{"id":225542,"date":"2023-07-24T10:15:14","date_gmt":"2023-07-24T03:15:14","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=225542"},"modified":"2023-07-24T10:15:14","modified_gmt":"2023-07-24T03:15:14","slug":"mengejar-madura-united-menemukan-harmoni","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mengejar-madura-united-menemukan-harmoni\/","title":{"rendered":"Mengejar Madura United Hingga ke Pamekasan, Menemukan Harmoni dari Frasa Settong Dhere"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa tahun yang lalu, saya bekerja sebagai penulis dan wartawan untuk sebuah media sepak bola. Pengalaman tersebut terjadi jauh sebelum saya diajak masuk Mojok oleh Mas Puthut EA untuk mengasuh rubrik Balbalan, yang sementara mati suri. Salah satu pengalaman tak terlupakan kala itu adalah mengejar Madura United hingga Pamekasan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tim liputan kala itu terdiri dari 5 orang; 2 reporter, 1 penulis, dan 1 videografer, dan 1 media sosial. Tujuan kami adalah melakukan liputan tentang animo sepak bola di Madura, khususnya, tentu saja Madura United. Saya sendiri kebagian tugas menulis Madura United dari sisi humaniora. Jadi bukan laporan pertandingan semata.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya berangkat sendirian dari Jogja naik kereta api. Sementara itu, videografer dan media sosial berangkat dari Jakarta. Terakhir, 1 penulis dan 1 reporter menunggu di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/surabaya-semarang-superior-malang-remahan-peyek\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Surabaya<\/a>. Kami sampai 1 hari sebelum jadwal pertandingan Madura United. Oleh sebab itu, memanfaatkan waktu yang cukup lapang, kami memutuskan menonton Persebaya Surabaya yang main di hari Sabtu, di Gelora Bung Tomo.<\/span><\/p>\n<h2><b>Persebaya Surabaya yang selalu bergairah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut saya, menonton Persebaya Surabaya bermain di Gelora Bung Tomo harus kalian lakukan minimal sekali seumur hidup. Sensasi menonton di Gelora Bung Tomo itu beda banget. Kalau yang pertama datang ke sana pasti kaget. Kamu harus melewati tambak garam yang sangat luas untuk mencapai stadion.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Iya, Gelora Bung Tomo memang berada di tengah-tengah tambak garam. Bahkan untuk mencapai stadion ini dari pusat kota Surabaya, kamu harus masuk tol, menembus Gresik, lalu masuk Surabaya lagi. Kombinasi suhu yang teramat panas, debu, dan kemacetan mewarnai perjalanan. Sungguh pengalaman yang seru.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di dalam stadion, kamu bisa beberapa kali mencium aroma sampah. Iya, kalau angin sedang mengarah ke stadion, kamu bisa menciumnya. Namun, animo Bonek tak bakal bisa diredam oleh kesulitan apapun. Menyaksikan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mentalitas-bonek-sudah-ada-sejak-awal-berdirinya-majapahit\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bonek<\/a> secara langsung seperti mendapatkan pemahaman terbaik bahwa sepak bola memang begitu dicintai.<\/span><\/p>\n<h2><b>Madura United sudah menunggu, tapi Bebek Sinjay perlu dikunjungi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hari Minggu pagi, kami sudah siap menembus Suramadu menuju Madura. Hari itu adalah hari di mana misi kami ditentukan. Madura United sudah menunggu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, sebelum bekerja, alangkah nikmatnya jika mengisi perut terlebih dahulu. Maka, sudah sampai di Madura tentu nggak lengkap kalau nggak mengganyang <a href=\"https:\/\/sahabat.pegadaian.co.id\/artikel\/wirausaha\/cerita-kesuksesan-bisnis-kuliner-madura#:~:text=Mohamamd%20Gaffar%20pemilik%20warung%20Bebek,lima%20ekor%20bebek%20per%20hari.\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bebek Sinjay<\/a> otentik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rute yang kami lewati adalah lewat Jl. Panglima Sudirman, Jl. Kedung Cowek, Jl. Tol Suramadu, Jl. H. Moh. Noer, dan Jl. Raya Suramadu. Ketika sampai di pertigaan yang jika belok ke kanan menuju Jl. Raya Galis, kami belok kiri menuju Jl. Raya Burneh menuju Bangkalan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sampai di perbatasan Jl. Pemuda Kaffah dan Jl. Raya Ketengan, perut kami makin bergoncang. Mulut mulai memproduksi liur, mata mulai tidak fokus. Ini artinya kami sudah sampai di warung Bebek Sinjay. Madura United bisa menunggu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untung saja hari belum siang, masih habis pagi. Antrean di loket pemesanan sekaligus pembayaran warung Bebek Sinjay belum panjang. Kami berlima hanya butuh mengantre 15 menit sebelum akhirnya bisa memesan salah satu kuliner dewa itu. Kalau sudah masuk jam makan siang, antrean bisa mengular. Kamu baru bisa memesan setelah mengantre sekitar satu jam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang dominan adalah gurih, lalu disusul sedikit rasa manis. Rasa yang menggugah itu terasa sampai ke tulang-tulang bebek yang kami klamuti saking enaknya. Dagingnya empuk dan tidak berbau, bukti sudah ditangani secara profesional.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kremesan yang menjadi teman sangat cocok dengan nuansa gurih dan nasi pulen. Jangan lupa balurkan sambal mangga ke tubuh bebek yang seksi itu. Maka, rasa asam dan pedas yang bersahabat menemani gurihnya Bebek Sinjay.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kurang puas, kami juga memesan menu pendamping. Satu piring penuh berisi ati dan ampela, serta sambal mangga porsi ketiga. Luar biasa. Bekal yang pas untuk menjumpai Madura United.<\/span><\/p>\n<h2><b>Madura United di Pamekasan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Madura United mempunyai 2 kandang untuk menjamu lawan, yaitu Stadion Gelora Bangkalan dan Stadion Gelora Ratu Madura Ratu Pamelingan. Seandainya Madura United bermain di Bangkalan, tentu kami bisa agak santai.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, saat itu, mereka akan bermain di Ratu Pamelingan yang terletak di Pamekasan. Waktu tempuh dari Bangkalan ke Pamekasan itu sekitar 2 jam 30 menit. Lantaran pasti macet karena hari pertandingan, perjalanan bisa memakan waktu hingga 3 jam lebih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka jadi sudah, rombongan kami ngebut untuk mencapai Pamekasan tepat waktu. Apalagi kami kami harus melakukan persiapan awal untuk membuat liputan. Untungnya, jalanan di Madura itu banyak lurusnya, terutama menjelang Pamekasan. Hari juga masih siang jadi kami bisa tancap gas naik Honda Mobilio.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Surabaya itu hawanya panas. Namun, waktu itu, saya sadar bahwa panas Madura itu berbeda. Jauh lebih menyengat. Mungkin, di Madura, yang paling laku adalah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/fenomena-es-teh-jumbo-yang-menggusur-es-teh-hik-plastikan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">es teh<\/a>, payung, dan sunblock.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, saya menyaksikan pemandangan yang luar biasa ketika hampir sampai di Pamekasan. Saya melihat seorang bapak-bapak, mungkin sudah berusia hampir 60 tahun, berjalan di aspal yang seperti mendidih tanpa alas kaki! Sakti sekali pikir saya. Teman saya berseloroh bahwa itu hal biasa di sini. Panas menyengat itu panas biasa saja bagi penduduk Madura.<\/span><\/p>\n<h2><b>Madura United yang membuat saya takjub<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tepat pukul 17.42, announcer Stadion Gelora Ratu Pamelingan menyampaikan kepada penonton bahwa waktu salat Mahrib sudah tiba. Beliau menyampaikan bahwa jangan lupa menitipkan doa untuk kemenangan Madura United. Petang itu, Madura United ditahan imbang Borneo FC dengan skor 1-1.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masyarakat Madura yang mayoritas beragama Islam memang begitu intim dengan kepercayaan yang mereka anut. Dua hal, sepak bola dan agama, keduanya bisa berjalan beriringan, tidak saling mengalahkan. Dan petang itu, di sudut-sudut stadion, terlihat banyak anak muda yang bergegas membentuk beberapa baris. Mereka berjemaah, menunaikan ibadah salat Magrib.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi orang Madura, ada frasa yang sangat melekat, yaitu salam \u201csettong dhere\u201d, yang berarti \u201csalam satu darah\u201d. Jika frasa settong dhere diteriakkan, maka jawabannya adalah tretan dhibik yang artinya \u2018saudara sendiri\u2019.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya, orang Madura sering menggunakan salam ini untuk saling menyapa di perantauan. Ketika jauh dari rumah, para orang Madura ini tetap terikat oleh rasa settong dhere dan tretan dhibik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rasa persaudaraan yang begitu kuat itu terlihat ketika jeda babak pertama berlangsung. Beberapa suporter Madura United mengarak bendera raksasa berwarna hitam, dengan latar belakang gambar Pulau Madura berwarna merah dan putih. Di bawah gambar Pulau Madura, tercetak frasa \u201cMadura Bersatu\u201d. Indah sekali.<\/span><\/p>\n<h2><b>Sepak bola sebagai pemersatu<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBuat kami, orang Madura, sepak bola itu pemersatu,\u201d ucap Pak Hasan (49 tahun). \u201cMadura ada empat kabupaten. Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Semuanya dipersatukan oleh sepak bola, oleh Madura United ini,\u201d tambah Pak Hasan yang malam itu menonton pertandingan bersama salah satu anaknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pak Hasan adalah salah satu suporter setia. Bapak berkacamata ini hampir selalu mengikuti Madura United ketika laga tandang. Salah satunya ketika Laskar Sapeh Kerrab dijamu Persija Jakarta. Pak Hasan berangkat bersama anaknya. Nampaknya, kegairahan sepak bola Madura tengah beliau tanamkan dalam-dalam kepada anaknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPemersatu itu maksudnya seperti kata-kata settong dhere itu,\u201d kata Pak Hasan sambil menunjuk salah satu spanduk suporter. \u201cSettong artinya \u2018satu\u2019, kalau dhere, artinya \u2018darah. Jadi suporter Madura itu saudara. Bersatu untuk mendukung Madura United,\u201d tegasnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rasa damai di tengah masyarakat, terkadang, tidak membutuhkan teori dan pemikiran yang terlalu jauh. Yang justru dibutuhkan adalah kearifan lokal, nilai paling dekat dengan masyarakat. Bagi orang Madura, pertalian darah adalah kerinduan akan kampung halaman, akan suasana aman ketika berada di tengah keluarga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan, jawaban yang dibutuhkan oleh sepak bola Indonesia, mungkin, ada di sudut-sudut <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/madura-justru-amat-butuh-kereta-api\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pulau Garam<\/a>, Pulau Madura. Pertalian saudara yang kuat, akrab, dan terus dirayakan. Mendorong jauh politik dan produk-produk negatif dari lapangan hijau. Memurnikan sepak bola, menjadikannya hakiki, mutlak soal olahraga yang sportif dan memberi rasa damai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salam Satu Darah di mata orang Madura adalah soal pertalian saudara umat manusia. Saling menguatkan, dan bergerak dalam harmoni Madura United.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/madura-tidak-butuh-kereta-api\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Madura Tidak Butuh Kereta Api!<\/a><br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Madura United membawa saya menuju Gelora Ratu Pamelingan di Pamekasan. Di sana, saya justru menemukan sebuah keajaiban dari Pulau Garam.<\/p>\n","protected":false},"author":425,"featured_media":225548,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[5020,19948,19949,19950],"class_list":["post-225542","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-madura","tag-madura-united","tag-settong-dhere","tag-tretan-dhibik"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/225542","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/425"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=225542"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/225542\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/225548"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=225542"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=225542"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=225542"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}