{"id":226698,"date":"2023-08-03T12:16:13","date_gmt":"2023-08-03T05:16:13","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=226698"},"modified":"2023-08-05T07:55:46","modified_gmt":"2023-08-05T00:55:46","slug":"middle-class-vs-ukt-melawan-jelas-kalah-mundur-makin-berdarah-darah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/middle-class-vs-ukt-melawan-jelas-kalah-mundur-makin-berdarah-darah\/","title":{"rendered":"Middle Class vs UKT: Melawan Jelas Kalah, Mundur Makin Berdarah-darah"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika melihat realitas yang ada pada saat ini, sebagaimana bisa dilihat pada data World Bank yang bertajuk \u201cAspiring Indonesia\u2014Expanding the Middle Class\u201d disebutkan bahwa ada sekitar 114,7 juta orang Indonesia yang merupakan aspiring middle class (kelas menengah harapan). Yang termasuk dalam kelompok tersebut adalah kelompok yang tidak lagi miskin dan menuju kelas menengah yang lebih mapan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski begitu, kelompok tersebut sebenarnya tak berbeda dengan kelompok menengah ke bawah, jika dilihat dari kacamata ekonomi dan pendidikan. Yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana bisa pihak yang menuju ke jenjang yang lebih makmur dan mapan tetap tak berkutik melawan biaya pendidikan?<\/span><\/p>\n<h2><b>Dilema middle class<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tak mau dibilang merayakan penderitaan ya, tapi jika dibanding kelompok tidak mampu, middle class justru lebih menderita perkara kemudahan akses pendidikan. Sebentar, saya jelaskan dulu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak beasiswa untuk mahasiswa golongan tak mampu, contohnya <a href=\"https:\/\/kip-kuliah.kemdikbud.go.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">KIP-K.<\/a> Terlepas bahwa bantuan tersebut bermasalah, tapi setidaknya, mereka punya opsi. Sedangkan middle class, tak punya opsi seperti ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Betul, middle class jelas punya akses dan kemampuan lebih untuk membayar ketimbang golongan tak mampu. Masalahnya adalah, mereka pun sama menderitanya ketika membayar. Sudah penghasilan tak bisa dibilang tinggi, tapi oleh pihak kampus, diberi UKT setinggi langit karena dianggap lebih bisa membayar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misal gaji bulanan 4 juta, UKT dipatok di angka 6 juta, ya tetap saja sengsara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhirnya, aspiring middle class ini tak akan pernah naik menuju high class, atau bahkan hidupnya bisa jadi mundur. Sebab, akses naik kelas, yaitu pendidikan, benar-benar bikin nafas mereka menghilang seiring waktu.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/middle-class-vs-ukt-melawan-jelas-kalah-mundur-makin-berdarah-darah\/2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em><strong>Baca halaman selanjutnya: Kelas yang (sama aja) sengsara(nya)&#8230;<\/strong><\/em><\/a><br \/>\n<!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>Kelas yang (sama saja) sengsara(nya)<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dilahirkan oleh keluarga yang biasa-biasa saja membuat saya bersyukur akan pentingnya makna kehidupan. Banyak hal yang bisa dipetik dengan mencicipi rasa senang dan tenang atas pemenuhan kebutuhan harian yang layak. Tapi terkadang juga merasakan pahitnya kehidupan yang kurang berkenaan dengan keinginan saya dalam aspek tertentu. Dalam pendidikan misalnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai anak yang memiliki kecerdasan yang tidak seberapa dan berasal dari middle class, saya merasakan berbagai ketidakadilan selama menjalani masa-masa pendidikan. Baik dari SD hingga kuliah seperti sekarang ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbagai bentuk bantuan uang pendidikan tak pernah sekalipun saya rasakan. Mendaftar beasiswa, sudah rontok dengan persyaratan sertifikat lomba. Kalau mau pakai jalur reguler, harus menyertakan surat keterangan tidak mampu, yang jelas tak mungkin saya dapatkan. Padahal pemasukan keluarga saya ya tak sebanding dengan biaya pendidikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aren\u2019t we all the same?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang tua saya, sejauh ini, tidak pernah mengeluh biaya pendidikan yang tinggi dan tidak masuk akal ini. Tapi saya yang kena mental. Mereka memang memintaku fokus kepada pendidikan, tapi anak mana yang tak khawatir dengan orang tuanya?<\/span><\/p>\n<h2><b>PTN tidak lagi murah, dan tak akan kembali murah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mindset masyarakat kita perlu dibenahi dalam memandang kualitas pendidikan, harusnya tak lagi berdasarkan status kampus. Kita harusnya tak lagi menilai perguruan tinggi setinggi dulu, semulia dulu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anggapan bahwa perguruan tinggi punya prospek cerah dan biayanya murah harus kita buang jauh-jauh. Nyatanya, kesesatan pikir tersebut bikin banyak orang tertipu. Salah satunya, saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya juga merupakan korban dari sesat pikir tersebut. Ketika saya pertama kali diinformasikan lulus SNMPTN, saya bahagia, seperti kebanyakan pemuda tanggung lainnya. Tapi, saya, sebagai anak dari anggota middle class, terkejut ketika mendapat biaya UKT yang kelewat tinggi. Saya pikir, ekonomi keluarga nggak akan &#8220;terluka&#8221;, nyatanya malah sebaliknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Katanya PTN murah, ini murah menurut siapa, Keluarga Bakrie?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terlebih, lulus dari PTN tak memberi jaminan apa-apa dalam hidup. Jaminan mudah mendapat pekerjaan pun tak lebih dari omong kosong. Saya sendiri masih mengalami kesulitan dalam mencari pekerjaan. Baiklah, boleh menuding mungkin saya tak cakap-cakap amat. Tapi, ketika pendidikan kini tak bisa dimungkiri lagi, hanya untuk mencetak karyawan, kenapa pekerjaan tetap saja susah didapat?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kini saya sering kali menggerutu dan bertanya-tanya pada diri sendiri. Pendidikan adalah hak segala warga negara, tapi kenapa banyak yang terbebani dengan biayanya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhirnya, middle class dan lower class \u201cbersatu\u201d dalam hal ini. sama-sama hancur, sama-sama terkapar jika harus berhadapan langsung dengan biaya pendidikan. Dan hanya ada satu golongan yang jelas tak terdampak. Tentu saja saya tak perlu sebutkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Middle class tak akan bisa naik kelas. Lower class akan selamanya mengendap di kerak tangga sosial. Semua karena pendidikan yang benar-benar mahal.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Agung Anugraha Pambudhi<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/biaya-perguruan-tinggi-negeri-nyatanya-begitu-mahal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Biaya Perguruan Tinggi Negeri yang Mahal: Katanya Pendidikan Adalah Hak untuk Setiap Warga, tapi Kenapa Biayanya Nggak Masuk Akal?<\/a><br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p><strong><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Aspiring middle class ini tak akan pernah naik menuju high class, sebab pendidikan pun masih terasa begitu mahal untuk mereka.<\/p>\n","protected":false},"author":2272,"featured_media":99635,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[20070,20069,5957],"class_list":["post-226698","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-biaya-pendidikan","tag-middle-class","tag-ukt"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/226698","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2272"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=226698"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/226698\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/99635"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=226698"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=226698"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=226698"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}