{"id":226807,"date":"2023-08-04T14:06:24","date_gmt":"2023-08-04T07:06:24","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=226807"},"modified":"2023-08-04T18:49:56","modified_gmt":"2023-08-04T11:49:56","slug":"surat-terbuka-mahasiswa-jogja-kepada-tukang-parkir","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/surat-terbuka-mahasiswa-jogja-kepada-tukang-parkir\/","title":{"rendered":"Surat Terbuka Mahasiswa Jogja kepada Tukang Parkir: Nggak Semua Tempat Harus Ada Tukang Parkirnya, Bos!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalah parkir di Jogja ini adalah salah satu masalah paling sering dibahas di media sosial. Yang pro dengan tukang parkir banyak, yang kontra apalagi. Benar-benar sebuah masalah yang bisa memantik perdebatan alot nan panas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahasan tentang parkir ini beragam. Mulai dari aliran dana yang tak jelas, status legalitas, serta tindak-tanduk tukang parkir yang dianggap menyebalkan. Tapi, sebagai mahasiswa, izinkan saya menyampaikan uneg-uneg tentang masalah parkir di Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Kota Pelajar ini, selain ditanya KTP setiap mau meliput sultan ground, serta susah dapat kos karena jadi orang Timur, parkir adalah salah satu kekesalan yang bikin saya pusing. Kekesalan terhadap tukang parkir di Yogyakarta sebenarnya sudah bercokol sedari dulu, sedari kaki pertama kali menapak di Tanah Kesultanan ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagaimana tidak, hampir semua tempat di Yogyakarta \u201cdikuasai\u201d tukang parkir. Mulai dari tempat elit sampai tempat orang-orang dengan ekonomi sulit seperti saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, begini, saya masih maklum kalau tempat elit di Jogja itu dipenuhi tukang parkir. Sudah lumrahnya. Hanya saja, kalau tempat proletar dan tempat-tempat yang harusnya nggak butuh tukang parkir malah dijaga oleh mereka-mereka ini, ya boncos.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya jadi bertanya-tanya, ada kode etik nggak sih profesi ini?<\/span><\/p>\n<h2><b>Datang tanpa kontribusi, pergi bawa retribusi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pernahkah Anda bertanya-tanya, bagaimana bisa tukang parkir itu disebut penyedia jasa jika mereka tak berjasa?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maksud saya begini. Kalian datang ke suatu tempat, nata motor sendiri, parkir sendiri. Ketika cabut, kalian diminta biaya parkir. Apa itu masih bisa dibilang jasa? Bagi saya sih, tidak. Wong mereka nggak melakukan apa pun yang bisa disebut sebagai jasa, kok.<\/span><\/p>\n<p>Oke, kalau ada yang berpendapat bahwa yang mereka lakukan itu sesuatu yang dibutuhkan, beberapa tempat ini, sebenarnya nggak butuh tukang parkir.<\/p>\n<p><strong>Baca halaman selanjutnya<\/strong><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/surat-terbuka-mahasiswa-jogja-kepada-tukang-parkir\/2\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em>Masak lapangan ada tukang parkirnya? Kebangetan<\/em><\/a><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>Bersihkan tempat ini dari tukang parkir<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jogja, bagi saya nggak hanya sebagai Kota Pelajar, bisa juga disebut sebagai \u201cThe Land of Dreams\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maksud saya begini. Pendidikan, bagi orang desa dan nggak mampu, adalah tiket bagi mereka meraih mimpi dan keluar dari kesengsaraan. Artinya, Jogja ini, adalah tujuan bagi banyak orang desa dan orang tak berpunya. Itulah kenapa kafe-kafe proletar macam Basabasi begitu laku, ya karena memenuhi hasrat mahasiswa untuk nongkrong dengan harga yang jelas tak mencekik. Dan banyak lagi tempat seperti itu di Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya adalah, tempat murah di Jogja pun nggak luput dari tukang parkir. Bahkan dari yang saya temui, semuanya \u201cdijaga\u201d oleh tukang parkir. Inilah masalah parkir di Jogja yang menurut saya yang paling berat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya kasih daftarnya ya, mana saja yang ada tukang parkir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tempat pertama, tempat orang jualan sayur. Baiklah, saya nggak bisa memungkiri warung sayur itu ramai, dan jadi lahan basah untuk parkir. Tapi perlu diingat, warung sayur itu tempat belanja orang yang mau ngirit. Makan saja mereka pangkas uangnya, mosok masih dibebani parkir?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua, minimarket. Ini sih udah jadi keresahan semua orang. Nggak perlu lah saya jelaskan berlarut-larut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketiga, ini nih yang paling unik: <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kali_Code\">Kali Code<\/a>. Walau Kali Code memang masuk objek wisata, dan layak untuk ditarik parkir, tapi mbok ya nggak semahal itu. Masak ya lima ribu, Bos?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terakhir, dan yang paling lucu adalah lapangan. Saya nggak mau sebut mana, tapi, AYOLAH, lapangan lho.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya, tempat-tempat tersebut nggak sepatutnya ditarik biaya parkir. Entah kenapa masalah parkir di Jogja jadi separah ini. Saya mempertanyakan etik aja sih.<\/span><\/p>\n<h2><b>Harapan besar perbaikan tata kelola parkir di Jogja<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Disclaimer, saya tidak bermaksud untuk mencela profesi tertentu karena apa pun profesi yang dijalankan dengan halal dan legal pastilah baik. Persoalan parkir sebenarnya menjadi persoalan kompleks tidak hanya menjadi persoalan kultural, tetapi juga persoalan struktural.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan kalau kita lihat secara kritis fenomena berjibunnya tukang parkir ilegal bisa jadi disebabkan oleh ketidakmampuan pemerintah untuk menyediakan tukang parkir yang legal. Atau mungkin karena kurangnya kemampuan penyerapan tenaga kerja sehingga masyarakat harus berjibaku dengan pilihan-pilihan sulit. Salah satunya dengan memilih sebagai tukang parkir ilegal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sehingga dalam hal ini besar harapan untuk tukang parkir bisa meningkatkan profesionalitas agar apa-apa yang dilakukan bisa dipertanggungjawabkan dengan baik. Di samping itu juga pemerintah sebagai stakeholder bisa lebih baik dalam tata kelola jasa parkir, terutama harus memperhatikan kesejahteraan tukang parkir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi kalau solusi seterang ini nggak dilakukan, ya\u2026 gimana lagi?<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Maliki Sirojudin Agani<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bisnis-lahan-parkir-tidak-pernah-sederhana-bahkan-penuh-darah-dan-mafia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bisnis Lahan Parkir Tidak Pernah Sederhana, bahkan Penuh Darah dan Mafia<\/a><br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p><strong><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bagi saya, ada beberapa tempat yang nggak sepatutnya ditarik biaya parkir. Entah kenapa masalah parkir di Jogja jadi separah ini.<\/p>\n","protected":false},"author":2292,"featured_media":205685,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[115,20082,570,93,2402],"class_list":["post-226807","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jogja","tag-kali-code","tag-masalah","tag-parkir","tag-surat-terbuka"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/226807","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2292"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=226807"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/226807\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/205685"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=226807"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=226807"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=226807"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}