{"id":225407,"date":"2023-07-25T15:21:44","date_gmt":"2023-07-25T08:21:44","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=225407"},"modified":"2023-07-25T19:33:16","modified_gmt":"2023-07-25T12:33:16","slug":"taman-tobong-gamping-gunungkidul-ikon-yang-tak-lagi-laku","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/taman-tobong-gamping-gunungkidul-ikon-yang-tak-lagi-laku\/","title":{"rendered":"Taman Tobong Gamping Gunungkidul: Taman Kota Mirip Malioboro yang Kurang Cocok buat Nongkrong"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tugu Tobong Gamping sudah resmi jadi ikon baru di Gunungkidul. Adanya landmark di tengah kota ini, diharapkan mampu mempertebal identitas Kabupaten Gunungkidul sebagai daerah penghasil batu kapur. Seperti layaknya Malioboro, taman kota di kawasan tugu Tobong Gamping juga digadang-gadang bisa jadi ruang publik favorit warga dan para wisatawan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita tahu, sejak awal taman kota yang berada kawasan bundaran di Siyono, Kecamatan Playen, itu memang sengaja didesain mirip Malioboro. Ini bisa dilihat dari banyaknya lampu-lampu bulat pinggir jalan, kursi ala-ala, dan bola-bola mirip buah ciplukan raksasa khas Kota Jogja di sekitar bundaran Tobong Gamping. Nggak sedikit pihak yang kemudian menyebut kawasan ini sebagai Maliotobong.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski dulu sempat mendapat banyak penolakan dari berbagai pihak karena dianggap menghambur-hamburkan anggaran, nyatanya pembangunan tugu Tobong Gamping tetap dilanjutkan. Sekarang, taman kota impian Pemkab Gunungkidul itu sudah bisa digunakan warga untuk bersantai menikmati udara Bumi Handayani.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah saya beberapa kali mengunjungi kawasan ini, menurut saya, kawasan ini sepertinya kurang cocok dipakai buat nongkrong dan bersantai. Berikut alasannya:<\/span><\/p>\n<h2><b>Nggak cocok buat nongkrong karena panas dan bikin gerah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak lama setelah taman kota Tobong Gamping selesai dibangun, sebagian warga Gunungkidul berbondong-bondong nongkrong di kawasan ini. Sama seperti tipe pengunjung Malioboro, beberapa orang juga mengabadikan momen ini berswafoto di bawah lampu bulat dengan latar tugu tobong, lalu diupload di media sosial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejauh pengamatan saya, fenomena nongkrong di sekitar Tobong Gamping itu nggak berlangsung lama, cuma beberapa hari saja. Alih-alih dijadikan ruang publik favorit masyarakat, justru akhir-akhir ini sebagian warga Gunungkidul mengeluhkan lubang-lubang mengangga dan jalanan nggak rata di sepanjang kawasan ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kurang tahu persis apa penyebabnya\/ Tapi yang jelas sampai sekarang di sepanjang jalan menuju bundaran tugu Tobong Gamping memang banyak ditemukan jeglongan. Cukup ironsi memang, padahal habis ratusan juta lho, kok ya hal-hal dasar kayak gini malah terabaikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, kalau siang hari suasana di kawasan ini juga terasa panas. Hal ini terjadi lantaran di kawasan ini masih minim pohon-pohon rindang, sehingga kalau siang sampai sore terik matahari cukup menyengat. Bukannya mendapat kenyamanan, justru kalau nongkrong di tempat ini malah bikin gerah.<\/span><\/p>\n<p><strong>Baca halaman selanjutnya<\/strong><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/taman-tobong-gamping-gunungkidul-ikon-yang-tak-lagi-laku\/2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em><strong>Alasan lain yang bikin Maliotobong kurang cocok buat nongkrong adalah&#8230;<\/strong><\/em><\/a><br \/>\n<!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>Lampu banyak yang mati<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alasan lain yang bikin Maliotobong kurang cocok buat nongkrong selanjutnya adalah perkara lampu pinggir jalan. Beberapa kali saya melewati kawasan ini pada malam hari, lampu-lampu pinggir jalan kadang banyak yang mati.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awalnya saya mengira kalau itu hanya terjadi pada malam itu saja. Tapi, ternyata lampu di kawasan Tobong Gamping, khususnya di sisi selatan, memang sudah mati berbulan-bulan. Yah, niatnya mungkin memang bukan untuk menerangi para pejalan, tapi buat gagah-gagahan saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita tahu, lampu bulat adalah salah satu ciri khas dan ikon Malioboro. Tanpa lampu pinggir jalan itu, kesan romantis jelas nggak ada dong. Ya, siapa juga yang mau nongkrong di tempat gelap. Bukannya dapat suasana romantis, malah kayak mau uji nyali. Horor sekali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, saya masih tetap optimis. Barangkali justru itu esensi dari taman kota <a href=\"https:\/\/yogyakarta.kompas.com\/read\/2022\/09\/27\/201331778\/mengenal-tobong-gamping-calon-ikon-gunungkidul-yang-baru?page=all\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Tobong Gamping<\/a>. Landmark ini sejatinya nggak hanya jadi simbol eksploitasi alam saja, tapi juga menunjukkan bahwa di Gunungkidul memang masih banyak jeglongan sewu dan minim penerangan. Sungguh landmark yang mewakili keresahan semua warga yang tinggal di pelosok desa!<\/span><\/p>\n<h2><b>Maliotobong Gunungkidul, potret taman kota yang gagal jadi Malioboro<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak orang mengunjungi Malioboro karena memiliki nilai historis. Selain jadi bagian dari sumbu filosofi, dulu Malioboro juga jadi saksi lahirnya seniman-seniman besar Jogja. Terlebih lokasi Malioboro sangat strategis. Dekat Kraton Jogja, Benteng Vredeburg, dan tempat bersejarah lainnya. Jadi ya wajar kalau sampai sekarang masih diminati para wisatawan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kondisi tersebut tentu berbeda dengan Gunungkidul. Berhubung di sekitar Maliotobong nggak ada tempat bersejarah seperti Benteng Vredeburg, sepertinya wisatawan kurang tertarik bersantai di tempat ini. Misal saya jadi wisatawan juga ogah duduk di kawasan ini. Mending langsung ke pabrik originalnya saja, Malioboro, yang sudah jelas lebih cocok buat cuci mata dan bersantai dengan sanak-saudara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagian ngapain sih dulu repot-repot taman kayak Malioboro segala. Orang datang ke Gunungkidul itu kan pengin refreshing ke tempat wisata alam, seperti pantai, gua, dan air terjun. Jadi, kalau cuma disuguhi taman kota tanpa nilai historis yang menghabiskan anggaran ratusan juta itu, saya rasa wisatawan kurang tertarik.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Lha terus sebaiknya gimana? Emang salah gitu Gunungkidul bikin taman kota?<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak, saya nggak menyalahkan. Wong ya sekarang teman itu sudah jadi. Mau ngomong berbusa-busa kalau proyek itu cuma menghambur-hamburkan uang, tetap nggak akan mengubah keadaan. Mau bicara kalau jalan-jalan di Gunungkidul sebenarnya lebih cocok ditanami pohon resan saja, toh itu nggak guna. Mereka lebih suka tiru-tiru daripada menjadi diri sendiri. Sudahlah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mumpung mau musim Pemilu, tak kasih saran gratis Pak, Bu, para pejabat di Gunungkidul. Besok-besok kalau bikin sesuatu itu mbok sing sembada. Berani bikin taman kota, ya, kudu berani memperbaiki jalan-jalan rusak dong, Pak. Lihat saja itu di sepanjang jalan menuju pantai selatan, masih banyak jalan gronjal dan minim penerangan lho.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagian buat apa bikin taman megah di tengah kota tapi masih banyak ditemukan jembatan putus dan jalan gronjal? Bukannya lebih baik mengutamakan masalah yang subtil dulu daripada bikin taman yang kering esensi dan makna?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Percayalah, masyarakat itu lebih butuh hal-hal konkret daripada sekedar memoles wajah kota yang kering esensi dan makna itu. Yah, kecuali kalau ada agenda lain di balik proyek-proyek tiruan itu, saya angkat tangan. Itu urusan penjenengan dan Gusti Allah.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Jevi Adhi Nugraha<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/surat-terbuka-untuk-bupati-gunungkidul\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Surat Terbuka untuk Bupati Gunungkidul yang Lagi Sibuk Bikin Taman Kota<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Setelah Tobong Gamping selesai dibangun, warga Gunungkidul berbondong-bondong nongkrong di kawasan ini. Tapi setelah itu, sepi.<\/p>\n","protected":false},"author":547,"featured_media":170112,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[5281,8961,17814,19974],"class_list":["post-225407","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-gunungkidul","tag-jalan-rusak","tag-taman-kota","tag-taman-tobong-gamping"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/225407","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/547"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=225407"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/225407\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/170112"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=225407"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=225407"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=225407"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}