{"id":228397,"date":"2023-08-20T09:50:25","date_gmt":"2023-08-20T02:50:25","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=228397"},"modified":"2023-08-20T07:47:24","modified_gmt":"2023-08-20T00:47:24","slug":"panduan-bahasa-tegal-biar-ngapak-makin-kepenak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/panduan-bahasa-tegal-biar-ngapak-makin-kepenak\/","title":{"rendered":"Panduan Penggunaan Bahasa Tegal biar Ngapak Makin Kepenak"},"content":{"rendered":"<p><em>Panduan singkat buat kalian yang pengin ngobrol pakai bahasa Tegal biar makin ngapak!<\/em><\/p>\n<p>Saat singgah ke daerah lain, orang Tegal dapat dikenali dengan mudah dari logat bicaranya. Tak jarang, obrolan sesama orang Tegal di perantauan bakal menarik perhatian orang-orang di sekeliling. Bisa jadi, bahasa Tegal terdengar selucu itu di telinga orang asing. Tak heran jika kemudian bahasa Tegal kerap dimunculkan dalam sebuah film atau <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/sinetron\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">sinetron<\/a>.<\/p>\n<p>Soal penggunaan bahasa Tegal di sejumlah sinetron atau film, tentu saja itu adalah hal yang bagus. Sebab bisa jadi semakin dikenal oleh masyarakat luas, meskipun kadang saya agak geli juga. Terutama kalau penuturnya bukan orang Tegal asli. Gimana, ya? Terkesan asal ngapak aja gitu.<\/p>\n<p>Kalau mau ngomong pakai bahasa Tegal, mending baca dulu panduan berikut biar ngapak makin kepenak.<\/p>\n<h2><strong>Gunakan huruf vocal \u2018a\u2019 bukan \u2018o\u2019<\/strong><\/h2>\n<p>Ilmu dasar penggunaan bahasa Tegal adalah tetap mempertahankan huruf \u2018a\u2019 pada kata-katanya. Maksud saya begini, kebanyakan bahasa daerah di<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/jawa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> Jawa<\/a> mengubah huruf \u2018a\u2019 menjadi \u2018o\u2019. Teka (datang) jadi teko, lara (sakit) jadi loro, dll.<\/p>\n<p>Nah, dalam bahasa Tegal, huruf \u2018a\u2019 tetap dibaca sebagai huruf \u2018a\u2019. Misalnya pada kalimat \u201caja kaya patung\u201d, yang berarti jangan seperti patung. Jika diucapkan menggunakan bahasa Tegal, maka pelafalannya tetap &#8220;aja kaya patung&#8221;, bukan berubah menjadi &#8220;ojo koyo patung&#8221;.<\/p>\n<p>Kata-kata lain yang juga diucapkan dengan menggunakan huruf vokal \u2018a\u2019 alih-alih \u2018o\u2019, misalnya: tua (tua) bukan tuo, lunga (pergi) bukan lungo, ana (ada) bukan ono, pada (sama) bukan podho, apa (apa) bukan opo, dan masih banyak yang lainnya.<\/p>\n<p>Efek tidak mengubah huruf \u2018a\u2019 menjadi huruf \u2018o\u2019 itulah yang kemudian membuat bahasa Tegal terdengar ngapak.<\/p>\n<h2><strong>Gunakan huruf \u2018d\u2019 sebagai akhiran<\/strong><\/h2>\n<p>Selain tetap menggunakan huruf \u2018a\u2019 dalam pelafalannya, beberapa kosakata bahasa Tegal juga cenderung menggunakan huruf \u2018d\u2019 sebagai akhiran daripada huruf \u2018t\u2019. Contoh: ketika melihat situasi atau hal yang tidak terkendali dan berantakan, orang Tegal akan mendeskripsikannya dengan kata &#8220;semrawud&#8221;. Ingat, semrawud, bukan semrawut.<\/p>\n<p>Atau, ketika melihat api yang berkobar-kobar. Istilah yang digunakan untuk menggambarkan kobaran api tersebut adalah mulad-mulad. Lagi-lagi menggunakan akhiran \u2018d\u2019, bukan \u2018t\u2019. Kata lainnya yaitu senud-senud untuk menggambarkan sakit kepala, lemud yang berarti nyamuk, dan masih banyak yang lain.<\/p>\n<p>Sama seperti panduan nomor 1, penggunaan akhiran \u2018d\u2019 ini juga membuat penutur terdengar Tegal banget~<\/p>\n<h2><strong>Ucapkan dengan tegas dan cepat<\/strong><\/h2>\n<p>Selanjutnya, penggunaan bahasa Tegal yang benar yaitu diucapkan dengan tegas dan cenderung cepat. Itu sebabnya ketika melihat dua <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Penutur_jati#:~:text=Penutur%20jati%20disebut%20juga%20sebagai,alami%20di%20lingkungan%20pribumi%20mereka.\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">penutur asli<\/a> Tegal sedang terlibat obrolan seru, warga luar daerah sering mengira bahwa kedua penutur tersebut sedang berantem. Maklum, keduanya sama-sama terlihat nge-gas. Padahal memang begitulah ciri khas bahasa Tegal. Tegas, keras, lugas, dan cenderung diucapkan dengan tempo yang cepat.<\/p>\n<p>Selain diucapkan dengan tegas dan cepat, penggunaan kata yang berkonotasi negatif juga jadi hal yang biasa. Kata-kata seperti &#8220;bangsat&#8221;, &#8220;raimu&#8221;, bahkan &#8220;asu&#8221; adalah simbol keakraban dalam hubungan pertemanan. Yah, mirip-miriplah dengan panggilan kasih sayang. Menariknya lagi, panggilan kasih sayang ini nggak cukup hanya dipilih salah satunya saja, tapi, dijentreng semua.<\/p>\n<p>\u201cBangsat, Raimu, Nyet! Maring endi bae, sih?! Nyong wis ngenteni awit mau, asu!\u201d ucap Darmad saat Kipli baru datang setelah tiga jam Darmad menunggu,<\/p>\n<h2><strong>Gunakan istilah kekerabatan dalam bahasa Tegal<\/strong><\/h2>\n<p>Biar ngapak makin kaffah, gunakan juga istilah-istilah kekerabatan yang ada dalam bahasa Tegal. Yakni &#8220;jok&#8221; untuk menyebut ibu, &#8220;jasak&#8221; untuk bapak, &#8220;yarik&#8221; untuk adik, dan &#8220;sahang&#8221; untuk menyebut kakak.<\/p>\n<p>Contoh kalimatnya begini:<\/p>\n<p><em>\u201cYarike ente lagi apa, Mad? Awit mau ndekem bae neng kamar.\u201d<\/em><\/p>\n<p><em>(Adik kamu sedang apa, Mad? Dari tadi di kamar aja)<\/em><\/p>\n<p>Jangan lupa lengkapi dengan kosakata bahasa Tegal yang ada di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/12-kosakata-bahasa-tegal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">tulisan ini<\/a>.<\/p>\n<h2><strong>Kosakata yang tidak ada dalam bahasa Tegal<\/strong><\/h2>\n<p>Terakhir, biar ngapak kalian makin kepenak, penting juga untuk mengetahui kosakata apa yang tidak ada di Tegal. Kan nggak lucu kalau ngomong bahasa Tegalnya dicampur dengan bahasa Indonesia. Jadi, silakan diingat-ingat, ya, di Tegal tidak ada kata &#8220;sayur&#8221;. Untuk makanan berkuah ini, wong Tegal menyebutnya dengan nama &#8220;jangan&#8221;.<\/p>\n<p>\u201cDina kie Yu Jenah masak werna-werna nemen. Ana jangan sop, jangan bayem, jangan lodeh, jangan opor ya ana.\u201d Lapor seorang bapak pada istrinya yang sedang malas memasak.<\/p>\n<p>Kata lain yang tidak ada di bahasa Tegal yaitu <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/sarapan\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">&#8220;sarapan&#8221;<\/a>. Sebagai gantinya, kami punya istilah &#8220;mangan&#8221; ataupun &#8220;madang&#8221;. Nah, kalau mau ngledek orang yang dikit-dikit makan dikit-dikit makan, istilah yang biasa dipakai yaitu &#8220;tlempos&#8221; atau &#8220;mbadogan&#8221;.<\/p>\n<p>\u201cTlempos nemen sih koen. Mbadogan bae!\u201d Ucapkan ini pada temenmu yang baru lima menit lalu makan bakso, ehhh udah mau goput seblak aja.<\/p>\n<p>Itulah panduan singkat penggunaan bahasa Tegal bagi kalian yang bukan penutur asli. Dengan membaca dan menerapkan panduan ini, kamu siap untuk berbahasa Tegal dengan ngapak dan kepenak.<\/p>\n<p>Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/12-kosakata-bahasa-tegal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">12 Kosakata Bahasa Tegal yang Biasa Digunakan dalam Percakapan Sehari-hari<\/a>.<\/strong><\/p>\n<div class=\"jeg_ad jeg_ad_article jnews_content_inline_2_ads \">\n<div class=\"ads-wrapper align-center \">\n<div class=\"ads_code\" style=\"text-align: left;\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebelum cas cis cus ngobrol dalam bahasa Tegal, baca dulu panduan singkat berikut ini biar ngapakmu makin kepenak~<\/p>\n","protected":false},"author":613,"featured_media":228402,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[3203,20280,724],"class_list":["post-228397","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bahasa-ngapak","tag-bahasa-tegal","tag-ngapak"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/228397","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/613"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=228397"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/228397\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/228402"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=228397"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=228397"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=228397"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}