{"id":225861,"date":"2023-07-27T11:00:40","date_gmt":"2023-07-27T04:00:40","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=225861"},"modified":"2023-07-28T11:51:50","modified_gmt":"2023-07-28T04:51:50","slug":"kota-bandung-nggak-punya-sistem-transportasi-publik-yang-proper","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kota-bandung-nggak-punya-sistem-transportasi-publik-yang-proper\/","title":{"rendered":"Ironi Kota Bandung: Ibu Kota Provinsi yang Nggak Punya Sistem Transportasi Publik yang Proper"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak saya kanak-kanak, saya selalu didoktrin oleh orang-orang di sekitar saya bahwa Jakarta itu macet, panas, dan semerawut. Beda jauh dengan Kota Bandung. Hal ini semakin saya yakini setelah satu sekolah dan satu kampus dengan perantau asal Jakarta yang sengaja jauh-jauh menuntut ilmu di Bandung karena mereka nggak mau macet-macetan dan panas-panasan di Jakarta. Mereka mau hidup dengan tenang di kota ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dua puluh tahun yang lalu, argumen saya di atas masih relevan. Sampai-sampai membuat saya besar kepala saking bangganya. Tapi sekarang hal tersebut sudah tidak relevan sama sekali. Berikut ini alasannya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kota Bandung resmi jadi kota termacet di Indonesia<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dilansir dari<\/span><a href=\"https:\/\/www.ayobandung.com\/bandung-raya\/799338164\/kota-bandung-resmi-jadi-kota-termacet-di-indonesia-kalahkan-jakarta-warganet-soroti-soal-plat-luar\"> <span style=\"font-weight: 400;\">Ayobandung.com<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, Asian Development Outlook 2019-Update menyebut bahwa Kota Bandung menempati urutan ke-14 sebagai kota termacet di Asia. Urutan tersebut di atas Jakarta yang menempati posisi ke-17, yang artinya lebih macet dari Jakarta. Populasi masyarakat di Kota Bandung sendiri jumlahnya 2,4 juta jiwa, sedangkan jumlah kendaraan bermotor yang ada di Kota Bandung jumlahnya mencapai 2,2 juta unit. Gimana nggak macet?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bandung Raya (Kota Bandung,<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-alasan-orang-cimahi-terpaksa-ngaku-asli-bandung-di-perantauan\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">Kota Cimahi<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat) belum punya sistem bus yang proper seperti di Jakarta. Bandung Raya juga belum punya kereta rel listrik commuter line (KRL), ada mass rapid transit (MRT), ada light rail transit (LRT) seperti Jabodetabek. Sehingga, mau nggak mau, masyarakat Bandung Raya harus menggunakan kendaraan pribadi sebagai sarana untuk bepergian setiap hari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bandung Raya memang memiliki Kereta Api Commuter Line Bandung Raya. Tapi, keberadaan kereta tersebut saya nilai tidak terlalu membantu mengurai kemacetan di Bandung Raya. Pasalnya, kereta tersebut hanya melewati rute PP Bandung Barat (Padalarang dan sekitarnya) ke Bandung Timur (Cicalengka dan sekitarnya) saja. Sedangkan wilayah Bandung Utara (Lembang dan sekitarnya) dan Bandung Selatan (Ciwidey dan sekitarnya) tidak terjamah sama sekali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau bus gimana?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bandung Raya memang memiliki Bus Trans Metro Bandung (TMB) dan Bus Trans Metro Pasundan (TMP) yang bisa mengurangi ketergantungan masyarakat Bandung Raya akan kendaraan pribadi. Tapi jumlah armada dan koridornya masih sangat terbatas. Selain itu,\u00a0 sejak pertama diluncurkan,<\/span><a href=\"https:\/\/jabar.inews.id\/berita\/marak-terjadi-sopir-angkot-adang-bus-trans-metro-pasundan-polisi-cari-pelaku\"> <span style=\"font-weight: 400;\">Bus TMP kerap mendapatkan pengadangan dari oknum sopir angkot<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> sehingga lagi-lagi, masyarakat lebih memilih kendaraan pribadi.<\/span><\/p>\n<p><strong>Baca halaman selanjutnya<\/strong><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kota-bandung-nggak-punya-sistem-transportasi-publik-yang-proper\/2\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em>Kenapa nggak bikin sistem yang proper sih?<\/em><\/a><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>Kenapa nggak bikin sistem transportasi publik yang proper sih?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alih-alih membuat sistem transportasi publik yang baik atau menyelesaikan masalah dengan sopir angkot di atas, Pemerintah Jawa Barat malah membangun Masjid dan Patung Sukarno dengan nilai yang amat fantastis. Saya yakin yang geleng-geleng kepala akan hal tersebut bukan cuma saya aja. ~wqwqwq<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai orang yang sejak lulus kuliah bolak-balik Jakarta untuk bekerja, saya menilai, semacet-macetnya Jakarta, masyarakat DKI Jakarta masih punya alternatif transportasi publik dibandingkan dengan masyarakat Bandung Raya. Ada KRL, MRT, LRT, Bus Transjakarta, hingga Jak Lingko. Setidaknya, masyarakat DKI Jakarta bisa duduk tenang di kendaraan umum alih-alih macet-macetan di jalan raya kayak masyarakat Bandung Raya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masyarakat Bandung Raya nggak punya pilihan sama sekali selain menggunakan kendaraan pribadi. Sistem transportasi umumnya masih jelek. Maksain naik ojek online atau taksi online harganya mahal sehingga menggunakan kendaraan pribadi jauh lebih masuk akal meski capek banget.<\/span><\/p>\n<h2><b>Bukan nggak bersyukur, tapi saya sayang banget dengan Bandung!<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bandung memiliki Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjajaran serta berbagai kampus PTN dan PTS lainnya. Di universitas tersebut, Ilmu Perencanaan Wilayah dan Kota, Ilmu Arsitektur, Teknik Sipil, Teknik Lingkungan, dan rumpun Ilmu Sosial berkumpul.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenapa Pemerintah Jawa Barat dan Pemerintah Kota Bandung nggak minta saran dari mereka saja untuk kemudian dipraktikkan? Jadi kepo, kendalanya apa sih? Apa anggarannya nggak cukup? Kan bisa bikin masjid dan Patung Sukarno dengan nilai fantastis. Kenapa yang esensial gini nggak bisa?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya ngeluh kayak gini juga bukan berarti saya benci dengan Bandung. Saya juga nggak benci dengan masyarakatnya atau Pemerintahnya. Justru saya sayang banget dengan Bandung. Saya pengin Bandung kayak dulu lagi. Nggak macet dan nggak panas. Nggak usah muluk-muluk seindah zaman Kolonial Belanda sampai-sampai dijuluki Paris van Java, minimal seadem kayak zaman Dilan 1990 gitu deh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Biar bagaimanapun, Kota Bandung adalah tempat kelahiran saya. Kota Bandung adalah kota tempat saya tumbuh dan berkembang. Kota Bandung juga barangkali akan jadi tempat saya dikebumikan kelak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu saya selalu bangga dengan Kota Bandung karena kotanya nggak semacet Jakarta dan nggak sepanas Jakarta sehingga banyak orang Jakarta merantau untuk kuliah atau bekerja di sini. Setelah dapat predikat jadi kota termacet di Indonesia, saya mau ngasih saran untuk orang Jakarta yang berencana kuliah atau bekerja di sini: putar balik. Udah, nggak usah ngeyel.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Raden Muhammad Wisnu<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kota-bandung-yang-semakin-terasa-asing\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kota Bandung yang Semakin Terasa Asing<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dulu saya selalu bangga dengan Kota Bandung karena kotanya nggak semacet Jakarta dan nggak sepanas Jakarta. Sekarang? Nggak dulu.<\/p>\n","protected":false},"author":272,"featured_media":203061,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[911,10905,19983],"class_list":["post-225861","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-kemacetan","tag-kota-bandung","tag-sistem-transportasi"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/225861","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/272"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=225861"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/225861\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/203061"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=225861"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=225861"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=225861"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}