto.id\/penyakit-yang-rajin-menghinggapi-pegawai-kantoran-claW\">bekerja kantoran<\/a>\u2014menjadi karyawan sekaligus bawahan bagi atasan di suatu perusahaan. Sampai pada poin ini, saya tidak ada masalah dengan apa yang diyakini sahabat saya, sebab itu sebuah pilihan.<\/p>\n<p>Pada situasi yang berbeda, teman saya yang lain melayangkan <em>statement<\/em> yang membuat saya mengerenyitkan dahi, \u201cLebih keren juga buka usaha, pemasukan lebih besar, enak tinggal nunggu yang beli datang\u201d. Saat itu saya tidak langsung mennyangkal hal yang dia katakan. Bukan karena merasa dia benar atau takut menimpali, tapi lebih kepada siapa tau kelak dia memang bisa menjalankan usahanya dan menjadi seseorang yang kaya dengan berwirausaha. Apalagi jika dia memiliki <em>skill<\/em> berjualan yang mumpuni.<\/p>\n<p>Memang, rentang tahun 2013-2018 rasa-rasanya sedang <em>hype<\/em> sekali kata <em>entrepreneur<\/em>, sehingga tidak heran pada kurun waktu tersebut, sedang marak seminar tentang <em>entrepreneurship<\/em>\u2014paling tidak di lingkar pertemanan saya. Saya yang ketika itu sedang fokus belajar di bangku perkuliahan dan di jurusan yang saya minati, berada di antara ingin mencoba berwirausaha atau bekerja di kantor saja, menjadi karyawan biasa yang bekerja sesuai dengan <em>passion<\/em>-nya.<\/p>\n<p>Akhirnya sambil bekerja kantoran, saya mencoba untuk membuat <a href=\"https:\/\/mojok.co\/red\/rame\/kilas\/bicara-tentang-bisnis-digital-jokowi-sindir-prabowo-soal-unicorn-yang-online-online-itu\/\">bisnis <em>online<\/em><\/a> kecil-kecilan\u2014memaksa diri sekaligus ingin merasakan bagaimana rasanya berjualan. Ketika itu yang saya jual adalah kaos dengan desain yang dibuat sendiri. Namun pada kenyataannya saya cukup kesulitan. Dengan modal yang tidak sedikit, penjualan pun tidak sesuai harapan.<br \/>\nSaya langsung menyerah dan langsung menyadari, berjualan itu perlu keuletan juga usaha.<\/p>\n<p>Kendala lain saat berwirausaha adalah saat orang di sekitar kita meminta dan ingin membeli dengan \u201charga teman\u201d. Padahal jika mereka paham, tidak ada istilah harga teman. Kalau mau mendukung usaha teman, seharusnya mereka bisa membeli dengan harga sepantasnya\u2014sebagai bentuk dukungan kepada teman terhadap usaha yang sedang dirintis.<\/p>\n<p>Teman saya justru lain cerita, dia yang memang memiliki minat yang cukup tinggi untuk bewirausaha, sempat beberapa kali mengalami pasang dan surut dari segi pendapatan. Tidak seperti saya, dia pantang menyerah, sehingga usahanya kini mulai stabil. Dia pun sempat berbagi cerita bahwa jika memang niat berwirausaha, tidak perlu memikirkan untung dan ruginya terlebih dahulu, yang penting jalani saja dengan tetap memperhitungan pemasukan dan pengeluaran agar neraca usaha tetap berimbang.<\/p>\n<p>Berkaca dari beberapa kendala yang ada saat mencoba berwirausaha, akhirnya saya kembali bekerja dengan penuh gairah dan belajar mencintai apa yang saya kerjakan. Paling tidak, itu merupakan pilihan ketika saya belum bisa mengerjakan apa yang saya cintai. Menyikapi persoalan lebih baik bekerja atau berwirausaha, bagi saya itu hanya pilihan. Terpenting, bisa menjalani sesuai dengan panggilan hati dan suka cita.<\/p>\n<p>Untuk Ibu guru yang sudah memberi amanat ciptakan lapangan kerja dengan membuka usaha, mohon maaf saat ini saya belum bisa mewujudkan amanah dari Ibu, tapi saya belum sepenuhnya menyerah dan masih menyimpan asa untuk berwirausaha agar dapat mengabulkan harapan tersebut.<\/p>\n<p>Setidaknya saat ini saya sudah bekerja di bidang yang memang saya cintai dan merasa bahagia menjalani lelah dan penat selama bekerja\u2014di mana perjalanan saat bekerja seperti sedang <em>travelling<\/em> dan liburan, lalu beban pekerjaan seperti <em>game<\/em> yang harus diselesaikan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Wejangan itu membekas di benak dan seakan mendoktrin saya, agar ketika mendapatkan gelar sarjana, saya harus berwirausaha \u2014 apa pun itu.<\/p>\n","protected":false},"author":24,"featured_media":2298,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[73,604,603,602],"class_list":["post-2287","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-cari-kerja","tag-fresh-graduate","tag-kerja-kantoran","tag-wirausaha"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2287","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/24"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2287"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2287\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2298"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2287"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2287"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2287"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}