{"id":223908,"date":"2023-07-13T15:03:19","date_gmt":"2023-07-13T08:03:19","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=223908"},"modified":"2023-07-13T15:03:19","modified_gmt":"2023-07-13T08:03:19","slug":"wni-pindah-negara-singapura-itu-rasional-rumput-tetangga-beneran-lebih-hijau","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wni-pindah-negara-singapura-itu-rasional-rumput-tetangga-beneran-lebih-hijau\/","title":{"rendered":"WNI Pindah Negara Itu Nggak Salah, Justru Tindakan Tersebut Amat Rasional, Rumput Tetangga Kali Ini Beneran Lebih Hijau"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Direktur Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM, Silmy Karim, mengklaim ada 1000 WNI (usia 25-35 tahun) berpindah kewarganegaraan Singapura setiap tahunnya. Pernyataan tersebut kemudian menuai pro dan kontra di masyarakat. Beberapa orang mengatakan jika pilihan WNI pindah negara itu wajar, sementara yang lain menghardik orang yang pindah negara sebagai tidak nasionalis dan pengkhianat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya pribadi, pilihan WNI pindah warga negara Singapura adalah tindakan rasional. Saya cenderung melihat fenomena ini dari sudut pandang positif. Nggak ada yang salah dengan orang Indonesia yang pindah warga negara ke Singapura, Kanada, Amerika, atau ke Timbuktu sekalipun. Justru yang seharusnya introspeksi diri adalah pemerintah Indonesia. Kenapa ada banyak orang yang lebih tertarik pindah negara?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apa yang salah dengan negara kita? sebab, nggak mungkin dong, ribuan orang tersebut memutuskan <a href=\"https:\/\/www.cnnindonesia.com\/internasional\/20230711170730-106-972197\/imigrasi-klaim-1000-mahasiswa-ri-jadi-wn-singapura-per-tahun-kenapa\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pindah ke Singapura<\/a> untuk menyengsarakan hidupnya sendiri?<\/span><\/p>\n<h2><b>Tinggal di Singapura memang nyaman<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya memang tidak pernah tinggal di Negeri Singa dalam durasi yang lama. Namun, kalau tinggalnya hanya satu minggu atau beberapa hari, lumayan sering. Ini bukan berarti saya kaya, ygy. Jika kalian tinggal di Surabaya, liburan ke Singapura itu lebih murah ketimbang ke Labuan Bajo. Bahkan, tiket pesawat Surabaya-Singapura jauh lebih murah (Rp600 ribu naik AirAsia) daripada tiket pesawat Surabaya-Jogjakarta (Rp1.2-1.4 juta dengan Lion Air).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, dari kunjungan yang beberapa saat itu, saya merasakan kalau Singapura memang nyaman untuk ditinggali. Setidaknya, bagi kelas menengah atau rakyat biasa seperti saya ini. Kalau kalian kaya, hidup di Singapura mungkin tak seenak tinggal di Indonesia. Singapura adalah salah satu negara yang menerapkan pajak cukup tinggi untuk orang kaya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbeda dengan Indonesia yang lebih sering memberi pemutihan pajak untuk mereka yang berduit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, bagi rakyat biasa atau orang-orang yang bertahan hidup dari gaji bulanan dari perusahaan, Singapura adalah negara yang nyaman. Fasilitas publiknya lengkap, tak jauh dari flat (rusun) selalu ada rumah sakit, sekolah, dan stasiun MRT. Singapura juga terbilang aman, kasus kriminalitasnya rendah. Salah satu yang aman untuk turis, saya masih tenang berjalan di <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Geylang\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Geylang.<\/a><\/span><\/p>\n<h2><strong>Rusun yang begitu lengkap<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Warga Singapura memang mayoritas (sekitar 87 persen) tinggal di flat (rusun). Bukan rumah yang menapak di tanah seperti di Indonesia, di sana, hanya orang yang sangat kaya yang memiliki rumah sendiri. Mobil pun demikian, membeli mobil di Singapura ribet, mahal dan pajaknya tinggi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, pemerintah memberikan layanan transportasi umum yang terintegrasi untuk mobilitas warganya. Pemerintah juga mengelola rusun untuk memastikan seluruh warganya memiliki rumah tunggal, tidak bergelandangan di jalan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika kita bekerja sebagai ART sekalipun, hidup di Singapura terasa lebih nyaman karena fasilitas umumnya memadai. Saat naik MRT di Singapura, saya pernah bertemu dengan WNI yang juga berpindah warga negara. Mbaknya awalnya bekerja sebagai ART, lalu menikah dengan warga lokal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat saya bertanya apakah pernikahan adalah alasan utama pindah, jawabnya tidak. Pernikahan justru alasan kesekian. Alasan utamanya karena mbaknya nyaman dan mendapatkan kemudahan dalam fasilitas umum seperti transportasi, akses membeli rusun, dan gaji bulanan yang cukup untuk hidup. Bahkan ada beasiswa sekolah untuk ART, semacam program kejar paket di Indonesia. Menurut cerita mbaknya, kembali ke Indonesia belum tentu mendapatkan kerja yang lebih baik.<\/span><\/p>\n<h2><b>Indonesia (terlalu) fokus tenaga kerja murah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut berita yang saya baca di<\/span><a href=\"https:\/\/www.cnnindonesia.com\/internasional\/20230711170730-106-972197\/imigrasi-klaim-1000-mahasiswa-ri-jadi-wn-singapura-per-tahun-kenapa\"> <span style=\"font-weight: 400;\">CNN<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, sebagian besar WNI yang pindah ke Singapura adalah Gen-Z. Mahasiswa yang baru lulus kuliah dan sedang mencari kerja. Meskipun kita tak tahu alasan pastinya, tapi jika kita pikir secara rasional, peluang kerja di Singapura memang lebih tinggi dan upahnya lebih sesuai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalah utama kita memang dari dahulu adalah upah. Banyak yang bilang, upah ini tak bisa semata-mata diserahkan pada negara, rakyatnya pun juga harus berjuang demi hidup yang lebih baik. Tapi, realitasnya, tak selempeng itu. Cara-cara keluar dari jerat upah murah kerap tak berguna. Sebagai contoh, pendidikan tinggi, yang digadang-gadang \u201cmenaikkan derajat\u201d hidup, nyatanya tidak sesuai realitas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita gunakan logika sederhana saja. Misal kalian kuliah di UI yang per semesternya Rp14 juta. Begitu lulus, kalian dapat gaji 3 juta, sesuai dengan rata-rata gaji karyawan di Indonesia. Jika kalian kuliah selama 10 semester, kalian mengeluarkan biaya 140 juta. Dengan gaji sekitar 3 juta per bulan, Anda butuh 47 bulan untuk menutup cost kuliah kalian. Artinya, kalian baru balik modal empat tahun, itu pun jika uangnya nggak kalian apa-apain. Makannya gimana? Berfotosintesis dong.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">TLDR: Nominal gaji yang diterima terlihat tidak sepadan dengan biaya pendidikan yang ditempuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang sih, kita tidak seharusnya melihat pendidikan dengan logika kapitalistik. Tapi mau bagaimana lagi, banyak dari kita memang kuliah tinggi dengan harapan bisa berpenghasilan lebih baik, kan? Atau membuat hidup kita lebih sejahtera.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di saat negara lain sudah berusaha mengembangkan SDM-nya untuk kemajuan negara dan tidak lagi mengandalkan SDA untuk kaya. Kita malah sibuk mengeruk SDA dan menggaji buruh dengan upah pas-pasan. Masalah perburuhan di negeri ini seolah jalan di tempat, berputar pada besaran upah dan sistem kontrak. Setiap May Day kita melihat demo buruh membahas upah dan tunjangan kesehatan yang sering dilanggar pengusaha.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terus situ bilang WNI pindah negara itu pengkhianat? Beli kopi dulu deh, nggo raup.<\/span><\/p>\n<h2><b>Pemerintah harus introspeksi diri<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Serangkaian masalah tersebut jelas membuat orang yang punya pikiran rasional dan memiliki kemampuan untuk pindah negara tergiur untuk pergi. Pilihan tersebut memang dinilai oleh beberapa orang sebagai tindakan pengkhianat dan tidak nasionalis. Tapi, ngapain ngomong nasionalisme jika permisif sama korupsi? Ingat, perut itu punya ideologinya sendiri. Nggak usah maksa nilai kalian jika kalian nggak memakai sepatu yang sama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika memang WNI pindah dianggap merugikan negara, pemerintahnya lah yang harusnya intropeksi. Tawarkan benefit atau perbaiki semua hal yang sekiranya bikin orang ogah menghabiskan waktu di Indonesia. Lha situ maunya orang-orang berkualitas bertahan tapi nggak mau ngasih benefit yang sepadan? Tulong.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fenomena warga pindah negara, brain drain, dan semacamnya ini sebenarnya tak eksklusif masalah Indonesia doang. Negara lain pun begitu. Tapi, banyak dari mereka yang akhirnya mengevaluasi cara mereka memperlakukan rakyat. Ketimbang mempertanyakan rasa cinta, mending tunjukkan kalau kau pantas untuk dicinta.<\/span><\/p>\n<p>Jika kau tak menjaga, memastikan yang terbaik, serta memperlakukan orang yang kau cinta dengan baik, ya tinggal tunggu waktu pasanganmu pergi. Nah, kalau pake logika ini, jadi gampang paham kan?<\/p>\n<p>Penulis: Tiara Uci<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-alasan-orang-madura-bakal-sulit-betah-di-singapura\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">4 Alasan Orang Madura Bakal Sulit Betah di Singapura<\/a><\/b><\/p>\n<p><b><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><b><i>ini<\/i><\/b><\/a><b><i>\u00a0ya.<\/i><\/b><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bagi saya pribadi, pilihan WNI pindah warga negara Singapura adalah tindakan rasional. Rumput tetangga beneran lebih hijau kali ini.<\/p>\n","protected":false},"author":1542,"featured_media":223913,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[19856,1979,19855,3146,9590,9035],"class_list":["post-223908","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-brain-drain","tag-gaji","tag-pindah-negara","tag-singapura","tag-upah","tag-wni"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/223908","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1542"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=223908"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/223908\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/223913"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=223908"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=223908"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=223908"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}