{"id":225509,"date":"2023-07-25T14:18:50","date_gmt":"2023-07-25T07:18:50","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=225509"},"modified":"2023-07-25T14:18:50","modified_gmt":"2023-07-25T07:18:50","slug":"krisis-benih-tanaman-di-sumenep-mengancam-kehidupan-petani","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/krisis-benih-tanaman-di-sumenep-mengancam-kehidupan-petani\/","title":{"rendered":"Jeritan Petani Sumenep: Krisis Benih Tanaman yang Mengancam Kelangsungan Ekosistem Pertanian"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sumenep, sebagai bagian dari Madura, memiliki kondisi tanah yang gersang dan tidak subur. Meski begitu, bukan berarti tidak ada aktivitas pertanian. Masyarakat Sumenep, terutama di desa, masih melakukan kegiatan bertani, kendati hasil panennya tidak seproduktif dengan pertanian di Jawa. Kata keluarga saya yang di Jawa, dalam setahun bisa panen 4-6 kali. Sedangkan, di Sumenep hanya bisa panen 2-3 kali dalam setahun.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski hasil panennya tidak banyak, tapi petani Sumenep tetap bertani karena leluhurnya mengajarkan untuk tidak lupa dengan asal muasalnya. Mengingat nenek moyangnya selain hidup dari melaut, juga hidup dari bertani.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, sekarang petani Sumenep mulai enggan bertani. Bukan karena mereka mau melupakan asal muasal nenek moyangnya. Melainkan, sekarang petani mulai mengalami kesulitan untuk bertani.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nenek saya yang masih aktif bertani, bercerita kalau petani Sumenep kesulitan untuk mendapatkan benih tanaman. Padahal, dulu untuk mendapatkan benih tanaman bukan perkara yang sulit. Mencari ke pasar, sudah banyak orang yang menjual benih tanaman.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Krisis benih tanaman di Sumenep<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Entah mengapa, justru sekarang petani sulit untuk memperoleh benih tanaman. Dalam hal ini, petani melihat ada permainan politik di belakangnya. Kok bisa? Karena kesulitan petani mendapatkan benih tanaman di pasar, justru tersedia di kelompok tani.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski tersedia di kelompok tani, itu pun tidak semua petani bisa mendapatkan benih tanaman. Hanya petani yang sudah terdaftar dan menyelesaikan urusan administrasi yang bisa mendapatkan benih tanaman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya, kesulitan petani Sumenep mendapatkan benih tanaman juga sering terjadi di tahun-tahun sebelumnya. Hanya saja, 2023 menjadi klimaksnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan kesulitan dan kerumitan mendapatkan benih tanaman, sampai-sampai tetangga yang jadi petani bergumam, \u201cKayaknya, pemerintah mau mematikan kehadiran petani dengan perlahan.\u201d Asumsi mereka sederhana, kalau petani sulit mendapatkan benih tanaman, maka akan mencari pekerjaan lain. Ketika mendapatkan pekerjaan lain, kemudian akan berhenti menjadi petani.<\/span><\/p>\n<h2><b>Dampak krisis benih yang tak main-main<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kesulitan petani mendapatkan benih tanaman, berdampak pada ekosistem pertanian lainnya. Sekarang, petani Sumenep sulit mendapatkan tukang nyaka\u2019(membajak sawah) dan tukang ngonor (tukang mengairi). Padahal, dulu mencari tukang saka\u2019 dan tukang ngonor merupakan perkara yang mudah. Meskipun mencari dengan waktu mendadak, masih bisa memperolehnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbanding terbalik dengan sekarang. Mencari dalam waktu satu bulan, belum tentu bisa memperolehnya. Sebab, tukang nyaka\u2019 dan tukang ngonor sudah berkurang jumlahnya. Alasannya, banyak petani yang sudah mulai enggan bercocok tanam. Dengan begitu, tukang nyaka\u2019 dan tukang ngonor juga mulai beralih profesi, seperti tukang bangunan. Mereka sadar bahwa ada keluarga yang perlu dihidupi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi tidak mengherankan kalau petani Sumenep kesulitan mendapatkan tukang nyaka\u2019 dan tukang ngonor. Sekalipun dapat, harga bayarannya mahal. Pengakuan nenek saya, harga bayaran tukang ngonor dan tukang nyaka\u2019 adalah 125 ribu per hari. Dan biasanya untuk nyaka\u2019 dan ngonor butuh waktu paling sebentar dua hari. Kalau dikalkulasikan, biaya pengeluaran petani adalah 500 ribu untuk membayar tukang nyaka\u2019 dan tukang ngonor.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Harga yang terbilang mahal bagi petani, tapi harus dilakukan untuk keberhasilan bertaninya. Belum lagi biaya untuk membeli obat hama dan <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Pestisida\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pestisida.<\/a> Yang kalau dihitung bisa menghabiskan sekitar 300 ribu. Masih belum ongkos orang yang menyemprotnya, biaya bayarannya adalah 125 ribu per hari. Masih belum terhitung biaya pengeluaran waktu panen. Biasanya menghabiskan biaya sebesar 400 sampai 800 ribu untuk membayar tukang panen.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Biaya besar, tak sebanding dengan pemasukan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ironisnya, dengan banyaknya biaya pengeluaran dan usaha keras yang harus dikeluarkan oleh petani saat bertani, tidak sebanding pada waktu penjualan hasil panen. Sebab, petani Sumenep kesulitan untuk mendapatkan tengkulak yang mau menampung hasil panennya. Belum lagi harga jualnya yang murah, berkisar empat ribu sampai tujuh ribu per kilogramnya. Harga jual yang terbilang kecil dibandingkan dengan biaya pengeluarannya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan berbagai kesulitan yang dialami oleh petani Sumenep, menjadi wajar jika mereka menjerit perihal susahnya hidup dari bertani. Maka, apakah pemerintah hanya akan diam melihat jeritan petani Sumenep? Besar harapan saya, pemerintah mampu memberikan solusi terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi petani Sumenep saat ini. Semoga saja.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Akbar Mawlana<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jangan-heran-orang-madura-memang-harus-demo-apalagi-menyangkut-harga-tembakau\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jangan Heran, Orang Madura Memang Harus Demo Apalagi Menyangkut Harga Tembakau<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sekarang petani Sumenep mulai enggan bertani. Sebab, sekarang sedang terjadi krisis benih tanaman. Apa yang mau ditanam?<\/p>\n","protected":false},"author":891,"featured_media":225700,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[19973,17139,5020,695,16880],"class_list":["post-225509","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-benih-tanaman","tag-krisis","tag-madura","tag-petani","tag-sumenep"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/225509","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/891"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=225509"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/225509\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/225700"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=225509"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=225509"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=225509"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}