{"id":220900,"date":"2023-06-16T09:39:52","date_gmt":"2023-06-16T02:39:52","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=220900"},"modified":"2023-06-16T12:22:23","modified_gmt":"2023-06-16T05:22:23","slug":"wisuda-tk-hanyalah-pembelokan-sejarah-dan-pemborosan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wisuda-tk-hanyalah-pembelokan-sejarah-dan-pemborosan\/","title":{"rendered":"Wisuda TK Hanyalah Pembelokan Sejarah dan Pemborosan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wisuda sering dipandang sebagai momen bersejarah. Bahkan setara sunat, menikah, dan mati. Keberhasilan seseorang untuk meraih gelar akademis memang patut dirayakan. Selain karena sudah membuang ratusan juta, orang tersebut diakui sudah ahli dalam sebuah bidang. Tapi kalau wisuda TK sampai SMA, apakah juga momen bersejarah? Atau pemborosan yang terlalu diromantisasi?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya bisa memaklumi suara kontra pada wisuda pra-perguruan tinggi ini. Dan saya sepakat, mending sudahi saja budaya teatrikal padat dana ini. Untuk apa merayakan kelulusan yang sebenarnya tak perlu-perlu amat ini? Tenang, saya punya argumen untuk itu. Jadi untuk para orang tua dan guru, monggo saya tampar dengan kenyataan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Momok seluruh dunia<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jangan dikira hanya orang Indonesia yang iseng mengadakan wisuda TK sampai SMA. Justru budaya ini dimulai di Amerika Serikat. Wisuda menjadi pelengkap acara kelulusan selain pesta dansa. Sekolah menggunakan acara ini sebagai kesempatan melepas murid yang kini sudah lulus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, tidak semua orang bisa menerima wisuda model ini. Banyak yang menolak dan mengecam wisuda TK sampai SMA. Acara ini dipandang buang-buang uang, apalagi ketika dipadukan dengan pesta. Bahkan budget pesta wisuda ini bisa mencapai 1000 dollar AS. Sebuah angka yang besar untuk pesta yang tak perlu-perlu amat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi apa sebenarnya wisuda itu? Apakah memang pesta dan foya-foya? Atau ada hal sakral dan simbolis di dalamnya?<\/span><\/p>\n<h2><b>Sejarah wisuda bukanlah foya-foya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wisuda pertama kali diadakan universitas di Eropa pada abad ke-12. Tidak jelas universitas mana yang melakukan wisuda pertama kali. Tapi tujuannya jelas, yaitu penganugerahan gelar kepada mahasiswa yang sudah menyelesaikan masa studi dan mempertahankan tesisnya. Setiap universitas dan negara memiliki sejarah tersendiri. Namun umumnya, topi dan toga menjadi ciri khas acara wisuda. <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Toga_(pakaian)\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Toga<\/a> sendiri terinspirasi oleh pakaian sehari-hari civitas academica di Timur Tengah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu prosesi paling umum dalam wisuda adalah penyerahan ijazah. Di mana rektor atau dekan akan menyerahkan ijazah asli atau salinan kepada wisudawan. Penyerahan ini menjadi pernyataan bahwa wisudawan tersebut telah menyandang gelar akademik baru. Gelar baru itu disaksikan dan diakui oleh para civitas academica lain. Pernyataan ini juga menjadi pengumuman pada masyarakat secara simbolis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anda menangkap poin pentingnya? Benar, wisuda itu bukan acara kelulusan semata. Namun pengakuan terhadap gelar akademis seseorang. Wisuda bukanlah foya-foya merayakan selesai masa studi. Namun momen sakral seperti penyematan gelar bangsawan atau keagamaan.<\/span><\/p>\n<p><strong>Baca halaman selanjutnya<\/strong><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wisuda-tk-hanyalah-pembelokan-sejarah-dan-pemborosan\/2\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em>Gelarnya apa sih?<\/em><\/a><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h2><strong>Wisuda TK gelarnya apa?<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mari kita pertanyakan praktik wisuda di pendidikan dasar bahkan TK. Berdasarkan sejarahnya, berarti harus ada gelar yang disematkan. Nah, gelar apa yang disematkan pada lulusan TK? Apakah namanya menjadi Clara Ezekiel Rothschild Munaroh. TK, yo nggak tho? Atau Juan Pablo Margosuwito. SM. A? Nggak lucu tho? Sama seperti wisuda TK sampai SMA yang nggak lucu dan nggatheli.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, sekolah sampai SMA itu kan wajib alias mandatory. Untuk apa dirayakan? Ini adalah argumen terkuat dalam kritik melawan wisuda-wisudaan di seluruh dunia. Banyak pihak yang mempertanyakan urgensi dari acara tersebut. Karena tidak ada urgensi penyematan gelar dan pengakuan dari lulusan pendidikan wajib. Bukan berarti merendahkan lulusan TK sampai SMA ya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apalagi wisuda perguruan tinggi memang tidak dilandasi pesta pora. Namun sekali lagi, pengakuan dan pernyataan terhadap gelar akademis seseorang. Termasuk mengakui spesialisasi seseorang terhadap ilmu. Ya kalau S.H diakui sebagai orang yang spesialis di hukum. S.Psi diakui sebagai pakar di bidang psikologi. Nah kalau gelar TK tadi, masak diakui sebagai spesialis calistung dan gobak sodor?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKamu nggak paham bahagianya orang tua melihat anaknya wisuda TK sih?\u201d Mungkin Anda berkata demikian. Dan sayang sekali, malah Anda yang kebanyakan halu.<\/span><\/p>\n<h2><b>Ajang gengsi orang tua dan sekolah semata<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata orang, gengsi memang mahal harganya. Termasuk gengsi saat wisuda anak. Orang tua berlomba-lomba untuk memoles anaknya dengan MUA terbaik. Mencarikan baju baru yang tahun depan mungkin tidak muat. Dan segala tetek bengek ra mashok demi acara yang tidak lebih teatrikal semata.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenyataannya, anak bapak dan ibu itu tidak butuh wisuda. Mereka tidak butuh diakui selayaknya sarjana karena lulus TK. Mungkin kalau anak SMA ingin ada pesta perpisahan atau promnite. Tapi bukan disuruh berbaris untuk menerima pengakuan simbolis sudah lulus pendidikan wajib. Yang mahasiswa saja kadang malas ikut wisuda lho. Padahal mereka sedang mendapat pengakuan resmi sebagai sarjana dan pakar dalam bidangnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika Anda berargumen tentang memberi penghargaan, apakah se-urgent itu hingga harus melakukan wisuda-wisudaan? Apakah tidak ada cara lebih intim dan hangat dalam menghargai kelulusan anak? Apakah Anda kehabisan akal untuk menunjukkan rasa bangga pada anak? Atau Anda memang butuh wisuda agar bisa berkompetisi dengan orang tua murid lain? Mungkin saja lho.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekolah juga malah melanggengkan wisuda-wisudaan ini. Dan secara tidak langsung, ikut membiaskan makna sebenarnya wisuda. Sekolah malah mereduksi makna pengakuan dan pernyataan dalam wisuda menjadi acara tahunan padat dana. Siswa Anda lebih butuh pendampingan ke pendidikan lanjut daripada aksi teatrikal itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi bisa saja wisuda TK sampai SMA ini terus langgeng. Toh padat dana dan menarik minat banyak vendor acara. Bisa jadi makin hari kita menormalisasi wisuda-wisudaan ini. Mengubah wisuda menjadi acara gengsi dan lucu-lucuan. Dan melupakan makna wisuda sebagai momen sakral dan besar dalam dunia pendidikan.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Prabu Yudianto<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/rayakan-wisuda-secukupnya-tak-perlu-berlebihan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Wisuda Hanya Sebuah Seremoni, Rayakan Secukupnya Tak Perlu Berlebihan<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Wisuda TK ini benar-benar kegiatan ra mashok. Pemborosan dana, pembelokan sejarah, dah, pokoknya aneh betul ini.<\/p>\n","protected":false},"author":793,"featured_media":220902,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[19569,19531,13098,4683,2064,12353,19568],"class_list":["post-220900","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-pembelokan-sejarah","tag-pemborosan","tag-pilihan-redaksi","tag-romantisasi","tag-sarjana","tag-urgensi","tag-wisuda-tk"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/220900","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/793"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=220900"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/220900\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/220902"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=220900"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=220900"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=220900"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}