{"id":223988,"date":"2023-07-14T11:40:40","date_gmt":"2023-07-14T04:40:40","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=223988"},"modified":"2023-07-15T08:22:57","modified_gmt":"2023-07-15T01:22:57","slug":"honda-scoopy-begitu-laris-padahal-overrated","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/honda-scoopy-begitu-laris-padahal-overrated\/","title":{"rendered":"Honda Scoopy Begitu Laris, Memangnya Apa yang Bikin Orang Suka sama Cangkang Keong Dikasih Ban Ini?"},"content":{"rendered":"<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kenapa ya Honda Scoopy laris banget? Keong dikasih ban gini aja rame<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di daerah saya, Scoopy menjadi jenama di segmen matic retro yang paling banyak peminatnya selain Honda Beat. Bahkan, orang-orang sampai rela inden lama. Kadang tak segan untuk membayar lebih mahal hanya untuk memboyong sebiji motor yang bagi saya tak lebih dari sekadar keong sawah facelift. Pelan dan ringkih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apa memang benar pabrikan Honda pakai \u201cpenglaris\u201d untuk menjual unit dagangannya? Pikiran ngawur mulai menjalar saat melihat kenapa orang-orang segila itu sama pabrikan berlogo sayap mengepak ini. Apalagi melihat betapa orang-orang sampai tergila-gila sama Honda Scoopy terbaru.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya berkesempatan ngobrol dengan beberapa teman sejawat yang suka dengan Honda Scoopy untuk menjawab rasa penasaran. Kenapa sih mereka lebih memilih skutik ini?<\/span><\/p>\n<h2><b>Honda Scoopy katanya Vespa versi lite<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Motor yang diinginkan Ebay sebenarnya adalah Vespa matic. Tapi apalah daya, dia masih sayang sama uang. Dan Honda Scoopy terbaru akhirnya menjadi pilihan yang masuk akal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDulu penginnya beli Vespa matic. Minimal Vespa LX atau S, Di. Tapi kok rasanya lebih sayang duit. Akhirnya mutusin buat beli Scoopy,\u201d ujar Ebay.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKan nggak mirip Bay?\u201d saya berusaha menyangkal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNggak apa-apalah, sama-sama klasik dan pakai ban ring 12 inci dengan profil ban 100\/90 depan serta 110\/90 di belakang. Terkesan semok dan padat, fitment-nya pas. Pun, spesifikasi mesin juga sama, masih nggak pakai radiator juga, wqwqwq.\u201d Dia terkekeh sama jawabannya sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTapi tenaganya gimana? Kan lemot banget motor Honda yang satu ini?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAh nggak juga, masih responsif kok berkat karakter mesin over stroke-nya. Kupakai jalan-jalan sama anak istri tetap enjoy. Malahan, gegara tarikan mesinnya yang halus, istri sampai ngantuk kalau saya bonceng. Satu lagi, Scoopy terbaru mendapat beberapa kebaruan seperti model lampu sein beda dari versi sebelumnya, model rangka baru di brosurnya sih tertulis ESAF (enhanced smart architecture frame) katanya sih lebih lincah.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDan memang lincah, Di. Meski dipakai boncengan, gerakannya tetap slundap-slundup melewati kemacetan daerah <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Masjid_Menara_Kudus\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Menara Kudus<\/a>,\u201d Lanjutnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cOh iya, alasan saya membeli Scoopy terbaru karena model velg-nya mirip sama Vespa matic keluaran awal.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tahu apa yang tertulis di bodi sebelah sisi kanan dan kiri Honda Scoopy teman saya ini? Tulisan Vespa gede. Dan semua tulisan Honda diganti dengan kata Vespa. Vespa Scoopy. Mungkin dia berharap ada Vespa lite. Dan ia mengira itu adalah motornya.<\/span><\/p>\n<p><strong>Baca halaman selanjutnya<\/strong><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/honda-scoopy-begitu-laris-padahal-overrated\/2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em><strong>Irit tapi mewah&#8230;<\/strong><\/em><\/a><br \/>\n<!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>Irit tapi mewah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbeda dengan Ebay, di waktu yang berbeda Helen memilih Honda Scoopy karena iritnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLho, bukannya Beat lebih irit? Kenapa nggak milih itu?\u201d sangkal saya ketika pertama kali mendengar alasan si Helen.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cEh, jangan samain sama Beat dong. Jelas Scoopy lebih punya prestise ke mana-mana,\u201d tegas Helen yang menganggap Honda Scoopy terbaru sudah berbeda level sama Honda Beat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tergelitik sama anggapan itu. Padahal baik Honda Scoopy atau Beat punya basic mesin yang sama. Bedanya cuman masalah bentuk bodi dan warna cat serta racikan di CVT. Selebihnya sama, nggak ada yang lebih baik, apalagi kalau ngomongin soal kualitas. Biyuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPokoknya Scoopy lebih mewah aja, Mas. Desainnya juga manis podo aku. Dan yang tak kalah penting, selain cakep Scoopy motor yang ringan (95 kg). Jadi enak dan gampang kalau cewek kayak aku kudu geser-geser posisinya. FYI saja, satu liter BBM bisa dipakai untuk menempuh jarak hampir 60 kilometer dengan kapasitas tangki 4,2 liter. Bayangin aku cukup menghabiskan dua liter pertamax atau uang Rp30 ribu susuk untuk PP ke Semarang. Irit pol to?\u201d ujar Helen sambil berbangga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHmmm.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Halah, irit tapi ringkih dan nggak bisa kencang buat apa? Bikin ngantuk saja, batin saya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Fitur Honda Scoopy banyak<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teman saya yang lain jatuh cinta sama si Scoopy karena fiturnya lumayan oke. \u201cBejibun banget kalau soal fitur,\u201d dia berkelar seraya menyeruput kopi di warung .<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cCompartment banyak, ada jok gede sekitar 15 liter, terus ada laci-laci di bawah stang juga memudahkan saya menaruh minuman botol pas mancing ke daerah yang cukup jauh. Headlamp-nya sudah LED cukup berguna pas saya gabut malem-malem pengin mancing ke rawa-rawa yang angker di belakang Balai Desa.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Honda Scoopy terbaru memang sudah mengadopsi headlamp LED, tapi untuk lampu sein dan rem masih bohlam. Ini cukup mengganggu pikiran saya untuk harga motor yang bisa dibilang pricy.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cEnaknya, saya nggak perlu khawatir kehabisan baterai karena ada USB charger yang letaknya di bawah stang sebelah kiri. Sudah ada tutupnya lagi sehingga aman dari saat hujan, selain itu adanya USB charger bikin tenang lah kalau mau mancing-mancing. Nggak takut kehabisan baterai handphone, jadi istri nggak khawatir pas nyariin.\u201d Ucap Alex sebelum mengambil pisang goreng.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cOh iya, Honda Scoopy yang saya ambil tipe yang tertinggi loh. Sudah memakai kunci model keyless, keren, kan? Kalau tipe yang di bawah ini masih menggunakan kunci konvensional soalnya.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSudah makan dulu tuh pisang, keburu kepatok ayam.\u201d Saya mendengus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah menuntaskan menguyah pisang goreng, Alex kembali menegaskan bahwa membeli Scoopy adalah pilihan yang tepat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAjibnya, Scoopy sudah menyematkan stater senyap alias sudah ACG starter fitur yang saya paling demen. Ini fitur yang berguna banget karena, kadang, saya kudu diem-diem pas mau berangkat mancing. Sering istri nggak ngijinin.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMancing terus, istri nggak pernah perhatiin,\u201d ujar Alex saat menirukan istrinya ketika melarang dia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTapi, saya memegang betul pepatah dari Mauritius, Bud.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cApa tuh?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBojo muring, tinggal mancing.\u201d<\/span><\/p>\n<h2><strong>Keong dikasih ban gini kok pada suka<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alasan-alasan di atas memang terkesan valid. Memang, seaneh apa pun motor, tetap punya pasarnya sendiri. Selalu ada peminat yang rela beli motor aneh, dengan alasan yang sama anehnya pula. Liat tuh <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/suzuki-avenis-125-lebih-worth-it-untuk-dihujat-ketimbang-dibeli\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Avenis,<\/a> motor aneh tetep aja nekat dijual. Kenapa? Ya karena ada yang beli. Perkara laris atau nggak, itu beda cerita.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun tetap saja, bagi saya, Scoopy terbaru tak lebih dari keong sawah facelift. Pelan, ringkih, dan overpriced. Rasanya amat sayang jika harus mengeluarkan uang lebih dari Rp20 jutaan untuk sebiji motor satu ini. Sudah ah, saya mau nyuci Honda Beat dulu.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Budi<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/review-honda-pcx-150-setelah-setahun-pemakaian\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Review Honda PCX 150 Setelah Setahun Pemakaian<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Keong dikasih ban gini pada suka gimana dah ceritanya?<\/p>\n","protected":false},"author":1041,"featured_media":166369,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12903],"tags":[7808,19865,15471],"class_list":["post-223988","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-otomotif","tag-honda-scoopy","tag-motor-irit","tag-overrated"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/223988","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1041"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=223988"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/223988\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/166369"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=223988"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=223988"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=223988"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}