{"id":2211,"date":"2019-05-26T03:30:49","date_gmt":"2019-05-25T20:30:49","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=2211"},"modified":"2021-10-05T13:33:36","modified_gmt":"2021-10-05T06:33:36","slug":"merindu-ramadan-di-kampung-halaman","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/merindu-ramadan-di-kampung-halaman\/","title":{"rendered":"Merindu Ramadan di Kampung Halaman"},"content":{"rendered":"<p>Ramadan adalah bulan yang amat dinantikan oleh seluruh umat Islam di penjuru dunia. Suka cita tersebar ke mana-mana. Di bulan ini orang-orang muslim akan berbondong-bondong berbuat kebaikan\u2014misalnya tadarus, mengaji, berbagi makanan, berbagi kasih sayang ke sesama. Pada bulan ini (seharusnya) tak ada orang muslim yang bertindak seperti setan.<\/p>\n<p>Tak terkecuali para mahasiswa rantau. Sebagai keluarga dari mahasiswa rantau tentunya saya benar-benar merasakan betapa indahnya bulan ini. Saya tidak perlu bingung-bingung mencari makanan untuk berbuka puasa. Setiap masjid di tempat saya selalu menyediakan menu untuk berbuka puasa\u2014meskipun hanya sekedar tiga biji kurma dan satu gelas air mineral. Bagi saya dan mungkin kami mahasiswa rantau lainnya, menu ini sudah amat membantu keberlangsungan hidup selama bulan Ramadan.<br \/>\nSuasana yang demikian tentu adalah sebuah anugerah. Namun oh namun, tak ada gading yang tak retak. Selama saya berada di kota perantauan ini saya tetap merasakan ada sesuatu hal yang kurang. Wajar\u2014saya lahir di suatu dukuh di kota seberang yang secara kultur sangat berbeda dengan daerah saya merantau ini\u2014meskipun daerah saya merantau dan kampung halaman saya masih satu provinsi.<br \/>\nMemang ada istilah <em>desa mawa cara, negara mawa tata<\/em>. Tapi tetap saja saya selau merindukan suasana Ramadan di kampung saya dilahirkan. Setidaknya ada beberapa hal yang menurut saya selalu saya rindukan dari Ramadan di kampung halaman. Berikut ini di antaranya:<br \/>\n<strong>1. Darus<\/strong><br \/>\nSelama saya di perantauan. Saya selalu peka terhadap orang yang sedang mengaji di masjid\u2014istilahnya di daerah asal saya <em>darus<\/em>. Selama saya di kota perantauan, suara orang <em>darus<\/em> yang terpancar dari pengeras suara masjid hanya berlangsung selama beberapa jam pasca <a href=\"https:\/\/tirto.id\/bacaan-niat-dan-tata-cara-salat-tarawih-sendiri-dF99\">salat Tarawih.<\/a> Biasanya mulai pukul setengah delapan sampai jam sembilan.<\/p>\n<p>Hal ini sangat berbeda dengan di daerah saya. Minimal di surau-surau <em>darus<\/em> dimulai pukul delapan sampai pukul sebelas malam\u2014itu masih minimal. Kadang ada masjid yang memulai darus pukul delapan malam sampai khatam dengan pengeras suara yang masih menyala. Kami tak pernah protes dengan hal demikian\u2014malah semakin senang karena bisa mendengar lantunan ayat suci sepanjang hari.<\/p>\n<p><strong>2. Puluran<\/strong><br \/>\n<em>Puluran<\/em> adalah berbagi makanan dengan mengantarkannya ke masjid setelah salat Tarawih. Biasannya makanan ini diberikan kepada orang-orang yang <em>darus<\/em>. Tetapi bukan berarti orang yang tidak <em>darus<\/em> dilarang untuk mengonsumsinya, malah faktanya makanan puluran seperti ini ludes dimakan oleh orang-orang gabut yang duduk-duduk di depan masjid atau surau\u2014seperti saya ini contohnya.<\/p>\n<p>Untuk jadwal <em>puluran<\/em> biasanya bergantian dari rumah ke rumah secara bergantian. Semua rumah yang masih masuk dalam zonasi surau atau masjid akan kebagian jatah untuk memberi makanan dan minuman. Lantas bagaimana bila ada orang yang tidak mau memberi <em>puluran<\/em>? Ah, sampai detik ini di kampung saya\u2014khususnya di surau dekat rumah saya\u2014tak pernah ada kejadian demikian. Paling <em>banter<\/em> adalah orang yang lupa jadwalnya memberi <em>puluran<\/em>. Bila sudah terjadi hal yang menggemparkan seperti ini, si fulan akan menggantinya esok hari.<\/p>\n<p><strong>3. Balapan darus<\/strong><br \/>\nBila di kota kita sering melihat kasus balapan liar yang melibatkan anak-anak yang belum punya SIM, bagi saya itu masih level <em>mainstream<\/em> dan masih enteng-entengan. Di kampung saya ada balapan yang <em>anti-mainstream<\/em>. Namanya balapan <em>darus<\/em>.<br \/>\nEntah siapa yang mencetuskan balapan jenis ini yang jelas saya pernah menemukan kasusnya selama beberapa kali. Saya masih ingat ketika dulu saya <em>pit-pitan<\/em> (bersepeda) kemudian singgah di suatu surau, lalu mendengar dua anak yang sedang <em>darus<\/em> dengan dua pengeras suara saling kejar mengejar juz dengan kecepatan cahaya. Saya ketika itu langsung <em>gedek-gedek<\/em> tertawa.<\/p>\n<p><strong>4. Kampung yang sepi<\/strong><br \/>\nKetika waktu salat Tarawih tiba, kampung kami tak lebih dari keheningan. Orang-orang berbondong-bondong menuju surau atau masjid. Bila ada orang yang tidak Tarawih, biasanya tidak akan berani keluar dari rumah sebelum salat Tarawih selesai. Tak akan ditemui orang-orang yang nongkrong atau nge-teh cantik ketika Tarawih sedang dilaksanakan. Bila ada mungkin sudah jadi gunjingan kelak pada hari raya.<\/p>\n<p><strong>5. Makanan rumah<\/strong><br \/>\nTerakhir terdengar sangat klise, tapi ya ini yang membuat Ramadan di kampung saya sangat berbeda\u2014makanan rumah. Meskipun di perantauan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/auk\/ulasan\/pojokan\/pedasnya-indomie-rendang-nggak-ada-apa-apanya-dibanding-hujatan-netizen\/\">makan rendang<\/a> sekalipun bagi saya amat tidak menarik. Saya malah lebih suka makan <em>trancam<\/em> buatan ibu saya yang tidak pernah bisa ditemukan di seluruh penjuru kota saya merantau. Bagi saya makanan rumah bukan hanya sekedar rasa tetapi adalah kehangatan keluarga di dalamnya.<\/p>\n<p>Begitulah dan saya kira cukup sekian dari saya. Salam dari mahasiswa perantauan yang sudah pulang kampung. Bagi teman-teman yang belum pulang kampung\u2014ingatlah bahwa kampung halaman menanti kalian. <em>Pulanglah, Lurs~<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya selau merindukan suasana Ramadan di kampung halaman tempat saya dilahirkan. Setidaknya ada beberapa hal yang menurut saya selalu saya rindukan.<\/p>\n","protected":false},"author":94,"featured_media":2226,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[588,342,510,53],"class_list":["post-2211","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-kampung-halaman","tag-lebaran","tag-mahasiswa-rantau","tag-ramadan"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2211","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/94"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2211"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2211\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2226"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2211"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2211"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2211"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}