{"id":226192,"date":"2023-07-30T12:00:05","date_gmt":"2023-07-30T05:00:05","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=226192"},"modified":"2023-07-30T11:44:49","modified_gmt":"2023-07-30T04:44:49","slug":"madiun-kota-dengan-segudang-julukan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/madiun-kota-dengan-segudang-julukan\/","title":{"rendered":"Madiun, Kota Pendekar, Kota Pecel, Kota dengan Segudang Julukan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa waktu yang lalu, saya pernah menulis di Terminal Mojok dengan judul tulisan<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ponorogo-kota-dengan-sejuta-julukan\/\"> <i><span style=\"font-weight: 400;\">Ponorogo, Kota dengan Sejuta Julukan<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Tulisan saya tersebut mendapatkan respons dari salah seorang sahabat saya, yang notabene dia putra kelahiran bumi Madiun. Setelah berbincang beberapa saat, saya paham. Ternyata julukan Madiun tak kalah banyak dari Ponorogo. Bahkan, branding yang dimiliki Madiun pun sangat ciamik dalam membuat citra dan reputasi kotanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bumi kelahiran HOS Cokroaminoto tersebut memiliki setidaknya 10 julukan. Ya, di sini saya tidak akan membahas semuanya ya, guys. Saya hanya akan membahas beberapa julukan saja yang menurut saya paling merepresentasikan Madiun.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kota Pendekar<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Julukan pertama yang tersemat pada Kota Madiun adalah Kota Pendekar, jelas banget ini. Julukan ini muncul sebab banyaknya perguruan bela diri yang ada di kota ini. Misalkan saja pencak silat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak sekali perguruan pencak silat yang lahir dan terbentuk di kota ini. Perguruan tersebut antara lain, Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), Persaudaraan Setia Hati Winongo, Ikatan Keluarga Silat Putra Indonesia (IKSPI) Kera Sakti, Setia Hati Suhu Tekad (SHTT), Perguruan Ki Ageng Pandan Alas, dan Pro Patria.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak salah jika kota ini diberi julukan Kota Pendekar. Ya, karena saking banyaknya pendekar di sana, hehehe. Di samping itu, kabupaten Madiun pun juga tak mau kalah. Mereka juga mempunyai julukan sebagai Kampung Pesilat.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kota Gadis<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Julukan yang satu ini memang seakan sudah melegenda, khususnya bagi masyarakat kota Madiun dan sekitarnya. Ketika mendengar Kota Gadis, pasti langsung terpantik dan teringat kepada kota Madiun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bentar, jangan kira kota ini punya populasi gadis yang lebih banyak atau terkenal karena berisi cewek cantik. Nggak gitu. Julukan kota Gadis ini merupakan kepanjangan dari perdagangan, pendidikan, dan industri. Bukan gadis yang itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di kota Madiun, tercatat memiliki lebih dari 200 instansi pendidikan, mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Sedangkan industri yang ada juga tak kalah besar. Sebut saja pabrik rokok Sampoerna, Gudang Garam, dan Pabrik Gula Rejo Agung menjadi sebagian dari industri raksasa yang ada.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kota Karismatik<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kota Karismatik muncul sebagai julukan baru bagi Kota Madiun semenjak kota tersebut meluncurkan logo city branding yang baru. Logo yang berwarna oranye, kuning, merah, hijau, tersebut terpampang tulisan Kota Karismatik Madiun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan logo yang baru ini diharapkan aura karismatik yang dimiliki kota dapat terus melekat dan menjadi role model dari kota itu sendiri. Logo ini juga menegaskan bahwa kultur masyarakat Madiun yang lemah lembut, tetapi kuat dan tegas.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kota Pecel<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti pendekar, pecel juga jadi satu hal yang amat melekat dengan Madiun. Nama kota ini pasti tersebut ketika orang sedang membicarakan pecel.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makanan warung ini digandrungi oleh berbagai kalangan, mulai dari rakyat jelata, public figure, hingga orang nomor wahid di negeri ini. Depot Nasi Pecel 99 merupakan warung nasi pecel yang amat terkenal di Madiun. Bahkan, saking terkenalnya, sampai disambangi oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kota Brem<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Madiun juga dikenal sebagai kota brem. Brem merupakan jajanan berbentuk persegi yang terbuat dari sari ketan fermentasi ini memiliki cita rasa manis dan asam. Jajanan ini menjadi daya tarik wisatawan yang datang ke kota ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jajanan ini memiliki sensasi dingin dan hancur seketika saat digigit. Kini, brem tidak hanya memiliki rasa manis dan asam. Banyak yang sudah memproduksi brem dengan berbagai varian rasa, mulai dari stroberi, coklat, dan keju. Dijamin deh, bakal ketagihan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kota Sepur (Kereta Api)<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Julukan kota Kereta Api ini melekat di Madiun, sebab dahulu di kota ini ramai sekali lalu lintas kereta api. Dulu, kereta api di kota ini lebih ramai dibandingkan saat ini. Sebab, ada banyak rute kereta api yang kini hanya tinggal kenangan, misalnya saja ke tetangga terdekatnya Ponorogo.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di samping itu, Madiun juga memiliki perguruan tinggi khusus kereta api. Akademi Perkeretaapian Indonesia atau yang dikenal dengan API. Ada juga industri perkeretaapian yang bernama PT Industri Kereta Api atau PT INKA. Kedua instansi tersebut diklaim hanya ada satu-satunya di Indonesia. Amazing.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kota Budaya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Madiun juga memiliki budaya khas, yaitu seni dongkrek. Tarian yang dulunya digunakan untuk mengusir wabah penyakit ini disebut-sebut sebagai kesenian asli kota ini. Kesenian ini muncul sejak 1867 dan berpusat di Mejayan. Bahkan, saking sakralnya, waktu wabah covid-19 menyerang, banyak masyarakat Madiun yang memainkan dongkrek di malam hari dengan tujuan agar covid-19 segera pergi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak pula seniman maupun budayawan yang lahir dan besar di Madiun. Sebut saja Kirun (komedian), Pakde Kiro-kiro (seniman), hingga Ari Lasso. Kalian tahu siapa lah Ari Lasso, nggak perlu kan dijelasin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di samping itu semua, masih banyak julukan lain untuk kota Madiun. Di antaranya Kota Pelajar, Kota Industri, Kota Sastra, hingga Milan van Java. Kalau Ponorogo kemarin boleh dijuluki Kota Mantan, kalian juga boleh menjuluki Madiun sebagai Kota Kenangan. Ya, terkhusus bagi orang yang dulu hendak jadian dengan orang kota ini, tapi akkhirnya ditinggalkan. Kasihan. KOK KEBANGETEN MEN\u2026<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Eh kui <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kabupaten_Ngawi\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Ngawi<\/a> ding.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Miftakhu Alfi Sa&#8217;idin<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/7-dosa-penjual-nasi-pecel-yang-ngaku-asli-madiun\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">7 Dosa Penjual Nasi Pecel yang Ngaku Asli Madiun<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Selain disebut kota pendekar dan pecel, Madiun punya banyak julukan yang melekat.<\/p>\n","protected":false},"author":2264,"featured_media":169371,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[20018,1530,7438,9698,1447,7816],"class_list":["post-226192","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-brem","tag-julukan","tag-madiun","tag-pecel","tag-pendekar","tag-silat"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/226192","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2264"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=226192"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/226192\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/169371"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=226192"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=226192"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=226192"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}