{"id":224267,"date":"2023-07-17T12:06:20","date_gmt":"2023-07-17T05:06:20","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=224267"},"modified":"2023-08-03T00:33:23","modified_gmt":"2023-08-02T17:33:23","slug":"personal-branding-ahmad-fauzi-begitu-berlebihan-faktanya-tidak-sehebat-itu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/personal-branding-ahmad-fauzi-begitu-berlebihan-faktanya-tidak-sehebat-itu\/","title":{"rendered":"Personal Branding Ahmad Fauzi Begitu Berlebihan, Faktanya Tidak Sehebat Itu"},"content":{"rendered":"<p><em>Persobal branding Ahmad Fauzi saya kira sudah terlalu berlebihan<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menciptakan personal branding untuk membentuk opini positif masyarakat adalah hal wajar bagi para politikus yang ingin nyalon. Bagi saya ini adalah manusiawi. Tanpa personal branding yang bagus, kepercayaan masyarakat akan luntur, eksistensinya kurang dilirik. Bahkan, parahnya, jarang atau bahkan tidak ada yang mengenalnya. Branding itulah yang kemudian berpengaruh terhadap elektabilitas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begitu juga yang dilakukan Bupati Sumenep, Ahmad Fauzi (saya panggil Cak Fauzi saja, biar lebih akrab). Cak Fauzi mungkin telah sukses menciptakan branding yang bagus untuk dirinya, sehingga pada 2021 silam, dia dan Ny. Eva resmi dilantik menjadi Bupati dan Wakil Bupati Sumenep.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terlepas dari pengaruh dominasi partai, barangkali dengan branding yang dibawa Cak Fauzi atas dirinya bisa menyentuh hati masyarakat Sumenep kala itu, termasuk saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Peserta politik elektoral tanpa personal branding itu bagai sop tanpa garam, hambar. Maka dibutuhkanlah beberapa daya pukau untuk menarik masyarakat, seperti contoh: Anies Baswedan dengan gaya Top of Mind Awareness-nya dan beberapa politisi lainnya, dengan gayanya masing-masing. Wajar!<\/span><\/p>\n<h2><strong>Ahmad Fauzi diisukan maju jadi gubernur Jatim<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Pilkada Jawa Timur mendatang, Cak Fauzi diisukan akan maju menjadi Gubernur Jawa Timur. Isu ini sedang gencar diberitakan dan menjadi obrolan. Beberapa momen pertemuan Fauzi dan Khofifah pun seolah makin memantapkan langkahnya untuk naik posisi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka dari itu, sejak saat ini Cak Fauzi terlihat mulai menciptakan personal branding (sebagaimana yang saya maksud di awal). Glorifikasi-glorifikasi atas dirinya semakin santer dipromosikan, yang terbaru adalah deklarasi dukungan relawan Cak Fauzi Jatim untuk maju sebagai gubernur. Deklarasi tersebut digelar di Resto Agis Surabaya, 19 Juni yang lalu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Para relawan mendorong Ahmad Fauzi untuk maju di Pilgub Jatim mendatang karena Cak Fauzi dinilai sangat pantas. Cak Fauzi\u2014kata mereka\u2014telah berhasil membangun Kabupaten Sumenep, menuntaskan kemiskinan, dan mensejahterakan masyarakat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, karena kerinduan mereka terhadap M. Noer, mantan Gubernur Legendaris Jawa Timur. Maka, sosok dan kepribadian seorang Cak Fauzi dianggap bisa merepresentasikan sosok beliau.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, sebagai konsumen kebijakan Sumenep, setelah dipikir-pikir, glorifikasi dan apa yang dikatakan relawan atas Ahmad Fauzi bagi saya terlalu berlebihan. Bolehlah sebagai personal branding, tapi yang perlu diingat, personal branding itu harus selalu sejalan dengan track record. Biar tidak terkesan menipu atau mengelabui.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Tsunami fakta<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun kembali lagi, diksi dalam politik elektoral itu memang hanya sekadar daya pukau dan cenderung omong kosong. Tak lebih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika relawan berkata Fauzi berhasil membangun Sumenep, saya tidak menemukan itu. Ada banyak masalah yang tidak diselesaikan dengan baik oleh Pemkab hingga saat ini. Kasus dan konflik lama masih banyak yang belum selesai. Konflik baru (yang bahkan lebih naif) berdatangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada beberapa alasan kenapa saya mengatakan branding atas Fauzi terlalu berlebihan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama, Sumenep di era Ahmad Fauzi tetaplah Sumenep yang menyedihkan. Cak Fauzi tak pernah benar-benar membangun Sumenep. Dia hanya pewaris yang (hampir) nggak ngapa-ngapain. Apalagi melihat maraknya konflik agraria yang terjadi belakangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedang panas-panasnya konflik ihwal privatisasi laut di Gersik Putih. Terjadi sengketa antara pemilik Sertifikat Hak Milik (SHM) dengan warga lokal yang rata-rata nelayan. Keduanya gaduh, namun sejauh ini belum ada rangkulan dari pihak Pemkab terkait masalah tersebut. Padahal, ini adalah bentuk meledaknya konflik agraria di yang terjadi di Sumenep.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Regulasi Pemkab atas perizinan tambak-tambak yang ada di Sumenep menjadi efek domino menakutkan bagi masyarakat. Bahkan, ada yang mengatakan pemkab telah terafiliasi dengan beberapa investor.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alih-alih untuk bikin sejahtera, warga sekitar tambak justru merasakan dampak buruk, entah secara lingkungan dan ekonomi. Kalau begini, slogan \u201cBismillah Melayani\u201d untuk siapa, Cak?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini baru satu masalah, belum lagi masalah lain. Seperti kemiskinan Sumenep yang makin mengkhawatirkan, prospek Visit Sumenep yang nggak jelas, pertambangan batu kapur atau fosfat yang bikin resah, dan lain-lain. Membangun Sumenep bagaimana yang dimaksud?<\/span><\/p>\n<h2><strong>Perbandingan yang berlebihan<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua, perbandingan sosok Cak Fauzi dengan M. Noer. Semuanya sepakat bahwa M. Noer adalah gubernur legendaris yang tidak tergantikan di hati masyarakat kebanyakan. Bahkan ada yang mengatakan bahwa jika ditanya siapa Gubernur Jawa Timur, jawabannya M. Noer, yang lain cuma pengganti.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alasan relawan menyamakan sosok mereka ini salah satunya adalah karena keduanya dianggap sama-sama sebagai penggagas. M. Noer yang menggagas <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Jembatan Suramadu dan Fauzi dengan Reaktivasi Kereta Api Madura.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fauzi (kabarnya) akan me-reaktivasi rel kereta kalau dia kepilih. Saya jadi ingat dengan janji tiket Coldplay Muhaimin Iskandar dan janji pemberantasan korupsi oleh Fahri Hamzah. Kurang dapat dipercaya, apalagi sudah menjadi rahasia umum, janji elektoral itu rata-rata bodong.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagaimana yang ditulis aktivis lingkungan dan kiai muda Sumenep, <a href=\"https:\/\/pcnusumenep.or.id\/opini\/pak-bupati-sumenep-ketinggalan-kereta\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Dardiri Zubairi<\/a>, di akun Facebooknya beberapa waktu silam, sebenarnya reaktivasi kereta api itu bukan ide Fauzi. Melainkan, ini adalah ide salah satu tokoh agama di Madura sebagai counter atas didirikannya tol Bangkalan-Sumenep. Jadi, lagi-lagi Fauzi bukan penggagas, melainkan hanya pewaris ide.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi menurut saya Cak, daripada Cak Fauzi menjual janji reaktivasi kereta api untuk maju ke Pilkada Jatim, lebih baik membenahi Sumenep yang amburadul dulu. Kalau rumah sendiri masih berantakan, ngapain ngurus rumah orang lain?<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Aqil Husein Almanuri<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/madura-justru-amat-butuh-kereta-api\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Madura Justru Amat Butuh Kereta Api!<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebagai konsumen kebijakan Sumenep, setelah dipikir-pikir, glorifikasi relawan atas Ahmad Fauzi bagi saya terlalu berlebihan.<\/p>\n","protected":false},"author":2052,"featured_media":190920,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12905],"tags":[19891,10506,8664,2501,19,17190,16880],"class_list":["post-224267","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-politik","tag-ahmad-fauzi","tag-branding","tag-gubernur","tag-jawa-timur","tag-pemilu","tag-pemilu-2024","tag-sumenep"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/224267","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2052"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=224267"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/224267\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/190920"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=224267"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=224267"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=224267"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}