{"id":2197,"date":"2019-05-26T07:00:40","date_gmt":"2019-05-26T00:00:40","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=2197"},"modified":"2021-10-05T13:33:16","modified_gmt":"2021-10-05T06:33:16","slug":"pancasila-dalam-hidup-saya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pancasila-dalam-hidup-saya\/","title":{"rendered":"Pancasila Dalam Hidup Saya"},"content":{"rendered":"<p>Saya mempunyai Ayah yang sangat menjunjung tinggi <a href=\"https:\/\/tirto.id\/kebangsaan-keagamaan-dua-kiblat-indonesia-di-persimpangan-jalan-c9U1\">nilai-nilai kebangsaan<\/a>. Salah satu yang saya ingat, Ayah pernah berkata \u201cSampai mati kamu tidak boleh korupsi, jika ingin korupsi maka ingat kata kata Papa ini!\u201d<\/p>\n<p>Ayah saya selalu mengulang kata-kata ini pada \u00a0tahun itu,saat banyak kader <del datetime=\"2019-05-25T18:36:44+00:00\">partai berlogo biru<\/del> mulai ditangkap oleh KPK. Mungkin kalimat Ayah saya adalah kalimat basi yang sering diucapkan orangtua pada anaknya, tapi percayalah kalimat ini harus didengar setiap elite politik di negara ini.<\/p>\n<p>Apa yang mendasari saya berkata demikian? Jika kalian melihat realita negara berkembang dengan banyak penduduk ini, maka kalian akan sadar betapa nestapanya nasib uang rakyat yang dimakan segelintir elite politik. Saya pernah bertanya kepada Ayah saya, \u201cPa, mengapa Papa tidak mau masuk IPDN?\u201d<\/p>\n<p>Hal ini karena dulu semasa muda Ayah saya diterima masuk kedinasan bergengsi itu, lalu Ayah saya menjawab \u201cPapah tidak mau jadi Camat, Nak.\u201d Saya terheran-heran dan berpikir apa yang salah dari pekerjaan seorang Camat\u2014gaji besar, hidup terjamin dan tidak kerja serabutan seperti kondisi ayah saya kala itu.<\/p>\n<p>\u201cPapa takut membiayai keluarga Papa dengan uang haram.\u201d Jawaban ini membuat hati saya terenyuh mendengarnya. Saya paham bagaimana tidak percayanya Ayah saya kepada orang-orang pemerintahan\u2014padahal ibu saya adalah seorang Pegawai Negeri Sipil. Saya pikir sisa-sisa idealisme mahasiswa masih ada pada diri Ayah saya saat itu.<\/p>\n<p>Pada suatu hari saya mendengar perdebatan kecil dari orangtua saya. Beliau berdua membahas tentang ormas Islam di Indonesia yang mulai berani menyerukan negara khilafah yaitu negara yang didirikan berdasarkan hukum-hukum syariat Islam.<\/p>\n<p>Pada saat itu Ibu saya beranggapan bahwa hal ini wajar terjadi karena Indonesia adalah mayoritas muslim dan umat Islam\u2014pasti merasa bahwa mereka memiliki <em>super power<\/em> yang dapat menggerakan massa untuk menjadikan agama sebagai bungkusan kepentingan pribadi. Dan apa yang dikatakan Ibu saya memang benar terjadi pada saat itu.<\/p>\n<p>Hal saya bingungkan adalah apa yang membuat Ayah saya sangat berapi-api saat membahas isu agama seperti ini. Saya yang pada saat itu merasa bahwa Ayah saya sangat berlebihan dalam menanggapi hal ini. Saya lantas tersentak saat Ayah saya berkata, \u201cMereka itu pernah memenggal warga desa Papa.\u201d<\/p>\n<p>Ayah saya bercerita tentang pemberontakan DI\/TII yang terjadi sekitar tahun 1949-1962 yang tejadi di Jawa Barat yang kebetulan kami sekeluarga berasal dari sana. Ayah saya bercerita bahwa tetangganya digorok oleh segerombolan kelompok itu karena berbeda keyakinan dengan mereka. Rumah-rumah warga dibakar dan kampung Ayah saya diporak-porandakan. Hal itu yang menjadi trauma mendalam bagi Ayah saya. Pada saat itu kalimat yang sangat saya ingat adalah &#8220;<em>jangan pernah kamu menjunjung agama diatas kemanusiaan, Nak.<\/em>&#8221;<\/p>\n<p>Pelajaran yang saya dapat dari Ayah saya, saya bawa hingga ke perantauan. Nilai-nilai kebangsaan yang melekat dalam diri saya sangat terusik ketika melihat demo yang puncaknya terjadi pada 22 Mei 2019\u2014yaitu demo menolak kekalahan Prabowo Subianto. Awalnya diserukan sebagai \u201caksi damai\u201d malah berujung menjadi \u201caksi anti-damai\u201d yang merusak dan mencederai nilai-nilai Pancasila serta kebangsaan yang dibangun para terdahulu.<\/p>\n<p>Saya ingat betul kata kata Presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno, \u201cPerjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri\u201d. Hal inilah yang sekarang terealisasikan dengan baik di zaman yang serba modern ini\u2014integrasi bangsa bukan tercecer akibat \u00a0penjajahan yang masif oleh bangsa lain melainkan bangsa kita sendiri.<\/p>\n<p>Di dalam hati saya bersedih, \u201champir habis dayamu, Pancasila\u201d. Kekuatan Pancasila yang seharusnya menjadi pemersatu bangsa melalui sila ke-3 yang berbunyi <em>Persatuan Indonesia<\/em> kini menjadi <em>Persatu duaan Indonesia.<\/em> Hal ini membuat saya miris mengingat nilai-nilai kebangsaan yang dijunjung tinggi Ayah saya hanya menjadi angin lalu yang bahkan mungkin tidak terlintas dalam pikiran para provokator demo yang membuat kerusuhan di negara ini.<\/p>\n<p>Indonesia mungkin akan hancur dalam 10 tahun lagi bila masyarakat hanya mementingkan kepentingan pribadi golongannya dan tidak menyadari betapa pentingnya penerapan Pancasila yang mengandung seluruh unsur bangsa Indonesia. Betapa sedihya para Pahlawan bangsa jika melihat kegaduhan penerusnya \u00a0yang sibuk meributkan hal-hal tidak penting\u2014menyebarkan kebencian di media sosial dan menjual agama sebagai kepentingan politik. Apakah penyakit hilang ingatan sekarang menular? Mengapa banyak masyarakat yang lupa bahwa ideologi bangsa kita bangsa Indonesia adalah Pancasila?\u2014yang bila diterapkan akan menjadikan Indonesia bangsa yang menghargai sesamanya.<\/p>\n<p>Saya jadi berpikir\u2014apakah ini yang dirasakan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/tan\/esai\/membayangkan-ahmad-dhani-membayangkan-john-lennon\/\">John Lennon<\/a> saat menulis lagu Imagine? Rasa putus asa akan perdamaian abadi yang mungkin tidak akan pernah terjadi di dunia.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Apakah penyakit hilang ingatan sekarang menular? Mengapa banyak masyarakat yang lupa bahwa ideologi bangsa kita bangsa Indonesia adalah Pancasila?<\/p>\n","protected":false},"author":95,"featured_media":2230,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[537,590,589,18],"class_list":["post-2197","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-aksi-22-mei","tag-berbangsa-dan-bernegara","tag-pancasila","tag-pilpres-2019"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2197","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/95"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2197"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2197\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2230"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2197"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2197"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2197"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}