{"id":2281,"date":"2019-05-28T03:30:21","date_gmt":"2019-05-27T20:30:21","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=2281"},"modified":"2021-10-05T13:24:46","modified_gmt":"2021-10-05T06:24:46","slug":"curhatan-seorang-timur-yang-menyesal-iri-pada-jawa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/curhatan-seorang-timur-yang-menyesal-iri-pada-jawa\/","title":{"rendered":"Curhatan Seorang Timur yang Menyesal Iri pada Jawa"},"content":{"rendered":"<p>Terhitung sejak saya menginjak bangku SD barangkali, Jawa selalu dideskripsikan sebagai pusat kemajuan di Indonesia. Jika mau pendidikan bermutu, <em>sekolah ko ke Jawa<\/em>. Jika mau barang-barang-barang murah, <em>pergi ko beli ke Jawa<\/em>. Apa-apa harus di Jawa.\u00a0 Ibu kota negara, penduduk terbesar, presidennya siapa\u2014pasti tidak akan lepas dari Jawa.<\/p>\n<p>Bahkan dalam urusan Pilpres sekali pun, siapa pun calon yang mampu menang di Jawa pasti dia yang jadi presiden. Terbukti kan di 2019? Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua cuma daerah pelengkap pemilu saja.<\/p>\n<p>Indonesia terbentang dari Sabang sampai Merauke. Saya merasa hanya sebagai jargon omong kosong belaka. Ujung-ujungnya pemerintah pusat itu pilih kasih. Jawa saja yang diperhatikan. Bahkan media pun begitu\u2014yang pasti bukan mojok lah.<\/p>\n<p>Bayangkan saja, kalo ada pohon tumbang di Jawa pasti kena liput media. Kalo di Timur, saat ada desa tidak punya listrik, susah dapat air, jalan aspal belum ada. <a href=\"https:\/\/tirto.id\/media-siluman-di-papua-propaganda-hoaks-hingga-narasumber-fiktif-da5B\"><em>Media mo liput<\/em>, aduh hanya mimpi<\/a>\u2014kasihan. Rasanya, pohon tumbang itu lebih penting diberitakan ketimbang nasib rasa nasionalisme orang-orang Timur yang sedikit lagi tumbang akibat kurang diperhatikan.<\/p>\n<p>Saya jadi punya usul di pemilu ke depannya\u2014orang Jawa harus memberi peluang orang Timur dulu untuk mencalonkan diri\u00a0 jadi presiden. Jangan ada Jawa yang mencalonkan <span style=\"text-decoration: line-through;\">termasuk Prabowo<\/span>. Siapa tahu kalo presidennya orang Timur bisa jadi kawasan timur nantinya lebih diperhatikan. Tapi kasian <span style=\"text-decoration: line-through;\">Prabowo<\/span> kalo begitu. Sudah tiga kali gagal bro~\u00a0 Kalo semua dari Timur yang mencalonkan, bisa-bisa gagal untuk ke empat kalinya tidak terwujud. Kan tidak lucu toh?<\/p>\n<p>Kenapa Jawa lebih maju dari daerah kami? Pertanyaan yang selalu mengiris hati saya. Begitulah akumulusi kejengkelan saya. Saya mengaku sangat iri pada Jawa. Coba seandainya pembangunan kawasan Timur semaju di Jawa\u2014mana mungkin RMS dan OPM mau berontak. Sudah sejahtera kok, apa artinya <em>mo<\/em> angkat senjata.<\/p>\n<p>Jadi kepada Pemerintah Pusat, kalo mo lawan OPM tidak mesti pake senjata melulu\u2014cukup sejahterakan rakyat Papua. Kalo jalan sudah dibangun, terus gerakan bersenjata masih ada. Berarti jalan yang dibangun belum cukup bikin sejahtera rakyat Papua.<\/p>\n<p>Emas, Nikel, Aspal dikais dari tanah kami. Puluhan tahun lamanya digarap. Hasilnya mana? Kok pembangunan belum nampak. Pasti hasilnya semua lari ke Jawa\u2014itu anggapan \u00a0saya.<\/p>\n<p>Bahkan saya sampai beranggapan lagi, kayaknya akan lebih bagus jika Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua bikin negara sendiri saja. Tapi kalo saya ingat sejarah Sumpah Pemuda, niatan saya jadi ciut. Kasian perjuangan Jong\u00a0 Zelebes dan Jong Ambon sebagai perwakilan Timur pada Kongres Pemuda I dan II. Arwah mereka pasti tidak tenang kalo para penerusnya akan mencoba mengingkari ikrar Sumpah Pemuda. Pokoknya, NKRI\u2014mau tidak mau harus\u2014harga mati.<\/p>\n<p>Sejengkel-jengkelnya saya kepada Jawa tapi saya tidak bisa menafikan keinginan untuk menginjakan kaki di Tanah Jawa. Mengunjungi beberapa tempat seperti Borobudur, Bromo, Monas dan beberapa tempat lainnya\u2014kesempatan itu akhirnya datang juga. Saya memutuskan untuk Kuliah Praktek (KP) di Jawa Barat pada 2 tahun lalu. Selama 45 hari saya menghabiskan waktu di tempat KP.<\/p>\n<p>Untuk sampai di tanah Jawa, saya tidak memilih jalur langsung demi sampai di Jawa Barat. Pesawat yang saya tumpangi hanya mengantarkan saya di Surabaya. Kemudian saya melanjutkan perjalanan darat dengan menaiki bis lintas propinsi.\u00a0 Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta saya lalui hingga sampai di Jawa Barat. Selama perjalanan ini banyak hal yang saya jumpai dan jarang terjadi di daerah asal saya di Sulawesi. Pengamen, pengasong, calo, gelandangan, pengemis menyita perhatian saya selama perjalanan. Kalau jumlah 1 dua orang saya masih anggap wajar\u2014di Sulawesi juga kadang ada sebagian\u2014tapi jumlah yang saya saksikan di Jawa melebihi jumlah kewajaran.<\/p>\n<p>Parahnya ada satu momen, sewaktu saya berkesempatan istirahat makan di sebuah warung makan samping jalan.\u00a0 Pada saat makan tanpa sengaja saya menjatuhkan lauk (tahu) dari dalam piring saya. Saya langsung menggantinya dengan lauk baru yang disediakan oleh pemilik warung. Selang beberapa waktu, saya merasa ada gerak-gerik di bawah meja tempat saya makan. Awalnya, saya mengira kucing yang mengais sisa-sisa makanan termasuk tahu saya yang jatuh. Tapi di luar dugaan, gerak-gerik yang mengusik saya tadi ditimbulkan oleh tangan seorang nenek-nenek yang coba menjangkau tahu yang saya jatuhkan dan lalu memakannya.<\/p>\n<p>Saya dan beberapa kawan dari Sulawesi langsung terdiam. Salah satu kawan bergerak cepat membelikan makanan\u00a0 yang layak untuk diberi ke nenek. Saya terheran-heran\u2014kok bisa ya?<\/p>\n<p>Tanah yang ditinggi-tinggikan, karena perkembangan pembangunannya. Diagung-agungkan karena banyak tempat pendidikan bermutunya. Tanah yang buat kami dari Timur iri karena setiap presiden Indonesia\u2014selain <a href=\"https:\/\/mojok.co\/red\/ulasan\/pojokan\/perjalanan-hidup-bj-habibie\/\">BJ. Habibie<\/a>\u2014pasti seorang yang lahir dari tanah ini. Kenapa bisa?<\/p>\n<p>Lantas saya bertanya ke pemilik warung, &#8220;Kok bisa ada nenek kaya tadi, Tante?&#8221;<\/p>\n<p>Pemilik warung memberi jawab. \u201cYang seperti tadi, di sini udah biasa, Mas.\u201d Jawaban yang menandakan sebuah kelumrahan.<\/p>\n<p>Kok bisa?\u2014pertanyaan yang masih sama terngiang-ngiang dalam kepala. Saya benci dominasi Jawa di Indonesia. Saya yakin bukan hanya saya\u2014masih banyak yang sepemikiran dengan saya terkhusus mereka-mereka yang berasal dari luar Jawa yang daerah mereka sangat tertinggal.<\/p>\n<p>Tapi setelah menyaksikan fakta-fakta di Jawa. Saya kok jadi malah kasihan pada orang-orang di Jawa. Yang miskin dan tertinggal sebenarnya di mana? Di Timur memang tertinggal pembangunan dan pendidikannya tapi persoalan makanan, saya merasa masyarakat Timur tidak susah dapat makan, tinggal ambil dalam kebun sendiri. Kalaupun tidak, alam yang menyediakan makanan\u2014yang sudah barang tentu gratis semua.<\/p>\n<p>Saya jadi tambah bingung. Di Timur listrik belum masuk semua dan jalan-jalan\u00a0 banyak tidak di aspal. Sementara di Jawa\u2014pusat kemajuan Indonesia\u2014terdapat banyak orang yang susah dapat makan. Lantas,\u2014uang Emas, Nikel, Aspal dan tambang-tambang lain\u2014<em>semua lari kemana e?<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di Timur listrik belum masuk semua, jalan banyak tidak di aspal. Sementara di Jawa pusat kemajuan Indonesia terdapat banyak orang yang susah dapat makan.<\/p>\n","protected":false},"author":101,"featured_media":2390,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[294,623,624,561],"class_list":["post-2281","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-indonesia-timur","tag-jawa","tag-pembangunan-indonesia","tag-politik-indonesia"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2281","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/101"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2281"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2281\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2390"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2281"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2281"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2281"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}