{"id":220485,"date":"2023-06-15T13:36:20","date_gmt":"2023-06-15T06:36:20","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=220485"},"modified":"2023-06-15T13:36:20","modified_gmt":"2023-06-15T06:36:20","slug":"2-kelompok-kkn-dalam-satu-desa-dikit-enaknya-banyak-susahnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/2-kelompok-kkn-dalam-satu-desa-dikit-enaknya-banyak-susahnya\/","title":{"rendered":"2 Kelompok KKN dalam Satu Desa: Dikit Enaknya, Banyak Susahnya"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski tak semua setuju, tapi KKN, bagi saya, adalah masa yang menyenangkan. Andaikan ada yang tak setuju pun, pasti ada beberapa momen di mana mereka sedikit menikmati masa tersebut. Ya, selalu ada yang berkesan dari masa terjun di arena hidup sesungguhnya, di tengah-tengah masyarakat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Biasanya, satu desa dihuni oleh satu kelompok KKN. Lumrahnya memang seperti ini, agar maksimal. Maksimal dalam artian, kelompok tersebut bisa mencurahkan tenaga dan pikiran tanpa gangguan. Bukan berarti desa tersebut hanya boleh dipakai KKN sekali doang lho ya, tapi maksudnya dalam satu periode, ada satu kelompok saja yang menghuni desa tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya, yang ideal kadang nggak berlaku di realitas. Soalnya saya pribadi malah mendengar cerita yang agak laen dari kawan saya: ada kelompok lain yang bertugas di tempat saya diterjunkan. Lho he?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Waktu saya mendengar cerita ini, saya kaget. Iya betul, dua kelompok akan jauh lebih efektif sebab pekerjaan akan jauh lebih cepat selesai. Tapi enaknya ya cuman itu, selebihnya sih nggak.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Diskriminasi<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Adanya dua kelompok dalam satu desa\/dusun itu akan menghasilkan favoritism, yang tentu saja berujung pada diskriminasi sosial. Saya nggak nuduh orang desa bakal kayak gitu lho ya, saya bicara pengalaman pribadi. Jadi kalau kalian nggak relate, ya sans aja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau dari pengalaman kawan saya, dia mengalami dua kelompok KKN berada di satu desa. Sehingga, jika salah satu kelompok dianggap tidak baik tidak, semua kena karena satu koordinasi. Namun, pengalaman teman saya yang satu desa dua kelompok KKN berbeda universitas ini menuturkan terjadi diskriminasi sosial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang, koordinasi KKN di kampus saya ini sedikit ribet dan ruwet. Misalnya, saya ingat betul pelaksanaan KKN di kaldik itu seharusnya tanggal 19 Januari. Tapi, karena permasalahan pihak internal yang mengurusi KKN, diundur hingga tanggal 25. Gara-gara itu, bikin pihak desa dan masyarakatnya berpikir kalau ada kelompok yang nggak konsisten sama omongan mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak hanya sampai di situ saja. Adanya kendala uang proker yang tidak kunjung turun. Dengan hal itu, setelah datang ke lokasi, tentu saja tidak bisa langsung melakukan proker. Tidak langsung melakukan proker ini juga memberikan pengaruh negatif di masyarakat. Masyarakat berekspektasi setelah mahasiswa datang, akan langsung melakukan proker. Karena tidak kunjung melakukan pergerakan proker, teman saya diminta membantu proker KKN universitas sebelah.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Dosen pembimbing lapangan yang yo ngono kae<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang namanya KKN, pasti ada DPL alias dosen pembimbing lapangan. Biasanya, dosen ini akan datang berkoordinasi dengan pihak desa. Nah, ini masalahnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau ada dua kelompok, dan dosen salah satu kelompok ternyata kurang perhatian sebagaimana dosen kelompok lain, bakal jadi masalah. Dari situ, bisa bikin asumsi satu kelompok tersebut kurang perhatian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Betul, dosen itu nggak cuman itu kerjaannya. Tapi yang namanya risiko pekerjaan, ya mau nggak mau harus dikerjakan. Wajar kalau orang yang awam tentang hal tersebut punya pemikiran yang nggak-nggak. Paham lah ya maksud saya.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Persaingan kelompok KKN yang nggak perlu ada<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak bisa dimungkiri, dalam kelompok KKN itu pasti ada kompetisi. Dalam internal aja bakal ada kompetisi, <strong>APALAGI<\/strong> ada dua kelompok dalam satu tempat. Wah, bakal jadi gelanggang pertempuran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Persaingan KKN antar-universitas ini sedikit berat. Kalau satu kelompok dianggap lebih berhasil, bakal jadi favorit. Yang artinya, dua kelompok secara nggak sadar bakal berlomba-lomba memenangkan pertempuran yang seharusnya nggak perlu ada.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut penuturan teman saya, tak jarang juga proker yang diusulkan banyak ditolak. Ya karena dianggap sudah biasa, sudah dilakukan kelompok kampus sebelah, dibanding-bandingkan. Something like that lah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya begitulah. KKN satu lokasi dengan kelompok lain dalam satu universitas saja susah, apalagi disatukan dengan kelompok dengan universitas lain. Yang terjadi adalah malah hal-hal yang tidak diinginkan. Lagian kok kayak adu SDM gitu. <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kuliah_kerja_nyata\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pengabdian<\/a> kok dijadikan ajang persaingan. Ra mashok!<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Nurul Fauziah<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kkn-itu-asyik-dan-menyenangkan-tapi-tidak-untuk-diulang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">KKN Itu Asyik dan Menyenangkan, tapi Tidak untuk Diulang<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Satu desa, dua kelompok KKN, apa yang akan terjadi? Betul, battle royale.<\/p>\n","protected":false},"author":1860,"featured_media":34825,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[16553,275,16304,2081],"class_list":["post-220485","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-kelompok","tag-kkn","tag-persaingan","tag-universitas"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/220485","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1860"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=220485"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/220485\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/34825"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=220485"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=220485"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=220485"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}