{"id":228584,"date":"2023-08-22T12:40:09","date_gmt":"2023-08-22T05:40:09","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=228584"},"modified":"2023-08-22T12:08:46","modified_gmt":"2023-08-22T05:08:46","slug":"perempuan-sunda-katanya-matre-dan-stereotipe-keliru-lainnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/perempuan-sunda-katanya-matre-dan-stereotipe-keliru-lainnya\/","title":{"rendered":"Meluruskan Stereotipe Terkait Perempuan Sunda yang Katanya Matre, Gemar Dandan, hingga Malas Masak"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada banyak stereotipe yang biasanya disematkan kepada suku tertentu di Indonesia. Misalnya suku Minang yang pelit, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/batak\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Batak<\/a> yang kasar, atau Sunda yang malas. Selain malas, ada juga stereotipe yang disematkan khusus kepada para perempuan Sunda, yaitu matre atau materialistis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa antropolog mencoba mengungkap alasan ini, salah satunya adalah Notty J Mahdi. Menurut pendapatnya, mitos atau stereotipe ini pada awalnya muncul dari pemahaman orang Jawa terhadap perempuan sunda.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Katanya perempuan Sunda pemalas dan lebih suka dandan<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang-orang Jawa pada zaman dahulu memiliki pemahaman bahwa perempuan Sunda tidak pandai mengelola keuangan akibat kebiasaan mereka yang gemar merias diri atau berdandan. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, perempuan Sunda juga sering digambarkan sebagai perempuan yang malas, tidak bisa memasak, tidak sopan, tidak bisa mengurus <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/rumah-tangga\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">rumah tangga<\/a>, dan lain sebagainya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anggapan ini bermula dari kunjungan masyarakat Jawa ke Tanah Pasundan. Saat itu mereka melihat kebanyakan perempuan Sunda hanya duduk-duduk dan berdandan di bal<\/span>\u00e9<span style=\"font-weight: 400;\">-bal\u00e9 (depan rumah) sambil berdandan. Hal ini tidak seperti kebiasaan perempuan Jawa yang dikenal ulet dan rajin.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Perempuan Sunda malas masak? Ah, nggak gitu!<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya saya memiliki argumen-argumen lain dari setiap tuduhan yang disematkan kepada perempuan Sunda ini. Misalnya tentang perempuan Sunda yang malas memasak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbeda dengan suku-suku lain dalam hal kuliner, masyarakat di Tanah Pasundan ini memang cenderung tidak banyak menggunakan teknik-teknik yang rumit. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Namun ini sama sekali bukan karena kemalasan atau ketidakmampuan perempuan Sunda dalam <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/masak\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">memasak<\/a>. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini terjadi karena keanekaragaman bahan makanan yang melimpah dan dapat diolah menjadi makanan di Tanah Pasundan ketika itu. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Proses untuk mendapatkan bahan makanan itu pun tidak sulit. Bahan makanan bisa didapat dari sekitar rumah atau dari kebun yang tidak jauh dari rumah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi orang Sunda, dalam satu petak kebun saja, bisa ada lebih dari 10 jenis tanaman yang dapat dimasak menjadi makanan di meja makan. Entah itu buah, <a href=\"https:\/\/www.halodoc.com\/artikel\/kenali-7-jenis-umbi-umbian-yang-bermanfaat-bagi-kesehatan\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">umbi-umbian<\/a>, atau sayur-sayuran. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, sekalipun teknik yang digunakan hanya dengan cara menumis atau merebus, setiap hari perempuan Sunda dapat menghidangkan makanan yang berbeda-beda di meja makannya.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Orang Sunda bukannya nggak sopan, tapi&#8230;<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Stereotipe selanjutnya yang perlu diluruskan adalah perempuan Sunda yang tidak sopan. Ketidaksopanan ini mungkin terjadi ketika parameter kesopanan di masyarakat Jawa dicocokkan dengan parameter kesopanan yang ada di masyarakat Sunda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi begini, dalam hal banyol atau bercanda, masyarakat Sunda, baik perempuan atau laki-laki, memang terbiasa membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan seksualitas. Yang mana bagi sebagian suku lain di Indonesia termasuk Jawa, pembicaraan ini merupakan hal yang tabu. <\/span><a href=\"https:\/\/www.pikiran-rakyat.com\/gaya-hidup\/pr-01295445\/cawokah-humor-sunda-yang-bukan-porno-422118\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">Cawokah <\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">adalah istilah untuk candaan-candaan bernada seksualitas ini masih bisa dideteksi hingga sekarang lewat cerita folklor atau lirik lagu dalam musik-musik Sunda.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Perempuan Sunda matre? Benarkah?<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Stereotipe tentang matrenya perempuan Sunda juga sering kali dikaitkan dengan biaya pernikahan yang mahal. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Mahal atau tidaknya pernikahan sebenarnya relatif, karena hampir semua suku juga memiliki tradisi dan adat sendiri dalam merayakan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/pernikahan\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pernikahan<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perlu menjadi catatan bahwa biaya pernikahan masyarakat Sunda itu tidak ada pedoman tunggalnya. Bisa saja daerah yang satu dengan daerah yang lain berbeda adat dan tradisi meskipun sama-sama berada di Tanah Pasundan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya, masyarakat di wilayah Kabupaten Sumedang bagian selatan memiliki tradisi pihak perempuan menanggung semua biaya pernikahan mulai dari dekorasi, makanan, dan perlengkapan pesta lainnya. Laki-laki di wilayah ini hanya perlu menyiapkan uang untuk membayar administrasi pernikahan di KUA, mas kawin, dan barang-barang bawaan untuk <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">seserahan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini berbeda dengan masyarakat di sebagian wilayah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/garut\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kabupaten Garut<\/a> bagian utara. Di sini pihak perempuan tidak perlu menyiapkan dana untuk menyelenggarakan pesta pernikahan. Sebab, pihak laki-laki yang akan membayar biaya tersebut. Konsekuensinya, barang bawaan untuk seserahan yang dibawa menjadi lebih sederhana dan sedikit.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Biaya pernikahan dan budaya m\u00e9r\u00e9<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Biaya pernikahan yang katanya mahal ini pun sebenarnya ditopang dengan budaya <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">m\u00e9r\u00e9 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">di masyarakat Sunda yang biasa dimulai sejak satu atau dua bulan sebelum pernikahan. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua keluarga, baik pihak perempuan maupun laki-laki, biasanya akan melakukan semacam <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">open house<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> di rumahnya untuk menerima sumbangan berupa uang atau bahan makanan dari tetangga, kerabat, atau saudara untuk memenuhi biaya <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/pesta-pernikahan\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pesta pernikahan<\/a> tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Biaya pesta yang mahal ini bukan hal yang besar dan tidak perlu menjadi halangan bagi mereka yang ingin menikah dengan adat Sunda. Sebab, yang wajib adalah menikahnya, bukan pestanya. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Makanya komunikasi antara kedua pihak keluarga lebih utama ketimbang memaksakan pesta yang megah tapi sengsara setelahnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya, meski stereotipe di atas bisa dibantah, sebaiknya dijadikan pemicu para perempuan Sunda agar dapat meningkatkan kualitas diri. Semoga setelah ini stereotipe keliru seperti di atas tidak terdengar lagi.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Yaser Fahrizal Damar Utama<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/panduan-menggunakan-panggilan-eneng-teteh-ceuceu-dan-nyai-kepada-perempuan-sunda\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Panduan Menggunakan Panggilan \u2018Eneng\u2019, \u2018Teteh\u2019, \u2018Ceuceu\u2019, dan \u2018Nyai\u2019 kepada Perempuan Sunda<\/a>.<\/strong><\/p>\n<div class=\"jeg_ad jeg_ad_article jnews_content_inline_2_ads \">\n<div class=\"ads-wrapper align-center \">\n<div class=\"ads_code\" style=\"text-align: left;\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Konon, stereotipe perempuan Sunda malas ini muncul gara-gara mereka terlihat cuma duduk-duduk di bale-bale rumah dan merias diri.<\/p>\n","protected":false},"author":599,"featured_media":228679,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[122,10071,19048,7012,1152],"class_list":["post-228584","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-perempuan","tag-perempuan-sunda","tag-stereotipe","tag-suku-sunda","tag-sunda"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/228584","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/599"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=228584"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/228584\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/228679"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=228584"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=228584"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=228584"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}