{"id":221703,"date":"2023-06-23T13:00:17","date_gmt":"2023-06-23T06:00:17","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=221703"},"modified":"2023-06-23T12:42:36","modified_gmt":"2023-06-23T05:42:36","slug":"tarung-derajat-bela-diri-pemberi-harapan-bagi-orang-lemah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tarung-derajat-bela-diri-pemberi-harapan-bagi-orang-lemah\/","title":{"rendered":"Tarung Derajat, Bela Diri Penyelamat dan Pemberi Harapan bagi Orang Lemah kayak Saya"},"content":{"rendered":"<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Jurus Tarung Derajat simpel dan praktis, memanfaatkan kemampuan gerak otot, otak, dan hati nurani secara realistis dan rasional.<\/span><\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seorang laki-laki berusia hampir 18 tahun sibuk mencari tempat untuk berlatih bela diri. Tentu saja, tubuh kurus kecilnya jadi alasan utama. Dia sadar bahwa tubuh kecilnya tak akan bisa diandalkan hanya untuk menghajar orang-orang yang kurang ajar. Tidak jadi samsak para perundung saja sudah bagus, atau malah sudah. Apa pun itu, intinya dia merasa bahwa jalan pedang ini harus dia ambil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan mata nanar penuh determinasi seperti Jin Mu-Won saat memelajari Gathering of Thousand Shadows, ia mencari perguruan yang sekiranya cocok. Namun egonya amat tinggi, dia tak serta merta memilih bela diri yang lumrah. Dia ingin mempelajari \u201cjurus\u201d yang berbeda, dengan mengharap hasil yang berbeda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dibantu kecepatan internet yang seadanya, dia jelahi Facebook dengan penuh saksama. Menunggu satu menit, dua menit, dia terdiam. Baru di menit ketiga, laman pencariannya muncul.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di situlah ia seakan-akan mendapat pencerahan. Seakan bertemu takdir, ia menemukan Tarung Derajat. Seperti para praktisi bela diri dalam sejarah, ia merasa menemukan perguruan yang cocok untuk menempa hidupnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Laki-laki kecil tersebut adalah saya, dan inilah mula saya mengenal Tarung Derajat.<\/span><\/p>\n<h2><b>Bela diri asli Indonesia<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tarung Derajat lahir dari seorang yang bernama <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Tarung_Derajat\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Achmad Sudrajat<\/a> atau biasa dikenal AA\u2019 BOXER. Sang Guru sendiri lahir pada 18 Juli 1951 di Tegalega, Bandung. Tarung Derajat muncul atas dasar niat melindungi diri dari perbuatan yang tidak manusiawi dan tidak bermoral serta untuk merebut, menegakkan, meningkatkan kehormatan diri sendiri, dan keluarga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Baru setelah penempaan fisik dan mental sang Guru mendeklarasikan berdirinya &#8220;Perguruan Beladiri BOXER&#8221; pada 18 Juli 1972, di Kota Bandung, Jawa Barat. Kini dikenal dengan &#8220;PERGURUAN PUSAT TARUNG DERAJAT&#8221;. Pendirian perguruan ini sekaligus sebagai tanda resmi lahirnya Ilmu Olahraga Seni Pembelaan Diri yang bernama &#8220;TARUNG DERAJAT&#8221;. Dan sampai sekarang dikenal seni bela diri asli Indonesia serta sudah tersebar di berbagai wilayah, termasuk tempat saya latihan dulu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tarung Derajat sendiri memfokuskan gerakannya tak cuman pada pukulan atau tendangan. Bela diri ini\u00a0 juga mempelajari teknik kuncian bahkan teknik jatuhan dan menempa fisik dengan pelbagai latihan yang akan memperkuat tubuh. Beragam jurusnya simpel dan praktis dengan memanfaatkan kemampuan gerak otot, otak, dan hati nurani secara realistis dan rasional.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tarung Derajat dengan slogannya \u201cAku ramah bukan berarti takut, aku tunduk bukan berarti takut\u201d rasanya masih terngiang-ngiang sampai sekarang.<\/span><\/p>\n<h2><b>Latihan fisik yang keras<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tubuh saya berasa \u201cdihajar\u201d. Saya masih ingat betul betapa tangan rasanya seperti ditusuk kerikil saat ujian kenaikan sabuk. Waktu itu, dalam proses ujiannya dari sabuk pertama ke tingkat selanjutnya mengharuskan tiap anggota lari di tengah siang bolong dengan bertelanjang kaki di jalan aspal, sambil sesekali disuruh push up dengan tangan mengepal. Kebayang gimana panasnya? Baiknya nggak usah dibayangin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan saja ujian kenaikan sabuk yang cukup keras. Latihan rutin yang lumrah ada tiap minggu pun sama kerasnya. Tubuh memar, lebam menjadi hal biasa sepulang latihan. Saya rasa, itulah ciri Tarung Derajat yang lebih berfokus pada kekuatan fisik, mental, dan kekuatan rasional untuk membela diri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya setelah beberapa waktu berlalu, dulu, saat mendekati event pra-PON saya memilih berhenti. Alasannya klasik, Ujian Nasional. Latihan perlahan saya tinggalkan. Dan jujur saja, ini menjadi keputusan yang saya sesalkan hingga kini.<\/span><\/p>\n<h2><b>Senang pernah menjadi bagian dari Tarung Derajat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski tak sampai selesai, saya bangga dan senang pernah menjadi bagian dari Tarung Derajat. Yah, walaupun nggak sampai \u201cmentas\u201d, tetapi Tarung Derajat memberikan \u201cbekal\u201d yang tak mungkin bisa saya lupakan. Sisa ingatan masih terbayang jelas betapa luar biasanya pernah memakai baju latihan berwarna putih dengan tulisan Tarung Derajat. Bahkan sampai sekarang sabuk berwarna hijau masih rapi tersimpan tanpa satu pun debu melekat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kini, pria tersebut tak lagi menyedihkan seperti saat ia berusia 18 tahun. Melawan orang kurang ajar, mungkin mudah. Tapi, hidup itu adalah perpindahan penderitaan satu ke penderitaan lainnya. Kini, pria tersebut menghadapi ujian yang jelas tak akan bisa dilawan dengan badan kuat penuh semangat: asmara.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Budi<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/kilas\/5-penyebab-konflik-berkepanjangan-psht-dan-pshw-di-madiun\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">5 Penyebab Konflik Berkepanjangan PSHT dan PSHW di Madiun<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kalau nggak kenal Tarung Derajat, entah kek mana nasib saya dulu.<\/p>\n","protected":false},"author":1041,"featured_media":221715,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12904],"tags":[7705,19629],"class_list":["post-221703","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-olahraga","tag-bela-diri","tag-tarung-derajat"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/221703","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1041"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=221703"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/221703\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/221715"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=221703"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=221703"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=221703"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}