{"id":227736,"date":"2023-08-13T13:18:31","date_gmt":"2023-08-13T06:18:31","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=227736"},"modified":"2023-08-13T13:18:31","modified_gmt":"2023-08-13T06:18:31","slug":"beige-flag-tren-baru-di-tiktok-yang-nggak-perlu-ada","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/beige-flag-tren-baru-di-tiktok-yang-nggak-perlu-ada\/","title":{"rendered":"Beige Flag: Tren Baru di TikTok yang Sebenernya Nggak Perlu Ada karena Terlalu Subjektif dan Mengundang Komentar Tak Diinginkan"},"content":{"rendered":"<p><em>Setelah kemarin kita familier sama istilah red flag dan green flag, sekarang di TikTok lagi rame pembahasan soal beige flag. Apaan lagi, nih?<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita semua barangkali sudah paham betul bahwa orang yang masih suka ngomongin mantannya masuk dalam kategori <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/red-flag\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">red flag<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Kita juga sudah nggak perlu bertanya sama teman-teman lagi untuk yakin bahwa orang yang sayang keluarganya masuk dalam kategori <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">green flag<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, gimana kalau gebetan atau pasangan kamu makan sushi pakai tangan, kayak makan nasi padang? Gimana kalau mereka orangnya nggak ekspresif, yang kalau ditanya kesehariannya pasti cuma jawab, \u201cBiasa aja,\u201d dan nggak ada elaborasi lebih?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perilaku yang sebenarnya nggak mengganggu hubungan, tapi agak mengganjal di hati kalian itu sekarang lagi ngetren, lho. Namanya <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">beige flag<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari namanya mungkin sudah terbaca, bahwa arti dari istilah tersebut mengacu pada sifat-sifat seseorang yang dibilang bagus nggak bisa, tapi dibilang jelek, ya nggak juga. Sekilas, tren ini bisa dibilang memang untuk lucu-lucuan aja, karena sebagai pengguna <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/media-sosial\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">media sosial<\/a> yang kebetulan terpapar tren ini di FYP TikTok, saya juga ikut terhibur dibuatnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cuma setelah dipikir-pikir lagi dengan agak serius (pengangguran memang banyak mikir), sebenarnya kenapa sih kita merasa perlu mengotak-ngotakkan sifat yang sebenarnya biasa aja? Mengapa sifat dan perilaku yang nggak membawa keuntungan atau kerugian itu diberi nama? Apa batasannya antara <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">red flag<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">beige flag<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, dan <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">green flag<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai orang yang juga cukup observatif terhadap sifat orang lain dalam kehidupan sehari-hari, saya menganggap beige flag ini tren lucu yang sebenarnya nggak perlu. Manusia itu makhluk yang kompleks, apa yang menjadi <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">beige flag<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> bagi seseorang mungkin bisa jadi <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">red flag<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> buat orang lain. Di sisi lain, mungkin makan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/sushi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">sushi<\/a> pakai tangan bisa aja dianggap <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">green flag<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> buat seseorang, karena ada nilai-nilai kesederhanaan di situ. Jadi, menurut saya, tren ini sebenarnya lucu dan miris dalam waktu bersamaan. Kenapa?<\/span><\/p>\n<h2><b>Mengotak-ngotakkan sesuatu yang nggak perlu<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Manusia itu bukan makhluk yang mudah ditebak dan ditelaah. Latar belakang, pengalaman hidup, hingga kebiasaan sehari-hari menjadi beberapa hal yang mendikte bagaimana kita sebagai manusia membentuk sifat dan perilaku kita terhadap sesuatu atau orang lain. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada beberapa orang yang\u2014secara sengaja atau nggak disengaja\u2014mengembangkan sifat yang cenderung merugikan orang di sekitarnya. Sebaliknya, banyak juga orang yang memiliki sifat-sifat teladan, yang umumnya jadi idaman ketika seseorang mencari <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/pasangan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pasangan<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya, berdasarkan observasi saya terhadap tren <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">beige flag<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> ini, sifat atau perilaku yang masuk dalam kategori tersebut sebenarnya adalah sifat yang sebenarnya nggak perlu label. Artinya, perilaku-perilaku yang ditunjukkan sebenarnya normal banget. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang iya, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">beige flag<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> itu merupakan kategori tengah-tengah antara <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">red<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> dan <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">green flag<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">. Tapi, apa iya sifat pasanganmu yang kalau diomelin jarang merespons kemarahanmu itu perlu diberi kategori? Mungkin dia memang manusia penyabar kesayangan Tuhan. Pasanganmu terlalu sering ambil <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/selfie\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">selfie<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">? Mengagumi ciptaan Tuhan, kan, bukan sesuatu yang tabu atau dilarang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak dari sifat dan perilaku beige flag yang dipopulerkan di media sosial ini<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, menurut saya, merupakan sifat yang\u2026 membuat manusia menjadi manusia pada umumnya. Beberapa mungkin membosankan, mencengangkan, atau bahkan unik. Tetapi, hal-hal tersebut adalah sebagian kecil dari keseluruhan pribadi yang membuat kita tertarik pada mereka, yang mungkin kurang tepat untuk dikotak-kotakkan ke dalam kategori yang terkesan kosong dan kurang berwarna.<\/span><\/p>\n<h2><b>Tren <\/b><b>beige flag<\/b><b> terlalu subjektif dan mengundang komentar tak diinginkan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti yang sudah saya sebutkan, sifat dan perilaku seseorang yang saya temukan masuk dalam kategori <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">beige flag<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> menurut pengguna media sosial adalah hal-hal unik pada seseorang yang mungkin membosankan atau mencengangkan, tergantung siapa yang menyaksikan. Sifat, perilaku, atau kebiasaan yang menurut seseorang membosankan mungkin akan sangat menghibur jika disaksikan oleh orang lain. Sebaliknya, hal-hal yang menurut seseorang lucu mengenai pasangannya, bisa jadi terlihat seperti <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">red flag<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> bagi orang lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak ada batasan jelas mengenai bagaimana sifat atau perilaku seseorang dapat secara absolut masuk ke dalam kategori <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">beige flag<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">. Dengan pengkategorian seperti ini, secara nggak langsung kita juga menimbang-nimbang hal kecil mengenai pasangan kita yang sebenarnya biasa aja menjadi hal yang agak dibesarkan. Apalagi ketika kita membagikan hal tersebut ke dunia maya. Dunia di mana orang lain yang nggak mengerti apa-apa soal hubungan kita bisa secara bebas dan tanpa filter melempar <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/komentar\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">komentar<\/a> mengenai sifat dan perilaku pasangan kita.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Syukur kalau kita berprinsip teguh dan percaya betul bahwa pasangan kita adalah yang terbaik buat kita. Masalahnya, nggak jarang orang yang juga termakan komentar-komentar orang lain di dunia maya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jangan sampai kita malah putus hubungan karena ada 20 orang komentar di video TikTok kita bahwa sifat pasangan kita yang nggak kepo itu adalah indikasi orang yang nggak punya empati buat orang lain. Sebaik-baiknya orang yang mengenal pasangan kita, ya, adalah kita sendiri (dan keluarga, sanak saudara, serta teman-temannya).\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Terlepas dari semuanya, tren beige flag di TikTok ini memang lucu<\/b><\/h2>\n<p>Poin-poin di atas hanyalah sedikit kritik dari observasi saya terhadap tren yang sedang digandrungi anak muda. Saya sendiri pun sebagai anak muda, mengakui bahwa tren ini memang lucu.<\/p>\n<p>Melihat sifat atau perilaku unik seseorang yang jarang saya temukan di sekitar saya adalah hal yang cukup menghibur. Tren yang ramai di TikTok ini juga semakin menyadarkan saya mengenai betapa kompleksnya manusia. Dan bagaimana <a href=\"https:\/\/kbbi.kemdikbud.go.id\/entri\/kompleksitas\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kompleksitas<\/a> tersebut diterima oleh orang lain, lebih tepatnya oleh pasangan mereka.<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tren ini juga mengingatkan saya bahwa tidak semua tren dalam media sosial perlu esensi. Akan tetapi, balik lagi, apresiasi terhadap sifat atau perilaku yang merupakan bagian tak terpisahkan dari seseorang adalah perlu. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketimbang dikategorikan, lebih baik dilestarikan kalau menguntungkan, dan diluruskan jika merugikan. Semoga tren ini terus menjadi sesuatu yang sekadar lucu-lucuan dunia maya aja dan nggak jadi tren pendorong <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">overthinking <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">yang merenggangkan hubungan.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Alvie Putri Gustiningrum<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/red-flag-dalam-sesatnya-anggapan-sembrono-tentang-hubungan-dua-insan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Red Flag dalam Sesatnya Anggapan Sembrono tentang Hubungan Dua Insan<\/a>.<\/strong><\/p>\n<div class=\"jeg_ad jeg_ad_article jnews_content_inline_2_ads \">\n<div class=\"ads-wrapper align-center \">\n<div class=\"ads_code\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Setelah kemarin ada green flag dan red flag, sekarang nongol beige flag. Apaan lagi, nih?<\/p>\n","protected":false},"author":2284,"featured_media":227785,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12906],"tags":[20210,20211,19730,5201],"class_list":["post-227736","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-media-sosial","tag-beige-flag","tag-green-flag","tag-red-flag","tag-tiktok"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/227736","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2284"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=227736"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/227736\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/227785"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=227736"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=227736"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=227736"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}