{"id":226497,"date":"2023-08-02T11:13:38","date_gmt":"2023-08-02T04:13:38","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=226497"},"modified":"2023-08-02T11:13:38","modified_gmt":"2023-08-02T04:13:38","slug":"rasanya-menempuh-150-kilometer-dengan-motor-chopper","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/rasanya-menempuh-150-kilometer-dengan-motor-chopper\/","title":{"rendered":"Rasanya Menempuh 150 Kilometer dengan Motor Chopper: Keren sih, tapi Bikin Punggung Merintih"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pernah, dan selalu bermimpi laiknya Billy yang menaiki motor Chopper berbahan Harley-Davidson Hydra\u2014Glide tahun 1950 dalam Film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Easy Rider<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Tapi angan hanya sebatas angan. Meski sama-sama mengendarai Chopper, saya tak benar-benar seperti Billy yang enjoy mengendarai Chopper rigid itu. Motor yang saya kendarai hanya Yamaha Scorpio 225 cc yang bahkan getaran mesinnya saja nggak bakal bisa setara Harley-Davidson.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu, saya pikir Chopper adalah sekeren-kerennya motor. Tampilan simpel bikin yang naik ikutan kece. Desain motornya tak pernah gagal untuk menambah kepercayaan seorang laki-laki. Aksesoris simpel, tanpa shock belakang, stang clean nggak banyak kabel seliweran, suara knalpot intimidatif yang berkesan manly abis. Pokoknya keren, no debat. Namun pikiran tersebut sirna setelah saya mencoba motor Chopper dengan jarak 150 kilometer. Dari Kudus ke Jogja.<\/span><\/p>\n<h2><b>Percobaan pertama<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kami berencana ke acara bertajuk Kustomfest di Jogjakarta. Beriringan dua motor. Saya mengendarai Honda CB jadul sementara seorang teman memakai motor chopper kesayangan. Perjalanan dimulai sejak pukul 07.00 pagi. Laju kami santai, lebih mau menikmati perjalanan yang akan memakan waktu lebih dari empat jam dari Kota Kudus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya memutuskan untuk bertukar motor. Teman saya setuju, dan motor chopper dengan basic Yamaha Scorpio itu akhirnya saya duduki. Visual motor ini clean dan simpel. Rasa yang menyenangkan. Seat height yang memang pendek bikin kaki menapak turah-turah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Motor chopper ini memakai frame rigid, hanya ada suspensi depan, sementara bagian belakang nggak shock-nya. Peredaman yang bisa diandalkan bokong hanya bergantung sama pegas mungil dua biji di bawah jok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Riding position-nya agak jongkok. Letak footstep agak digeser ke depan plus meninggi jadi penyebabnya. Sementara ban belakang saya taksir perlu diwaspadai sebab ban berukuran 4.00\/16 inci hanya ditutupi spakbor kecil, tak menutup sempurna ketika ban berputar. Salah-salah baju bisa nyelempit masuk ke sana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara keseluruhan desain Chopper memang simpel, karena aliran modifikasi ini terlahir dari keinginan punya motor ringan dan kencang. Ide itu muncul setelah Perang Dunia II di Amerika. Waktu itu, kebanyakan motor <a href=\"https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Harley-Davidson\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Harley-Davidson<\/a> punya bobot berat. Ditambah, muncul motor Eropa seperti Triumph yang lebih ringan dengan ukuran lebih kecil. Alhasil, para veteran perang mempreteli parts Harley yang dirasa nggak perlu dan merombaknya. Maka, lahirlah genre ini hingga dikenal dan disukai orang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya kembali fokus melihat Chopper ini. Yah meski motor yang dimiliki teman saya hanya bermesin Yamaha Scorpio yang getaran mesinnya saja nggak setara sama Harley. Tapi tak apa, disebutnya tetap chopper. Apalagi jika menengok bagian depan dengan tangki peanut, ban depan berdiameter 21 inci tanpa rem. Iya, kalian nggak salah baca kok. Motor teman saya ini nggak ada rem depan, semua faktor keselamatan hanya dipasrahkan sama disc brake belakang.<\/span><\/p>\n<h2><b>Mengendalikan sebiji motor Chopper tak pernah mudah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tanpa rem depan menjadikan saya sedikit kagok. Saya dilema, antara mengikuti kesenangan atau lebih sayang nyawa. Hanya mengandalkan rem belakang bukan opsi tepat untuk sebuah kesukaan dan mengabaikan nyawa sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAman-aman,\u201d ujar Beny, teman saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhirnya saya tetap menaiki motor chopper menuju Jogja. Mesinnya menyala setelah menekan tombol electric starter. Suara knalpot freeflow karatan mengoar keseluruh jalan, brot-brot-brottt. Suara itu makin bising saat saya memutar grip gas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perjalanan dari Kudus sampai daerah Purwodadi bisa saya lalui lumayan lancar. Hanya sesekali hampir nabrak gara-gara kagok mau ngerem depan tapi lupa di stang motor ini hanya ada tuas kopling dan sebiji spion bulat mungil. Pas macet, saya harus menjaga keseimbangan dengan mengandalkan kaki kiri sementara kaki kanan stand by menginjak rem. \u201cRepot juga naik chopper ,\u201d batin saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara Beny enjoy-enjoy aja memakai CB jadul yang pakai mesin Tiger bore up. Tak jarang dia slundap-slundup sampai lupa saya kepayahan di belakang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selepas melewati Purwodadi, perjalanan lanjut menuju Sragen menjadi tak mudah buat saya. Jalan naik turun tajam menjadi begitu memilukan. Kecepatan motor melambat, saya tak mau mati sia-sia. Apalagi sampai ada headline berita \u201cPengendara Chopper amatiran mati terjun ke jurang karena gagal menginjak rem\u201d.<\/span><\/p>\n<h2><b>Perjalanan yang tak pernah tuntas<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun begitu, saya tetap bisa membawa motor chopper itu sampai di Solo setelah tuntas melewati Sragen dengan wajah agak pucat. Saya meminta istirahat dulu. \u201cNgeri banget pakai Chopper lewat jalan tadi.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBiasa wae. Kamu aja yang belum jago,\u201d jawab Beny seraya menenggak kopi botolan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apalagi punggung sudah terasa pegal, mulai boyoken. Frame rigid nggak ada suspensi belakang membuat tulang-tulang saya saling beradu untuk menahan getaran jalan Sragen-Solo. Pokoknya nggak enak rasanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menaiki motor Chopper tak pernah mudah dan nggak nyaman. Alih-alih keren, badan saya remuk, boyoken dan hampir celaka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya akhirnya memutuskan bertukar motor lagi untuk lanjut ke Jogja. Saya menyerah, perjalanan itu tak pernah saya selesaikan tuntas menaiki Chopper. Boyok saya nggak kuat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum lanjut perjalanan Beny sedikit mengurangi tekanan ban belakang. \u201cGini lho biar nggak boyoken, ban belakang agak dikempesin,\u201d ujar dia. Tapi apakah saya mau mencoba motor itu lagi? Tentu saja tidak. \u201cTetap enakan motor yang pakai shock belakang lah,\u201d jawab saya.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Tetap cinta motor chopper, tak peduli omongan orang<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sela-sela perjalanan menuju Kustomfest, omongan kami tak pernah habis. Ada saja yang dia omongin. Dari tips biar tetap enak pakai Chopper buat commuting, sampai stereotip motor rongsok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat teman saya menaiki motor Chopper, selain nggak nyaman-nyaman amat, motornya sering disangka orang motor rosok. Padahal, uang yang dia habiskan untuk motor yang di tangkinya ada gambar mantan amat mahal. Tapi orang-orang mana peduli, berapa pun uang yang ia habiskan, stereotipe itu nggak bakal benar-benar hilang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTerus kenapa kamu masih naik motor Chopper ini?\u201d tanya saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYa, karena aku suka. Rasanya tak perlu validasi dari orang lain untuk hal yang kita suka. Bukan begitu?\u201d<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Budi<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/yamaha-all-new-nmax-155-motor-kok-nanggung-banget\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Yamaha All New NMAX 155: Bikin Motor kok Nanggung Banget, Nggak Worth untuk Dibeli<\/a><br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menaiki motor Chopper tak pernah mudah dan nggak nyaman. Alih-alih keren, badan saya remuk, boyoken dan hampir celaka.<\/p>\n","protected":false},"author":1041,"featured_media":226603,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12903],"tags":[9136,20053,20052,1944],"class_list":["post-226497","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-otomotif","tag-ergonomi","tag-harley-davidson","tag-motor-chopper","tag-sejarah"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/226497","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1041"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=226497"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/226497\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/226603"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=226497"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=226497"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=226497"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}