{"id":2220,"date":"2019-05-26T09:00:44","date_gmt":"2019-05-26T02:00:44","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=2220"},"modified":"2021-10-05T13:32:58","modified_gmt":"2021-10-05T06:32:58","slug":"maha-benar-netizen-dengan-segala-ke-jancuk-annya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/maha-benar-netizen-dengan-segala-ke-jancuk-annya\/","title":{"rendered":"Maha Benar Netizen dengan Segala Ke-Jancuk-annya"},"content":{"rendered":"<p>\u201cJika dengan <em>jancuk<\/em> kita bisa dipersatukan, untuk apa kau kotori kalimat Tuhan dengan umpatan.\u201d<\/p>\n<p>Sekira seperti itulah sepenggal <em>quotes <\/em>yang pernah saya baca di media sosial, sebuah kalimat yang sarat dengan nilai filosofis mendalam.<\/p>\n<p>Artikel ini saya tulis ketika belakangan saya cukup kesal melihat komentar orang-orang di media sosial yang sudah kelewat batas\u2014hanya karena berbeda pilihan lalu dengan mudahnya mereka jadikan alasan untuk menghakimi sesama.<\/p>\n<p>Banyaknya persoalan\u2014menyusul suasana politik yang semakin meradang\u2014memang menjadi penyulut api di tengah keramaian. Ketika masyarakat kita masih tak bisa lepas dari budaya politik konservatif yang menganggap kemenangan adalah tujuan utama kontestasi\u2014ketika kemenangan dianggap sebagai simbol pertaruhan yang harus mengorbankan segala cara, persaudaraan, kerukunan atau bahkan kehormatan. Saya hanya bisa mengumpat, <em>&#8220;Jancuk rakyat +62 ini!&#8221;<\/em><\/p>\n<p>Kenapa harus fitnah dan umpatan yang dilakukan hanya untuk mengejar kepentingan pribadi atau golongan? Kenapa kita punya hobi menjijikan dengan menggadaikan persatuan dan kerukunan?<\/p>\n<p><em>Entahlah, maha benar netizen dengan segala ke-jancuk-annya.<\/em><\/p>\n<p>Salah satu yang bisa jadi menjadi penyebab mudahnya kita melontarkan umpatan di media sosial adalah fanatisme yang membabi buta\u2014fanatik terhadap golongan kita sendiri. Fanatik terhadap sebuah pilihan politik, sampai fanatik terhadap sebuah kebenaran yang padahal sifatnya subjektif.<\/p>\n<p>Bagi saya hinaan, celaan, umpatan dan caci maki yang seringkali terbit setiap waktu di media sosial itu jauh lebih hina dari kalimat misuh semacam <em>jancuk<\/em>. Perdebatan-perdebatan sampai umpatan dengan maksud menjatuhkan lawan bicara yang ada di media sosial, hanyalah pembunuhan diri yang tak jarang mengantarkan seseorang ke balik jeruji besi.<\/p>\n<p>Kemudian jemari kita mudahnya melakukan penghakiman terhadap yang berbeda dan golongan yang tak sama sehingga lagi-lagi kita menjadi pelaku perpecahan itu sendiri. Kejahatan verbal ini memang tak dapat kita elakkan. Ketika menyampaikan aspirasi pribadi menjadi kebebasan yang tak terbatas tetapi kita kerap kali lupa diri bahwa apa yang kita ucapkan adalah sesuatu yang tak pantas,<\/p>\n<p><em>Ketika segala instrumen umpatan dibolehkan, haruskah kita gadaikan rasa persaudaraan?<\/em><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/erk\/esai\/asal-pakai-bahasa-arab-siapa-bilang-semua-lagu-dan-umpatan-jadi-religius\/\">Mengumpat memang tidak salah.<\/a> Misuh <em>jancuk <\/em>sekalipun itu menjadi hak setiap orang. Hal yang salah adalah ketika umpatan kita hendak menjatuhkan dan mempermalukan orang lain. Bahkan konon kata <em>jancuk<\/em> bisa menjadi frasa pemersatu.<\/p>\n<p><em>Jancuk<\/em> adalah sebuah budaya Jawa yang sarat makna\u2014multitafsir bahkan tak jarang menimbulkan kesalahpahaman. Namun seiring waktu kata kata ini telah menjadi simbol keakraban. Penggunaannya di Jawa Timur misalnya\u2014malah menjadi sebuah frasa pemersatu. Meski terkesan kasar, nyatanya kata ini sering diucapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti <em>\u201cgimana kabarmu cuk?\u201d, \u201d juancuk, aku kok iso menang yo\u201d,\u00a0 \u201cjuancuk kok ayu yo arek iku\u201d <\/em>dan lain sebagainya.<\/p>\n<p>Benar, <em>jancuk<\/em> itu adalah misuh\u2014kalimat kotor, umpatan tak baik, dan kata yang tidak pantas untuk diucapkan. Mungkin sebagian dari kita sudah sering mendengar, mengamati bahkan mempraktikkannya. Tetapi tak banyak yang tahu nilai filosofis dari kata ini, apakah benar <em>jancuk<\/em> itu dilarang? Apakah benar <em>jancuk<\/em> itu dosa?<\/p>\n<p>Kata <em>jancuk<\/em> sering dikultuskan sebagai sesuatu yang tidak pantas untuk diucapkan, jorok, kotor dan dan sangat biadab. Padahal jika kita baca sejarah, konon dahulu saat perjuangan di Surabaya mengusir Belanda\u2014yang <a href=\"https:\/\/tirto.id\/bung-tomo-persetan-ora-dadi-jenderal-yo-ora-patheken-cxGZ\">dipimpin oleh Bung Tomo<\/a>\u2014kata ini malah disandingkan dengan kalimat pekikan Tuhan\u2014<em>Allahuakbar!<\/em><\/p>\n<p><em>Jancuk<\/em> sebenarnya adalah sebuah ekspresi kekecewaan rakyat pada waktu itu terhadap penjajahan Belanda. Bisa kita bayangkan ekspresi umpatan ini ternyata dapat membakar semangat persatuan kalangan muda saat itu melawan para penjajah. Namun sekarang tak jarang kata ini malah kita gunakan di media sosial untuk menjatuhkan seseorang dan menyulut api perpecahan.<\/p>\n<p>Seiring waktu kebiasaan mengucapkan <em>jancuk<\/em> ternyata bukan hanya sekedar ekspresi kekesalan atau kekecewaan. Kini <em>jancuk<\/em> berubah menjadi ekspresi keakraban, simbol persahabatan, ekspresi saat terkejut, atau terkagum-kagum terhadap sesuatu.<\/p>\n<p>Terlepas dari apapun makna kata ini, frasa jancuk adalah simbol kedekatan antara aku dan kamu\u2014<em>iya kamu~<\/em><\/p>\n<p>Baik <em>jancuk<\/em> sebagai umpatan ataupun sebagai sebuah pemersatu dan simbol keakraban, yang penting sekarang bagi saya kita masih bebas untuk menggunakan kata <em>jancuk<\/em> sebebas-bebasnya. Tentu dengan catatan tidak kita gunakan untuk menjatuhkan sesorang, kelompok ataupun golongan.<\/p>\n<p>Sesungguhnya saat saya menulis tulisan ini, saya tak bisa menahan umpatan\u2014lalu menjadi bagian dari netizen jancuk-nya Indonesia~<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sesungguhnya saat saya menulis tulisan ini, saya tak bisa menahan umpatan\u2014lalu menjadi bagian dari netizen jancuk-nya Indonesia~<\/p>\n","protected":false},"author":88,"featured_media":2233,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[592,591,102],"class_list":["post-2220","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-jancuk","tag-maha-benar-netizen","tag-media-sosial"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2220","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/88"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2220"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2220\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2233"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2220"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2220"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2220"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}