{"id":222370,"date":"2023-06-30T14:33:24","date_gmt":"2023-06-30T07:33:24","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=222370"},"modified":"2023-07-02T23:06:30","modified_gmt":"2023-07-02T16:06:30","slug":"4-tempat-nangkring-gambar-bacaleg-yang-bikin-nggak-habis-pikir","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-tempat-nangkring-gambar-bacaleg-yang-bikin-nggak-habis-pikir\/","title":{"rendered":"4 Tempat Nangkring Gambar Bacaleg yang Bikin Nggak Habis Pikir"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebentar lagi, negara ini akan menggelar pesta demokrasi. Pemilu yang akan digelar pada 2024 membuat para bacaleg (bakal calon legislatif) bersiap siaga menyongsong dan mempersiapkan diri agar lebih dikenal masyarakat di daerah pilihannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa aksi dilakukan oleh para bacaleg untuk menaikkan elektabilitasnya. Seperti terjun langsung ke acara masyarakat hingga memasang gambar diri di berbagai tempat. Nah, bagian gambar diri ini yang mau saya bahas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kadang, bacaleg itu pada masang gambar diri mereka di tempat yang bikin kita berteriak \u201cwhy?!\u201d kencang-kencang. Nah, ada empat tempat yang bikin saya nggak habis pikir, kenapa mereka kepikiran masang gambar diri mereka.<\/span><\/p>\n<h2><b>Plastik daging kurban<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Okelah, sudah umum dan masih wajar ketika plastik daging kurban bertulis nama masjid atau ormas islam. Namun, saya juga menemukan ada plastik daging kurban berlabel logo partai, gambar bacaleg, nama bacaleg, nomor urut, lengkap beserta slogannya. Nggak habis pikir deh, mau berkelit bagaimanapun, pembagian daging kurban dengan cara seperti ini jelas bertujuan mengenalkan diri si bacaleg yang berujung menaikkan elektabilitas dan meraup suara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, cara seperti ini sebenarnya tidak efektif dan kreatif. Kenapa? Sebab tidak hanya bacaleg yang bisa berkurban dan tidak harus nyaleg biar bisa kurban. Banyak pedagang, petani, bahkan pelajar yang sekarang ini mampu dan mau berkurban.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seorang bacaleg bagi-bagi daging kurban itu hal biasa, sama saja kok, seperti yang dilakukan kebanyakan rakyat biasa. Hla wong sudah semestinya pula, sebagai hamba yang menaati perintah agama untuk menunaikan kurban.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, jangan heran, jika rakyat juga biasa saja dan tidak begitu kagum dengan aksi para bacaleg yang satu ini. Lagi pula, mbok ya kalau mau berkurban itu pakai pertimbangan yang logis yaitu pemerataan daging kurban. Misalnya, berkurban di daerah yang lebih membutuhkan seperti pelosok, terpencil, tertinggal dan minim kurban. Bukan pertimbangan egois semacam berkurban hanya khusus untuk dapilnya saja. Hadeh.<\/span><\/p>\n<h2><b>Background HIK atau lapak PKL<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya sah-sah saja sih, bacaleg memasang spanduk di warung-warung, apalagi kalau warung itu miliknya. Hanya saja, sebagai pembeli, kadang kita jadi risih dan terganggu. Kadang bikin makan jadi nggak fokus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, ada pengalaman lucu yang saya alami ketika pergi ke sebuah <a href=\"https:\/\/www.kompasiana.com\/kuncoromaskuri\/5aec25e65e1373642349dc23\/hik-hidangan-istimewa-kampung-angkringan-ala-solo-di-malam-hari\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">HIK<\/a> yang menggunakan spanduk bacaleg sebagai background. Malam itu, saya berdiri di depan mas-mas penjual HIK yang tengah sibuk meladeni pembeli lain. &#8220;Mas, aku es kampul satu ya!&#8221; ucapku disambut anggukan si mas-mas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat saya menatap si mas penjual di tengah remang-remang lampu HIK-nya, tiba-tiba saya menangkap sosok Mbak X, tetangga yang sebentar lagi mau nyaleg, berdiri dan tersenyum kepadaku di belakang mas penjual. Sontak saja saya tersenyum membalas senyumannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, ada yang aneh ketika beberapa detik, Mbak X tak bergerak juga. Setelah kuamati dalam-dalam, ternyata itu spanduk Mbak X.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Duh, nggak habis pikir. Malu bukan kepalang, jadi kepikiran orang-orang yang melihatku mungkin jadi membatin &#8220;Ni orang kenapa senyum-senyum sendiri ya?&#8221;<\/span><\/p>\n<h2><b>Kaca atau pagar rumah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau yang satu ini, biasanya terjadi saat bacaleg sudah ditetapkan menjadi caleg. Tiba-tiba kaca, jendela, dinding, pagar, atau gerbang di sisi-sisi rumah kita tertempel oleh stiker-stiker caleg.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak habis pikir, saat memergokinya, stiker itu sudah merekat kuat banget. Padahal aksi satu ini melanggar fasilitas pribadi milik rakyat. Penempelan stiker caleg tanpa seizin pemilik rumah itu di mana logikanya sih wahai bapak ibu caleg yang hebat? Katanya mau melindungi dan memperjuangkan rakyat, tapi hak rakyat sekecil ini aja dilanggar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya, tidak semua orang ikhlas kaca rumahnya dikotori stiker bergambar caleg dengan pose garing dan monoton itu. Sebab belum tentu pemilik rumah adalah pemilih caleg yang ada di gambar itu. Kalau sudah begini kan, misalnya ada tamu dari jauh datang akan mengira rumah yang ditempeli stiker caleg X, berarti pendukung X. Ya jelas, belum tentu demikian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagi pula, tau nggak sih bapak ibu caleg ini, melepaskan stiker caleg yang sudah tertempel itu pekerjaan susah. Perekatnya itu lho, bikin noda di kaca susah hilang. Merepotkan saja!<\/span><\/p>\n<h2><b>Fasilitas umum<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagi-lagi gambar bacaleg sering nangkring di fasilitas umum. Nggak habis pikir, saking pengen dikenalnya oleh rakyat, banyak gambar bacaleg bertebaran di tiang listrik dan pohon-pohon rindang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cara ini memang sangat mudah membuat rakyat jadi tahu siapa yang mau nyaleg. Sebab, dari jarak jauh saja gambar si caleg sudah terlihat, apalagi berjejer banyak sekali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, hal ini menodai pemandangan dan tidak sesuai aturan. Ayolah, bapak ibu caleg bisa lebih kalem sedikit kan untuk tidak menggelontor gambarnya di sembarang fasilitas umum?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau mau nangkring ya nangkring aja, tapi mbok ya tau tempat lah. Kadang, yang rakyat jelata rasakan saat melihat gambar caleg nangkring sembarangan itu bukanlah atensi, melainkan emosi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yuk bisa yuk kreatif. Sosialisasikan diri kalian dengan cara yang sekiranya tidak merugikan pihak-pihak yang tak mau dilibatkan. Bisa kan? Bisa lah, kalau nggak bisa ya gimana ya.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Diki Marlina<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/baliho-caleg-sudah-bertebaran-udah-nyolong-start-isinya-pun-nggak-kreatif\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Baliho Caleg Sudah Bertebaran: Udah Nyolong Start, Isinya pun Nggak Kreatif<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pasang gambar diri di plastik daging kurban itu dapet ide dari mana kalau boleh tau?<\/p>\n","protected":false},"author":245,"featured_media":178109,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[19686,8974,17190,6294],"class_list":["post-222370","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-bacaleg","tag-kampanye","tag-pemilu-2024","tag-stiker"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/222370","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/245"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=222370"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/222370\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/178109"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=222370"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=222370"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=222370"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}