{"id":225582,"date":"2023-07-24T13:36:44","date_gmt":"2023-07-24T06:36:44","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=225582"},"modified":"2023-07-24T13:36:44","modified_gmt":"2023-07-24T06:36:44","slug":"ada-cerita-tentang-manusia-purba-dan-kesabaran-di-museum-semedo","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ada-cerita-tentang-manusia-purba-dan-kesabaran-di-museum-semedo\/","title":{"rendered":"Ada Cerita tentang Manusia Purba dan Kesabaran di Museum Semedo"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak orang tahu kalau warteg itu asalnya dari Tegal. Banyak pula yang langsung teringat dengan Tegal manakala berbicara tentang sate kambing, soto ataupun tahu aci. Namun, tak banyak orang tahu bahwa di Tegal juga ada sebuah tempat di mana kita bisa melihat dan mempelajari sejarah manusia purba. Tempat itu bernama Museum Semedo.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terletak di Desa Semedo, Kecamatan Kedungbanteng, Museum ini berjarak sekitar 26 km dari pusat Kabupaten Tegal. Jangan khawatir, akses jalan menuju ke lokasi sudah beraspal. Sehingga, nyaman untuk dilewati kendaraan. Memang, sih, di beberapa titik jalannya terasa sempit untuk mobil simpangan. Tapi tak apa. Bukankah kesempitan kerap mengajarkan kita tentang makna kesabaran?\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Sejarah Museum Semedo<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berdirinya museum Semedo tak lepas dari perjuangan salah seorang warga bernama Dakri. Dakri diketahui rajin menggali dan mengumpulkan benda purbakala yang ia temukan di situs semedo selama bertahun-tahun. Puncaknya terjadi pada 2011, Dakri menemukan fosil fragmen atap tengkorak manusia purba. Ia pun segera memberi kabar ke pihak Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak lama kemudian, datanglah pakar arkeologi dari Balai Arkeologi Yogyakarta bersama pihak Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran. Mereka kemudian melakukan penelitian bersama tentang kebenaran benda purbakala yang ditemukan Dakri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hasil penelitian pun menyatakan bahwa pecahan atap tengkorak bagian belakang yang Dakri temukan adalah fosil manusia purba dari zaman Pleistosen Tengah, atau sekitar 700.000 tahun yang lalu. Kemudian, sebagai bentuk konservasi terhadap benda-benda peninggalan purbakala, pemerintah membangun museum Semedo. Benda-benda purbakala yang Dakri temukan pun disimpan di sana.<\/span><\/p>\n<h2><b>Daya tarik Museum Semedo<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat kali pertama memasuki gerbang Museum Semedo, pengunjung akan dibuat terpesona dengan tampilan luar museum. Dari luar, gedung museum Semedo memang tampak gagah dan indah. Ada ornamen gambar homo erectus yang sangat besar di bagian depan dinding gedung. Seolah, homo erectus itu sedang menyambut pengunjung yang datang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu di bagian samping kanan gedung museum, ada replika gading berukuran besar. Tak ketinggalan, ada pula replika gajah purba. Harus diakui, penataan bagian luar museum memang memanjakan mata pengunjung. Banyak spot menarik yang bisa dijadikan latar untuk berfoto. Apalagi, di sekitar halaman museum terdapat banyak pohon dan bunga yang membuat suasana jadi se<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">makin asri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lantas, bagaimana dengan ragam koleksi yang ada di museum Semedo?<\/span><\/p>\n<h2><b>Ada 3 ruang pamer<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara garis besar, bagian dalam Museum terdiri atas 3 ruang pamer. Di ruang pamer pertama, pengunjung dapat belajar tentang pembentukan alam semesta, kedatangan homo erectus di Nusantara, jembatan darat pada zaman es dan migrasi out of Africa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak perlu repot-repot memahami infografis yang dimunculkan di dinding-dinding museum. Membersamai kita, ada mba tour guide yang berbaik hati menjelaskan semuanya untuk kita. Pengunjung tinggal mendengarkan sambil mengikuti langkah mbaknya saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selesai berkeliling di ruang pamer pertama, pengunjung akan dibawa ke ruang pamer kedua. Di sini, tour guide akan menjelaskan tentang persebaran <a href=\"https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Homo_erectus\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">homo erectus<\/a> di Indonesia, tingkatan evolusi homo erectus dan situs Semedo.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terakhir, ada diorama-diorama kehidupan manusia purba di ruang pamer ketiga. Nanti, sebelum keluar dari museum, pengunjung diperbolehkan untuk menyentuh salah satu fosil tulang yang ada di museum Semedo.<\/span><\/p>\n<h2><b>Melatih kesabaran<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, dibutuhkan kesabaran yang ekstra jika ingin berkunjung ke museum Semedo. Ini bukan kesabaran tentang akses jalan yang bikin mobil sulit simpangan. Ini tentang kesabaran yang lain. Yaitu, kesabaran untuk menunggu giliran masuk ke dalam museum.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, pengunjung di museum Semedo memang dibatasi. Per satu kloternya, hanya diperbolehkan sekitar 10 orang saja. Kloter selanjutnya baru boleh masuk jika kloter yang di dalam sudah keluar dari museum.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, kesabaranmu sungguh diuji jika hari kamu berkunjung ke Museum Semedo bertepatan dengan kunjungan anak sekolah. Wah, kalau seperti itu kejadiannya, saran saya, mending ganti hari. Kecuali, kamu oke-oke saja kalau harus menunggu selama berjam-jam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Latihan kesabaran lainnya yaitu sabar terhadap proses. Entah kenapa, saya hanya bisa menikmati Museum Semedo sampai di pertengahan ruang pamer yang kedua saja. Selanjutnya, bosan. Pengin cepet-cepet keluar. Pengunjung lain juga sepertinya merasakan hal yang sama. Terbukti, begitu memasuki ruang pamer ketiga, banyak yang asik sendiri. Ya main gadget, ya ngobrol, malah ada yang curi pintu keluar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apa ini memang penyakit umum orang pergi ke museum, ya? Rentan bosan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, jika kalian tertarik untuk berkunjung, boleh-boleh saja. Silakan dicatat, ya, Museum Semedo hanya buka mulai hari Kamis hingga Minggu. Selamat berkunjung dan jangan lupa kabari saya apakah kamu bosan atau tidak selama di sana.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-destinasi-museum-date-di-jogja-biar-kencanmu-nggak-ke-situ-situ-aja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">3 Destinasi Museum Date di Jogja biar Kencanmu Nggak ke Situ-situ Aja<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tak banyak orang tahu bahwa di Tegal ada sebuah tempat kita bisa mempelajari sejarah manusia purba. Tempat itu bernama Museum Semedo.<\/p>\n","protected":false},"author":613,"featured_media":225586,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[19958,19959,2857],"class_list":["post-225582","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-homo-erectus","tag-museum-semedo","tag-tegal"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/225582","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/613"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=225582"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/225582\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/225586"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=225582"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=225582"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=225582"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}