{"id":222991,"date":"2023-07-05T14:46:57","date_gmt":"2023-07-05T07:46:57","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=222991"},"modified":"2023-07-05T14:46:57","modified_gmt":"2023-07-05T07:46:57","slug":"keadaan-jlt-lumajang-yang-memprihatinkan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/keadaan-jlt-lumajang-yang-memprihatinkan\/","title":{"rendered":"Keadaan JLT Lumajang yang Memprihatinkan: Pesona Alamnya sih Indah, tapi Lubang Jalannya Bikin Celaka"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika menyebut kata Lumajang, seketika pikiran akan terbawa pada keindahan wisata alamnya. Tidak bisa terbantahkan lagi jika Lumajang memiliki banyak destinasi wisata alam yang indah. Mulai dari gunung, pantai, air terjun, dan danaunya, menyatu dan membius para wisatawan untuk datang ke Lumajang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, keindahan wisata alam Lumajang, berbanding terbalik dengan Jalan Lintas Timur atau biasa dikenal dengan JLT. Jika satu kata yang pantas disematkan untuk mendefinisikan alam Lumajang adalah \u201cindah\u201d, maka satu kata yang cocok untuk mendefinisikan JLT ialah \u201cburuk\u201d.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak berlebihan jika saya mengatakan buruk pada JLT Lumajang. Sebab, memang faktanya kondisi jalanan di JLT sangat memprihatinkan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai orang Madura yang memiliki darah Lumajang, saya sering pulang kampung ke Lumajang. Dan untuk sampai ke rumah, saya pasti melewati jalan JLT. Selama melewati JLT, baik jalan dari sisi utara hingga selatan semuanya hancur.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kondisi jalan di JLT dipenuhi dengan lubang. Bahkan, jumlah lubangnya sangat banyak. Tidak tanggung-tanggung, jarak antara lubang satu dengan lubang yang lainnya tidak berjauhan. Parahnya lagi, lubang yang ada di JLT memiliki dimensi yang dalam. \u201cIni kok lebih parah daripada jalan di Madura,\u201d batin saya.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Mobil aja terperosok, apalagi motor<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyaknya lubang dan dalamnya dimensi lubang di <a href=\"https:\/\/jatim.tribunnews.com\/2023\/03\/06\/rusak-parah-jalan-lingkar-timur-lumajang-dipenuhi-lubang-menganga-ancam-nyawa-pengendara\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">jalan JLT<\/a>, tentunya membahayakan bagi pengendara. Mobil yang saya kendarai saja, hampir terperosok akibat kedalaman lubang yang ada di JLT.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSekelas mobil saja mau terperosok, lantas bagaimana dengan sepeda motor?\u201d penasaran dalam benak saya. Entah kebetulan atau tidak, tepat pada saat timbul rasa penasaran dalam benak saya, tiba-tiba di depan saya ada motor yang hampir terperosok. Untung saja, pengendara sepeda motor tersebut masih bisa mengendalikan keseimbangannya, sehingga tidak sampai jatuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Paling membahayakan lagi jika saat musim hujan. Sebab, saat musim hujan, lubang-lubang yang ada di JLT akan tertutup oleh genangan air. Ketika jalan yang berlubang tertutup oleh genangan air, maka pengendara tidak menyadari bahwa ada lubang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukannya kalau air menggenang, jadi tanda kalau ada lubang? Benar. Cuman, dari saking dalamnya lubang di jalan JLT, membuat volume airnya setara dengan kondisi jalannya. Sehingga, menghasilkan fatamorgana, seolah-olah jalannya rata. Hal itu tentunya membahayakan pengendara, terutama bagi orang asing yang belum pernah melewati JLT.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Cerita kawan yang berkunjung ke Lumajang<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teman yang berlibur ke Lumajang cerita pada saya. Saat itu, teman saya melintasi JLT karena penasaran akibat sering mendapat cerita kalau pemandangan di JLT indah dengan hamparan sawah yang hijau. Namun, yang diperoleh bukan keindahan, melainkan petaka.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebab, teman saya hampir terjatuh akibat mengendarai sepeda motornya dengan kencang dan tidak mengetahui kalau jalannya banyak yang berlubang. \u201cKok bisa tidak tahu kalau banyak lubang, padahal lubang di JLT ukurannya dalam?\u201d tanya saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLah, aku nggak sadar kalau ada lubang. Soalnya, kelihatannya tidak ada lubang karena rata tertutup oleh genangan air,\u201d jawabnya dengan nada kesal.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Genangan air yang menutupi jalan berlubang di JLT juga berbahaya bagi orang yang tidak fokus akibat kelelahan. Mobil saya pernah ketatap lubang akibat jalan yang berlubang tertutup oleh genangan air.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kejadiannya terjadi saat saya menyetir dari Sumenep. Untuk sampai ke Lumajang, butuh waktu 8 jam karena jaraknya yang jauh. Dan ketika sampai di Lumajang dengan jarak tempuh yang jauh, saya sudah kelelahan. Dengan kondisi yang lelah, saya tidak fokus. Akhirnya, tidak menyadari kalau ternyata saya melewati lubang yang dalam. Alhasil, mobil saya ketatap.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Penerangan jalan yang kurang layak<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain jalan lubang yang tergenang air, hal lain yang membahayakan saat melintas di JLT adalah ketika melintasi pada waktu malam hari. Bukan tanpa alasan, ketika malam hari, penerangan di JLT kurang baik. Bukan berarti tidak ada lampu. Di JLT ada lampu, tapi pencahayaannya kurang baik. Sebab, hanya jalan di sisi timur saja yang diberi lampu, sedangkan di sisi barat tidak ada lampu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal itu membuat pencahayaan di JLT menjadi remang-remang. Padahal, jika pemerintah peka dengan keselamatan pengguna jalan, seharusnya memberikan lampu baik di sisi barat dan sisi timur. Tujuannya agar pengendara mengetahui dengan jelas lubang-lubang yang ada di JLT agar pengendara tidak terperosok nantinya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terlepas dari persoalan kondisi jalan berlubang di JLT, hal lain yang menyebalkan saat melewati JLT adalah palang besinya di pertigaan sisi selatan. Jika palang besinya berukuran kecil tidak jadi persoalan, namun palang besinya justru berukuran besar. Hal itu tidak menjadi persoalan bagi pengendara sepeda motor. Tapi, sangat merepotkan bagi pengendara mobil karena kesulitan saat mau belok.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, dulu tidak ada palang besi di pertigaan sisi selatan. Setelah saya telisik, ternyata palang besi dengan ukuran besar dibuat agar tidak ada truk yang melintasi JLT.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kebijakan memberikan palang besi dengan ukuran besar, bagi saya bukan keputusan yang cerdas. Jika tujuannya agar tidak ada truk yang melintasi JLT, seharusnya dibuat tiang besi dengan ukuran tinggi. Dengan begitu, pengendara mobil tidak kesulitan untuk melintas dan truk juga tidak bisa melewati JLT.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Harapan saya hanya satu, semoga JLT bisa segera dipermak agar menjadi nyaman dan indah. Apakah pemerintah Lumajang tidak malu dengan kondisi alamnya yang indah, tapi kondisi JLT-nya buruk?<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Akbar Mawlana<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/geliatwarga\/curahan-hati-mahasiswa-jogja-yang-tak-kuat-bayar-ukt\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Curahan Hati Mahasiswa Jogja yang Tak Kuat Bayar UKT, Gagal Banding dan Pilih Bekerja<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya<\/em><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Keindahan wisata alam Lumajang, berbanding terbalik dengan Jalan Lintas Timur atau biasa dikenal dengan JLT.<\/p>\n","protected":false},"author":891,"featured_media":104873,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[5061,19757,13873],"class_list":["post-222991","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-jalan-berlubang","tag-jalan-lingkar-timur","tag-lumajang"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/222991","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/891"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=222991"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/222991\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/104873"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=222991"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=222991"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=222991"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}