{"id":219574,"date":"2023-06-09T12:33:59","date_gmt":"2023-06-09T05:33:59","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=219574"},"modified":"2023-06-12T10:59:56","modified_gmt":"2023-06-12T03:59:56","slug":"lupakan-kaesang-pangarep-otong-koil-sosok-paling-ideal-memimpin-sleman","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lupakan-kaesang-pangarep-otong-koil-sosok-paling-ideal-memimpin-sleman\/","title":{"rendered":"Lupakan Kaesang Pangarep, Otong Koil Sosok Paling Ideal Memimpin Sleman!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kaesang Pangarep blakasuta ingin mengikuti jejak ayah dan kakaknya sebagai seorang politisi. Ya, putra bungsu Pak Jokowi itu katanya bakal all out mengikuti Pilkada 2024. Namun, sampai saat ini, tampaknya dia masih bingung mau ikut Pilkada mana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setidaknya ada tiga kota pilihan Kaesang Pangarep yang akhir-akhir ini santer terdengar di lini media sosial, yakni Depok, Sleman, dan Solo. Netizen terbelah menjadi tiga kelompok. Banyak yang menilai kalau dia lebih cocok memimpin Sleman atau Solo daripada Depok. Tapi, nggak sedikit juga yang mendukung Kaesang agar mau memimpin <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/berandai-andai-jika-depok-dipimpin-kaesang-pangarep\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Depok<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari tiga kota tersebut, menurut saya, Kaesang Pangarep lebih pantas ikut Pilkada Solo atau Depok. Pasalnya, Sleman punya banyak masalah yang hanya bisa ditangani oleh orang-orang mind blowing dan berjiwa seni tinggi. Dan, sosok paling ideal memimpin Sleman bukan Kaesang, melainkan Aryo Verdijantoro atau yang akrab disapa Otong, vokalis band beraliran industrial metal, Koil.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jangan Kaesang Pangarep, tapi Otong karena dia sosok sembada dan berani melakukan gebrakan baru<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu alasan Otong Koil pantas memimpin Sleman ketimbang Kaesang Pangarep karena beliau seorang yang cerdas dan sembada (sesuai tagline kabupaten Sleman). Saat diwawancarai di YouTube <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/vindes-tepok-bulu-standar-baru-event-olahraga-di-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">VINDES<\/a>, pria berambut gondrong itu mengaku saat duduk di bangku di sekolah selalu mendapat juara kelas. Meski kadang berperilaku nyeleneh, tapi pria berambut gondrong itu sungguh sembada dalam menciptakan lirik-lirik lagu berkualitas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut saya, Otong Koil adalah salah satu penulis lirik lagu paling jenius di Indonesia. Sejak merilis album pertamanya bertajuk Koil (1996), Otong sudah menunjukkan kepiawaiannya menulis lirik. Beberapa lagu seperti \u201cMurka\u201d, \u201cSenyawa Mesin\u201d, dan \u201cWaktu Yang Berhenti\u201d, membuktikan kalau penyair depresif itu seperti sudah melampauinya zamannya dan sangat visioner.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagaimana tidak, saat penyanyi atau band populer di era 1990-an masih berkutat pada lagu-lagu seputar percintaan, Otong datang membawa gebrakan baru. Dia membuat lirik-lirik liar sarat makna yang saat itu mungkin dianggap belum lazim. Mas Kaesang Pangarep bisa nulis lirik?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan bermaksud mengesampingkan lagu-lagu populer di era itu dan bersikap sotoy, tapi lirik seperti di atas memang belum lazim pada masa itu. Saya berani ngomong kayak gini karena om saya, yang kebetulan pengoleksi kaset pita, menjadi saksinya. Menurut om saya, setidaknya ada dua band yang pada masa itu berani mendobrak blantika musik Indonesia, yakni Netral dan Koil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain karena liriknya yang to the point dan nggak bertele-tele, kedua band tersebut juga terkesan nggak peduli sama koridor atau pakem seorang penyanyi yang harus memiliki suara bagus. Baik Om Bagz (vokalis NTRL) maupun Otong, seperti menegaskan kalau musik itu, ya, berwarna dan nggak kudu mengekor sama yang sudah-sudah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Inilah yang sejatinya dibutuhkan Sleman, bukan sosok Kaesang Pangarep. Banyaknya kampus ternama sangat sayang kalau para penghuninya nggak berani melakukan gebrakan baru untuk membenahi sistem. Saya sangat yakin Otong mampu memberi warna baru bagi dunia pendidikan di Sleman.<\/span><\/p>\n<p><strong>Baca halaman selanjutnya<\/strong><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lupakan-kaesang-pangarep-otong-koil-sosok-paling-ideal-memimpin-sleman\/2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em><strong>Bukan Kaesang Pangarep tapi Otong karena&#8230;<\/strong><\/em><\/a><br \/>\n<!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>Bukan Kaesang Pangarep tapi Otong karena dia visioner dan out of the box<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain berani melakukan gebrakan baru, Otong juga sosok yang visioner dan out of the box. Bayangkan saja, ketika kebanyakan musisi di era 1990-an menciptakan lagu tentang \u201chati yang terluka\u201d atau \u201cseseorang yang dilanda kesepian\u201d, Otong Koil lebih memilih diksi \u201ckau hunus besi tajam, aku hiu bersimbah darah\u201d. Sebuah ide cemerlang nan segar, yang saya rasa lirik lagu itu bakal related hingga ratusan tahun ke depan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penggalan lirik lagu \u201cMurka\u201d di atas hanya contoh kecil dari \u201ckeliaran\u201d seorang Otong dalam menulis lirik. Meski dirilis puluhan tahun silam, banyak lagu ciptaannya yang sampai sekarang terdengar masih segar dan tetap relevan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebut saja \u201cMendekati Surga\u201d atau \u201cKenyataan dalam Dunia Fantasi\u201d, lirik dalam lagu tersebut benar-benar mampu membuka cakrawala baru di otak saya. Setiap mendengar lagu-lagu Koil, seperti membaca buku langka yang bisa mengubah pandangan saya dalam memahami suatu peristiwa ke arah yang lebih luas dan subtil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, nggak berlebihan rasanya kalau saya menganggap <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Koil_(grup_musik)\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Otong Koil<\/a> sebagai seorang filsuf yang mendidik anak bangsa dengan lagu-lagu ciptaannya. Perpaduan antara lirik lagu yang out of the box dengan suara Otong yang terdengar \u201cdepresif\u201d, benar-benar klop dan sempurna. Bukankah hal ini cukup related dengan warga Sleman, yang rata-rata dihuni oleh para pelajar dan mahasiswa? Mas Kaesang Pangarep ke Depok aja.<\/span><\/p>\n<h2><b>Lucu dan menghibur<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tengah ruwetnya jalanan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jalan-godean-tembus-kulon-progo-rute-anak-tiri\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sleman<\/a>, tentu warga butuh hiburan yang fun dan ringan-ringan saja. Dan, sosok yang menurut saya guyonannya related sama warga Sleman adalah Otong, bukan Kaesang Pangarep.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di atas panggung, musisi yang gemar membanting gitar itu tampak garang dan sangar. Ini berbanding terbalik dengan kehidupannya di Twitter. Dia menjelma jadi seorang komedian andal. Nggak perlu bikin materi komedi ndakik-ndakik, cukup membagikan konten lucu orang lain dan diberi sedikit komentar, warganet acap dibuatnya tertawa lepas. Makin berat buat Mas Kaesang Pangarep, kan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya, Otong acap membagikan tweet random, biasanya sih video nyeleneh-nyeleneh. Padahal, kalau orang lain yang post kayak biasa saja. Tapi, entah kenapa sekali Mangots yang ngetwit, jadi berasa lucunya. Saya rasa, warga Jogja, khususnya yang tinggal di Sleman bakalan terhibur dan bangga punya pemangku wilayah seperti beliau ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita tahu, Otong dijuluki sebagai Bapak Twitter Indonesia. Pengalaman menghadapi warganet tentu sudah nggak perlu diragukan lagi. Ini tentu sangat menguntungkan bagi warga Sleman, yang mana antara masyarakat dan pemimpinnya bisa saling berkomunikasi secara langsung, bersinergi, dan saling menghibur satu sama lain. Sebuah situasi yang saat ini masih jarang dan bahkan tidak ditemukan di Sleman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, lebih baik Kaesang Pangarep ikut Pilkada Solo saja daripada di Sleman. Kabupaten ini lebih butuh sosok berjiwa seni tinggi. Biarkan Mangots yang mengubah wajah Sleman menjadi lebih tertata dengan dobrakan-dobrakan mind blowing-nya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Jevi Adhi Nugraha<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/5-alasan-otong-koil-lebih-layak-jadi-presiden-indonesia-daripada-jokowi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">5 Alasan Otong Koil Lebih Layak Jadi Presiden Indonesia daripada Jokowi<\/a><br \/>\n<\/strong><\/p>\n<div class=\"jeg_ad jeg_ad_article jnews_content_inline_2_ads \">\n<div class=\"ads-wrapper align-center \">\n<div class=\"ads_code\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jujur saja, ketimbang Kaesang Pangarep, Kabupaten Sleman lebih cocok dipimpin oleh Otong Koil. Berikut logika di balik usulan ini.<\/p>\n","protected":false},"author":547,"featured_media":219826,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[1715,1465,19502,19501,5324,7235,2284],"class_list":["post-219574","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-depok","tag-kaesang-pangarep","tag-koil","tag-otong-koil","tag-pilkada","tag-sleman","tag-solo"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/219574","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/547"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=219574"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/219574\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/219826"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=219574"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=219574"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=219574"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}