{"id":227518,"date":"2023-08-11T13:33:57","date_gmt":"2023-08-11T06:33:57","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=227518"},"modified":"2023-08-11T13:33:57","modified_gmt":"2023-08-11T06:33:57","slug":"sisi-lain-demak-kota-yang-telanjur-lekat-dengan-masjid-dan-makam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sisi-lain-demak-kota-yang-telanjur-lekat-dengan-masjid-dan-makam\/","title":{"rendered":"Sisi Lain Demak, Kota yang Telanjur Lekat dengan Masjid dan Makam"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTiyang pundi, Mas?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya selalu menjawab dengan percaya diri tiap kali menerima pertanyaan begitu saat lagi di luar kota. Entah itu saat diajak kenalan teman baru atau sekedar dari orang yang baru kutemui saat di smoking area.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDemak, Mas.\u201d Begitu jawabanku yang simpel tapi percaya diri dan bangga dengan kota kelahiran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan jawaban simpel begitu, ternyata melahirkan persepsi dari orang yang bertanya \u201casal dari mana?\u201d kepada saya. Coba tebak persepsi apa yang dilahirkan sebagai respon dari jawaban saya yang cuma bilang \u201cDemak\u201d? Yak betul, apa lagi kalau bukan hal yang memiliki relevansi dengan sebutan \u201ckota wali\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cOh Demak yang ada makam Sunan Kalijaga itu?\u201d, \u201cDekat sama Masjid Agung Demak, kah?\u201d atau \u201cYang ada makam di tengah laut itu?\u201d begitulah respons yang sering banget muncul ketika setelah saya kasih tahu kota kelahiran saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Persepsi yang sering muncul ketika mendengar kata \u201cDemak\u201d melulu tentang masjid dan makam. Padahal ada penanda-penanda lain yang ada dalam diri Demak. Misalnya, \u201cOh itu yang daerahnya cewe-cowonya cakep-cakep?\u201d itu misalnya, ya gaes yaa. Atau bisa tentang penanda lainnya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Demak dikenal sebagai kota tanpa mal<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai zoon politicon, keberadaan mal sangatlah membantu dan memberikan manfaat dalam kehidupan sosial. Selain untuk belanja kebutuhan sehari-hari, mal juga dapat dijadikan destinasi untuk refreshing dan sarana berinteraksi sosial. Bisa dibuat nongkrong sama teman-teman, terutama saat tanggal muda. Begitulah kata tetangga saya yang bekerja di luar kota.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski begitu, kamu tidak akan menemukan mal ketika sedang berada di Demak. Pasti kamu nggak percaya dengan fakta itu? Ya memang begitu adanya. Adanya memang begitu. Untuk pusat perbelanjaan terbesar di Demak mentok adanya Aneka Jaya. Itupun nggak ada eskalatornya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbeda dengan kota tetangga, Kudus misalnya. Ada beberapa mal yang bertengger di sana. Apalagi dengan Semarang, yang lebih banyak malnya. Saya ingat, kapan waktu ngajak teman luar kota berkunjung, ia menyebut Demak itu kota banyak masjid dan musala tapi tiada mal. Subhanallah.<\/span><\/p>\n<h2><b>Ada \u201crujak\u201d yang tersembunyi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kuliner bisa menjadi salah satu trademark bagi suatu daerah. Banyak orang lebih mengenal suatu daerah lantaran kuliner yang khas dari daerah itu sendiri. Misalnya, jenang dari Kudus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak dari kita yang pergi jauh-jauh mengunjungi suatu daerah cuma pengin merasakan kuliner khas daerah itu. Bahkan, ada yang berfatwa, kurang afdhal jika kita mengunjungi ke suatu daerah tanpa mencicipi makanan khasnya. Tentu, itu bukan fatwa dari MUI.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penduduk akan bangga jika makanan khas daerahnya dikenal oleh banyak orang. Misal, orang Semarang akan lebih pede ketika berkenalan dengan orang Jakarta dan ternyata juga tahu lumpia. \u201cOh orang Semarang, Oiya, lumpia yang berada di sekitaran pasar Johar apa masih buka, mas?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu bagaimana dengan kuliner khas Demak? tentu, Kota Wali memiliki banyak makanan khas. Mungkin sego ndoreng menjadi kuliner khas yang paling familiar di telinga orang-orang luar Demak. Tapi nggak seterkenal lumpia milik Semarang, sih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum lagi makanan khas lain yang tersembunyi, jarang dikenal oleh daerah lain. Yaktul, rujak Morodemak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rujak Morodemak berasal dari Desa Morodemak. Rujaknya terdiri dari buah-buahan seperti rujak pada umumnya, namun sambalnya berupa kuah yang berbahan dasar dari petis. Malangnya, kuliner seenak itu tidak semasyhur <a href=\"https:\/\/www.detik.com\/jateng\/kuliner\/d-6710078\/mengenal-sego-ndoreng-kuliner-khas-demak-sejak-masa-kerajaan\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">sego ndoreng<\/a>. Bahkan, mungkin sebagian orang Demak sendiri tidak mengenalnya. Padahal nikmatnya nggak kalah sama rujak cingurnya Surabaya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah saatnya Dinas Pariwisata lebih mengenalkan kuliner itu ke khalayak umum. Biar kalau bahas khas Demak, bukan cuma masjid dan makam saja yang melekat. Bayangkan, jika persepsi publik tentang Demak ketambahan masyhurnya rujak Morodemak, kan keren ya gaess?<\/span><\/p>\n<h2><b>Ada wisata selain wisata religi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain kuliner, kebanyakan orang mengenal suatu daerah bisa juga lantaran destinasi wisata. Makanya, tiap-tiap daerah pasti berlomba-lomba mengenalkan tempat wisatanya masing-masing. Di Jepara misalnya, terkenal dengan Karimun Jawa-nya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara di Demak, jika kamu searching di Google, pasti akan direkomendasikan dengan Masjid Agungnya dan makam Sunan Kalijaga. Lagi-lagi tentang masjid dan makam. Padahal ada wisata lain yang menggambarkan, lho. Misalnya, wisata mangrove dan pantai di Kecamatan Wedung, wisata yang sudah mewakili diri Demak sebagai daerah pesisir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Iya sih, Demak berjulukan \u201ckota wali\u201d, daerah yang pertama kali didirikannya Kerajaan Islam di tanah Jawa, hingga membuat persepsi antara Demak, masjid, dan makam itu tak bisa dipisahkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski kota religi, bukan berarti tidak ada wisata nonreligi. Di Demak banyak kok tempat wisata selain masjid dan makam. Wisata malam salah satunya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lho, serius<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">?<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Demak banyak kok bertenggernya tempat karaokean, yang beroperasi di malam hari. Kalau nggak percaya, coba searching.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Katanya kota wali?&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Realitas sosial memang begitu adanya, Gaes.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Muhammad Azam Multazam<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-alasan-demak-kalah-tenar-dibanding-kabupaten-di-sekelilingnya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">3 Alasan Demak Kalah Tenar Dibanding Kabupaten di Sekelilingnya<\/a><br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Persepsi yang sering muncul ketika mendengar kata Demak melulu tentang masjid dan makam.<\/p>\n","protected":false},"author":2269,"featured_media":226510,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[9816,9036,565,20193,20192],"class_list":["post-227518","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-demak","tag-makam","tag-masjid","tag-rujak-morodemak","tag-sego-ndoreng"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/227518","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2269"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=227518"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/227518\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/226510"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=227518"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=227518"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=227518"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}