{"id":222155,"date":"2023-07-01T15:03:28","date_gmt":"2023-07-01T08:03:28","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=222155"},"modified":"2023-07-05T13:09:14","modified_gmt":"2023-07-05T06:09:14","slug":"panduan-singkat-menggunakan-ta-ala-jawa-suroboyoan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/panduan-singkat-menggunakan-ta-ala-jawa-suroboyoan\/","title":{"rendered":"Ojo ngasal, Rek. Ini Panduan Singkat Menggunakan &#8220;Ta&#8221; ala Jawa Suroboyoan yang Benar"},"content":{"rendered":"<p><em>Ojo ngasal, Rek. Ini panduan menggunakan &#8220;ta&#8221; ala Jawa Suroboyoan yang benar.<\/em><\/p>\n<p>Sejak viralnya tren ngomong &#8220;nggak bahaya ta?&#8221;, banyak orang sok njowo dengan mencampuradukkan &#8220;ta&#8221; ke dalam kalimatnya. Terutama orang-orang dari luar kota <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/Surabaya\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Surabaya<\/a> yang kuliah di daerah Surabaya. Mohon maaf, kami warga asli Surabaya justru bingung mendengar penggunaan &#8220;ta&#8221; yang semrawut itu.<\/p>\n<p>Ada yang menggunakan &#8220;ta&#8221; sebagai pengganti &#8220;to&#8221;, ada yang ditambahkan setiap kali bertanya, ada juga yang menyapa rekannya dengan &#8220;nggak bahaya ta?&#8221; Nek ngomong ojo ngasal, Rek.<\/p>\n<p>Oleh karena itu supaya nggak ada sobat non-Surabayans yang ngasal lagi, kali ini saya akan memberikan panduan singkat menggunakan &#8220;ta&#8221; yang baik dan benar ala Jawa Suroboyoan. Saya pakai bahasa Indonesia biar samean (Anda) bisa menyimak dan memahami contoh penggunaannya.<\/p>\n<h2><strong>Nggak bahaya ta?<\/strong><\/h2>\n<p>Mari kita mulai dengan kalimat tanya, &#8220;Nggak bahaya ta?&#8221; Memahami penggunaan pertama ini cukup mudah, ya. Samean bisa mencontoh penggunaan &#8220;kah&#8221; dalam <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/bahasa-indonesia\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bahasa Indonesia<\/a>. Kegunaannya pun sama, untuk memastikan atau mengonfirmasi sesuatu dengan pertanyaan.<\/p>\n<p>Contoh:<\/p>\n<p><em>PR-nya ditulis tangan ta?<\/em><br \/>\n<em>Kamu nggak apa-apa ta?<\/em><\/p>\n<p>Selain itu, penggunaan &#8220;ta&#8221; dalam pertanyaan juga dapat bersifat anjuran.<\/p>\n<p>Contoh:<\/p>\n<p><em>Kamu nggak makan ta?<\/em><br \/>\n<em>Kita pulang aja ta?<\/em><br \/>\n<em>Aku aja ta yang tanya ke dosen?<\/em><\/p>\n<h2><strong>Makan ta minum?<\/strong><\/h2>\n<p>Selanjutnya, &#8220;ta&#8221; bisa digunakan sebagai &#8220;atau&#8221; dalam kalimat tanya. Kalau nggak dalam kalimat tanya, biasanya kami masih menggunakan &#8220;utowo&#8221;. Jadi, penjelasan kali ini cukup sederhana, memang kegunaannya hanya untuk menanyakan pilihan.<\/p>\n<p>Contoh:<\/p>\n<p><em>Kamu pilih dia ta aku? <\/em><br \/>\n<em>Bubur diaduk ta nggak diaduk? <\/em><\/p>\n<p>Saya akan memberi contoh &#8220;utowo&#8221; biar samean tau perbedaannya.<\/p>\n<p>Contoh:<\/p>\n<p><em>Kamu bisa masuk Mall Tunjungan Plaza lewat pintu utara utowo pintu selatan<\/em><\/p>\n<p><strong>Baca halaman selanjutnya<\/strong><\/p>\n<p><em><strong><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/panduan-singkat-menggunakan-ta-ala-jawa-suroboyoan\/2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">&#8220;Ta&#8221; bisa dipakai untuk memprotes, mengkritik, atau&#8230;<\/a><\/strong><\/em><br \/>\n<!--nextpage--><\/p>\n<h2><strong>Nanti aja ta, sek ta<\/strong><\/h2>\n<p>Selanjutnya, &#8220;ta&#8221; bisa dipakai untuk memprotes, mengkritik, atau memberikan pesan yang kontradiktif dengan keadaan sekitar. Cara penggunaannya kurang lebih mirip dengan &#8220;lah&#8221; atau &#8220;deh&#8221; dalam bahasa Indonesia. Fun fact, kami juga kadang pakai &#8220;lah&#8221; untuk menggantikan &#8220;ta&#8221; dalam menunjukkan kontradiksi dalam bahasa Jawa Suroboyoan.<\/p>\n<p>Contoh:<\/p>\n<p><em>Kelasnya berisik, jangan banyak ngomong ta!<\/em><br \/>\n<em>Tuh kan perutmu sakit, jangan banyak makan pedes ta!<\/em><\/p>\n<p>Saya paling suka bagian ini karena perlu <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/aksen\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">aksen<\/a> ala Jawa Suroboyoan untuk mengeksekusi kalimat ini. Caranya adalah kata pertama dari kalimat diucapkan semakin cepat, pada kata terakhir sebelum &#8220;ta&#8221; intonasi semakin meninggi tetapi pengucapan semakin melambat. Dan saat mengucapkan &#8220;ta&#8221; di penghujung kalimat, intonasi tinggi tadi menurun dan &#8220;ta&#8221; diucapkan memanjang, melas seperti anak kecil merengek. Jika dituliskan mungkin begini: jangan pulang maalam-maalam taaa!<\/p>\n<h2><strong>&#8220;A&#8221;, &#8220;ta&#8221;, dan &#8220;kan&#8221;<\/strong><\/h2>\n<p>Terakhir, saya akan sharing beberapa penggunaan yang secara sekilas terlihat mirip tetapi berbeda. Kemiripan ini utamanya terlihat di kalimat tanya, bisa samean amati lagi pada pembahasan pertama. &#8220;Ta&#8221; bisa digunakan secara bergantian dengan &#8220;a&#8221; untuk kalimat anjuran yang diakhiri huruf<a href=\"https:\/\/kbbi.kemdikbud.go.id\/entri\/konsonan\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> konsonan<\/a> dalam bahasa Jawa Suroboyoan.<\/p>\n<p>Contoh:<\/p>\n<p><em>Nggak makan a? <\/em><br \/>\n<em>Nggak tidur a? <\/em><\/p>\n<p>Sedangkan, untuk anjuran dengan akhiran huruf vokal, &#8220;a&#8221; jarang digunakan, walaupun kadang akhiran huruf vokal i, u, e, o bisa saja dipaksakan menggunakan &#8220;a&#8221;.<\/p>\n<p>Contoh:<\/p>\n<p><em>Saiki ae a? (Sekarang aja kah?)<\/em><br \/>\n<em>Mene ae a? (Besok aja kah?)<\/em><\/p>\n<p>Kalau masih belum paham, saya sarankan pakai &#8220;ta&#8221; saja sudah paling aman.<\/p>\n<p>Nah, selanjutnya agak tricky, Rek. &#8220;Kan&#8221; itu juga digunakan dalam pertanyaan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/klarifikasi\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">klarifikasi<\/a>. Jadi, bisa aja tuh pertanyaan &#8220;Nggak bahaya ta tempatnya?&#8221; menjadi &#8220;Nggak bahaya kan tempatnya?&#8221; Bedanya, orang yang bertanya menggunakan &#8220;kan&#8221; memiliki keyakinan kalau dia sudah memahami informasi dengan benar. Artinya, orang yang bertanya kemungkinan sudah tahu kalau tempat itu nggak bahaya, sehingga pertanyaan itu hanya untuk memastikan.<\/p>\n<p>Sementara itu, orang yang bertanya &#8220;Nggak bahaya ta tempatnya?&#8221; besar kemungkinan merasa ragu-ragu dan khawatir kalau tempat itu berbahaya. Atau bisa jadi dia mendapat informasi terbaru kalau tempat itu berbahaya. Perbedaan konteks kecil ini bisa menimbulkan salah paham jika nggak diperhatikan.<\/p>\n<p>Nah, itulah panduan singkat mengenai penggunaan &#8220;ta&#8221; ala Jawa Suroboyoan. Jangan sampai keliru lagi, ya.<\/p>\n<p>Penulis: Affan Hasby Winurrahman<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kesulitan-bocah-jawa-suroboyoan-belajar-bahasa-jawa-di-sekolah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kesulitan Bocah Jawa Suroboyoan Belajar Bahasa Jawa di Sekolah<\/a>.<\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ojo ngasal, Rek. Ini panduan menggunakan &#8220;ta&#8221; ala Jawa Suroboyoan yang benar.<\/p>\n","protected":false},"author":1716,"featured_media":222557,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[763,13335,623,13098,18076],"class_list":["post-222155","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bahasa-jawa","tag-bahasa-suroboyoan","tag-jawa","tag-pilihan-redaksi","tag-suroboyoan"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/222155","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1716"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=222155"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/222155\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/222557"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=222155"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=222155"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=222155"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}