{"id":226846,"date":"2023-08-04T12:36:44","date_gmt":"2023-08-04T05:36:44","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=226846"},"modified":"2023-08-04T12:36:44","modified_gmt":"2023-08-04T05:36:44","slug":"pengalaman-kkn-di-gunungkidul","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pengalaman-kkn-di-gunungkidul\/","title":{"rendered":"Pengalaman KKN di Gunungkidul: Warung Tutup Jam 7 Malam dan Menyaksikan Kemenangan Jokowi di Desa Pro Prabowo"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sampai sekarang nggak pernah percaya dengan orang yang secara terbuka bilang \u201cKKN itu menyenangkan!!!\u201d yang akan diikuti dengan \u201cpengin balik KKN lagi deh!!!\u201d. Bagi saya, itu hanya ungkapan impulsif yang muncul karena usaha melarikan diri dari kenyataan yang dijalani.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi saya nggak mau memungkiri juga, memang ada momen-momen menyenangkan di KKN. Sewaktu KKN, saya lumayan menikmati, meski tak bisa dibilang bahagia. Saya menjalin bonding dengan beberapa bocil yang bikin mereka menangis sewaktu kami cabut. Saya juga masih ingat ada satu bocah yang tak sudi main sama teman satu kelompok saya, tapi lengket banget sama saya. Kalau nggak salah namanya Afa, bocahnya gendut, bertenaga, larinya kenceng.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Afa, kalau kamu baca tulisan ini, artinya kamu udah besar. Pesan saya, jangan nyoba alkohol. Keputusan buruk dalam hidup, selalu dimulai dari tegukan pertama. Oke, lanjut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika ada yang bilang KKN itu adalah cara bikin mahasiswa humble, saya baru setuju pake banget. Masa-masa ini memang menaruh mahasiswa yang kepalanya terlalu tinggi untuk rata dengan tanah. Mereka, yang biasa ngomongin ide besar, ikut menceburkan diri dalam tempo dunia yang cepat, dipaksa memahami karakter manusia yang bodo amat dengan standar dunia kapitalis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gegar-gegar budaya pun terjadi. Saya yang aslinya orang desa, nggak kaget sama sekali dengan gaya hidup orang desa tempat saya KKN. Terlebih, tempat saya KKN, Semanu, Gunungkidul, nggak beda jauh kulturnya dengan Wonogiri, tempat saya lahir. Ditempatkan di desa itu, bagi saya cuman kayak pindah desa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, kawan-kawan saya, berbeda. Kebanyakan kawan satu kelompok saya ini orang kota. Terlahir kota, bergaya hidup kota. Mereka asing dengan hidup seperti ini, dan mereka menyikapinya dengan lumayan lucu. Wong ya nggak tahu, bagi saya ya wajar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, dari penyikapan tersebut, saya jadi punya banyak pengalaman lucu yang bikin saya dan kawan-kawan jadi humble.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Kaget dengan pembukuan ekonomi orang desa Gunungkidul<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kebetulan, waktu KKN kelompok saya berbarengan dengan rencana hajatan si pemilik rumah tempat kami numpang. Mau nggak mau, kami ikutan rewang. Nggak cuman rewang sih, bahkan kami ikut rapat rencana hajatan pernikahan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi gini, Gaes. Saya nggak tahu daerah Gunungkidul yang lain itu mengadopsi hal ini atau tidak, tapi di tempat saya, hajatan keluarga itu yang ikut satu desa. Rapatnya pun melibatkan satu desa. Yang saya salutkan sih, misal nggak punya modal, desa mau minjemin modal yang nanti bisa dikembalikan. Orang nikahan kan pasti dapat amplop ya, nah hasilnya nanti buat balikin uang pinjaman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kawan saya, dengan polosnya berpikir, orang desa pasti pembukuan ekonomi atau akuntansi atau apalah itu, nggak baik. Nggak proper, istilahnya. Kawan saya, dengan pedenya, menawarkan bantuan untuk memperbaiki. Saya sudah mencegah dengan pelan-pelan, takutnya itu menyakiti hati warga desa. Tapi selain itu, saya yakin pembukuannya udah bagus. Wong ini tradisi panjang lho.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan ternyata betul, setelah dicek, malah temenku yang belajar, ternyata pembukuan bisa dibuat kayak gini. Mendengar itu, saya ketawa kenceng.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Warung tutup jam tujuh malam di Gunungkidul<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hari pertama KKN saya lewati dengan anjing betul.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begini, saya KKN pada hari pertama Ramadan. Saya, yang nggak paham amat dengan kegiatan ekonomi di desa itu dengan enteng tidak nyetok rokok. Pikir saya, halah, pasti ada yang buka malam. Saya lupa, ini Gunungkidul, bukan Sleman, tempat kos saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka, ketika jam 1 pagi, rokok habis, saya kebingungan nyari warung buka. Usut punya usut, warung kelontong di desa saya hanya buka sampai jam 7 malam.\u00a0 Akhirnya saya motoran ke daerah Alun-alun Gunungkidul jam 1 pagi, sambil menggigil kedinginan. Bayangin, motoran sepagi itu, dari Semanu ke Alun-alun. Cok, mending aku semaput wae.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Jokowi menang pemilu di desa pro Prabowo<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya kira ini pengalaman yang nggak bikin humble, nggak lucu-lucu amat, justru malah menyeramkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, saya KKN di Gunungkidul tahun 2014. Kita tahu, 2014 adalah tahun awal mula Indonesia terpecah belah. Cebong kampret, dimulai dari tahun itu. Dan desa KKN saya pun tak luput ikutan kontestasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perlu saya bilang, desa saya itu desa yang\u2026 gimana ya. Jadi, waktu observasi pertama, bendera PDI mendominasi. Tapi, entah ketika penerjunan, desa itu penuh dengan bendera PKS. Ha jelas ini membingungkan. Dan usut punya usut, desa saya itu juga ada posko pemenangan <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Prabowo_Subianto\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Prabowo.<\/a> Kita, yang nggak mau tahu politik, bodo amat dengan hal itu. Toh, penduduk desa baik, nggak memaksakan kita untuk milih capres tertentu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya adalah, pada waktu pemilihan selesai, yang menang PDI dan Jokowi. Mumet? Saya aja masih mumet sampe sekarang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, pemilu kan hari libur, otomatis peserta KKN ikutan \u201cturun\u201d dari posko. Hanya ada dua anggota KKN yang bertahan, bantuin warga desa dan pegawai KPU di tempat kami KKN. Saat itu, kami sudah bisa menebak, Prabowo dan PKS akan menang mudah di dusun kami. Wajar lah ya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang terjadi malah sebaliknya, PDI dan Jokowi menang telak. Kami, yang kebanyakan saat itu sedang di Jogja jadi ketar-ketir. Lha vibes desa langsung jelek je. Ditambah fakta bahwa kami ini, pendukung Jokowi dalam diam! Wkwkwkwk.<\/span><\/p>\n<h2><strong>&#8220;Jokowi menang, Gaes!&#8221;<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika balik ke posko, kami sepakat untuk nggak ngomongin politik sama sekali. Mitigasi yang bisa kami ambil saat itu ya cuman itu. Dua-tiga jam pertama kami di posko, aman. Setelah itu, semuanya buyar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada satu anggota kelompok kami yang datang telat. Maklum, Gunungkidul memang jauh. Tapi bukan itu masalahnya, masalahnya adalah, dia datang dengan muka berbinar sambil ngomong keras-keras, \u201cJOKOWI MENANG HOREEE.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama seminggu setelah kejadian dia teriak, kami memilih untuk menunduk kalem. Dalam hati, selama seminggu saya misuh \u201cwo kontol!\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini yang perlu kalian ingat ya, adek-adek yang mau KKN tahun depan. Wis, rasah ngomong politik. Buat warga desa, itu topik yang benar-benar tabu. Jalani saja hidup kalian, dan bikin konten saja. Jauh lebih mending ketimbang ikut-ikutan bikin masalah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah dua bulan KKN di Gunungkidul, sebenarnya saya belajar banyak. Kepala yang mendongak, pasti akan rata dengan tanah ketika sampai di tempat KKN. Keramahan warganya tak akan bisa saya lupakan, sama halnya dengan betapa buruk kualitas jalanan di tempat itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski kalian nggak suka KKN (kayak saya), tetap pegang ini: akan ada pengalaman bodoh yang terkenang dan bikin bertanya-tanya sepanjang hidup. Kayak pengalaman saya, kok ya ada orang dengan pede bilang dukung Jokowi di daerah pro Prabowo. Gendeng.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Rizky Prasetya<a href=\"https:\/\/click.accesstrade.co.id\/adv.php?rk=0008p5001zi8\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/imp.accesstrade.co.id\/img.php?rk=0008p5001zi8\" border=\"0\" data-pin-no-hover=\"true\" \/><\/a><br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<a href=\"https:\/\/click.accesstrade.co.id\/adv.php?rk=0008p5001zi8\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/imp.accesstrade.co.id\/img.php?rk=0008p5001zi8\" border=\"0\" data-pin-no-hover=\"true\" \/><\/a><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/gunungkidul-adalah-sebaik-baiknya-kabupaten-untuk-tempat-kkn\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Gunungkidul Adalah Sebaik-baiknya Kabupaten untuk Tempat KKN<\/a><br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p><strong><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KKN di Gunungkidul mengajarkan saya banyak hal, juga memberikan banyak cerita lucu bin bodoh yang bikin saya geleng-geleng.<\/p>\n","protected":false},"author":777,"featured_media":168236,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[559,275,19,616,368],"class_list":["post-226846","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-jokowi","tag-kkn","tag-pemilu","tag-pengalaman","tag-prabowo"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/226846","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/777"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=226846"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/226846\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/168236"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=226846"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=226846"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=226846"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}