{"id":220475,"date":"2023-06-15T16:00:03","date_gmt":"2023-06-15T09:00:03","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=220475"},"modified":"2023-06-15T15:36:21","modified_gmt":"2023-06-15T08:36:21","slug":"pudak-cap-kuda-toko-oleh-oleh-legendaris-dari-gresik-yang-nggak-butuh-branding","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pudak-cap-kuda-toko-oleh-oleh-legendaris-dari-gresik-yang-nggak-butuh-branding\/","title":{"rendered":"Pudak Cap Kuda, Toko Oleh-oleh Legendaris dari Gresik yang Nggak Butuh Branding"},"content":{"rendered":"<p><em>Jika berkunjung ke Gresik, wajib hukumnya mampir ke toko pudak Cap Kuda<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak kecil, saya sering mendengarkan bapak bercerita. Iya, sebagai guru sejarah, bapak memang sering bercerita tentang apa saja pada anak-anaknya. Khususnya tentang sejarah. Mungkin, karena tumbuh dengan memori baik itu, ketika dewasa, saya pun jadi menyukai sejarah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh karena itu, ketika minggu lalu <\/span><a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/______kammari\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kammari<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> mengadakan City Walking Tour (baca: aktivitas golek konten dengan genre sejarah), saya pun langsung ikut. Bagi yang mau nyimak ulasan saya tentang Gresik Kota Lama, bisa baca<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kota-lama-gresik-sisi-lain-dari-kabupaten-yang-sumpek-ini\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">di sini.<\/span><\/a><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain kunjungan ke kampung-kampung dengan bangunan lama, satu hal yang menyenangkan adalah mengunjungi toko oleh-oleh di Gresik yang melegenda. Nama tokonya adalah Pudak Cap Kuda. Meski nama tokonya Pudak, tapi di sini tidak hanya menjual pudak saja. Sama halnya dengan Bakpia Pathok yang juga menjual aneka cemilan lainnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Satu hal yang sangat membuat saya takjub adalah toko ini tidak punya papan nama. Tidak ada keterangan jual pudak, atau toko oleh-oleh. Iya, di depan toko hanya ada gambar kuda yang sedang berlari. Benar-benar branding yang minimalis. Terkesan \u201cnggak butuh\u201d branding malahan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi orang yang nggak tahu, toko ini akan dianggap semacam rumah warga sekitar saja. Sebab, tempatnya juga tergolong kecil. Saya kira, mungkin karena saking terkenalnya sampai nggak butuh lagi upaya branding. Bahkan sekadar papan nama pun nggak ada. Benar-benar menarik.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Berdiri sejak dulu kala<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Toko ini sudah ada sejak 1950-an, dan merupakan milik keluarga Tionghoa yang tidak buka cabang. Saya tidak tahu pasti alasan kenapa tidak buka cabang, tapi satu yang pasti, Bu Suharsih (pemilik sekarang) mengatakan kalau penamaan kuda sendiri diambil dari Sio pemilik pertama. Bu Suharsih adalah keturunan ketiga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari segi harga, toko ini lebih mahal ketimbang toko oleh-oleh lainnya. Tapi dari segi rasa, tentu saja nggak bakal bikin kecewa. Yah, worth it lah. Resep turun-temurun ini terbukti punya cita rasa yang enaknya another level, dan tetap dipertahankan sampai hari ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Satu lagi yang menarik dari toko ini adalah, semua proses pembuatan dilakukan sendiri. Iya, semua dibuat sendiri, mereka menggiling tepungnya sendiri, membuat adonannya sendiri, memasak santannya sendiri\/ Bahkan menjahit wadah (pelepah daun pinang) yang digunakan sebagai packaging sendiri. Homemade banget nggak tuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oh, iya, bagi yang belum tahu, pudak sendiri merupakan makanan ringan khas Gresik. Sebuah ikon oleh-oleh selain aneka olahan bandeng.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pudak ini terbuat dari bahan dasar tepung beras, gula jawa, serta santan kelapa. Dan bentuknya dibungkus dengan pelepah daun pinang. Menghasilkan cita rasa yang khas, manisnya presisi, kenyal, dan mengenyangkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pudak ini dibuat tanpa bahan pengawet, karena itu ketahanan dari pudak ini hanya sekitar 3 hari saja. Ini juga yang menyebabkan produksinya dibuat terbatas.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Nikmatnya jubung<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain pudak, ada satu best seller lain dari toko ini, yakni Jubung. Makanan ini juga sama-sama memakai daun pinang untuk membungkusnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pelepah daun pinang dipilih sebab aromanya enak, serta teksturnya ada semacam pori-pori untuk keluar uap panas dari adonan. Kata Bu Suharsih, hanya daun pinang yang cocok digunakan. Sebab kalau diganti plastik misalnya, akan lengket dan tentu saja aromanya bakal berbeda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujur, meski Gresik adalah tetangga kabupaten, saya baru pertama kali makan jenang Jubung ketika mampir ke toko oleh-oleh ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makanan ini berwarna hitam, sebab bahan dasarnya adalah ketan hitam yang kemudian ditambah taburan wijen di atasnya. Iya, sekilas mirip dodol. Meski secara tekstur, jubung ini lebih lembut, sehingga lumer banget saat dimakan dan manisnya pas. Nggak kurang, nggak lebih. Oh iya, cara makannya didorong dari bawah, bukan dipencet dari samping.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika kalian sedang di Gresik dan mencari oleh-oleh, saya sarankan langsung meluncur saja ke Pudak Cap Kuda. Lokasinya sebelah jalan, nggak masuk-masuk ke gang kok. Cari saja di Google Maps, dan nikmatilah kuliner legendaris dari kota yang sumpek ini.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: M. Afiqul Adib<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-hal-istimewa-yang-bisa-kamu-dapat-di-gresik\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">3 Hal Istimewa yang Bisa Kamu Dapat di Gresik<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Toko Pudak Cap Kuda ini keren. Nggak ada embel-embel lain selain foto kuda berlari. Nggak butuh branding keknya, dah terkenal.<\/p>\n","protected":false},"author":580,"featured_media":220647,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[13996,479,19562,19561],"class_list":["post-220475","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-gresik","tag-oleh-oleh","tag-pudak","tag-pudak-cap-kuda"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/220475","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/580"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=220475"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/220475\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/220647"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=220475"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=220475"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=220475"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}