{"id":21921,"date":"2019-12-02T13:54:43","date_gmt":"2019-12-02T06:54:43","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=21921"},"modified":"2019-12-02T13:54:43","modified_gmt":"2019-12-02T06:54:43","slug":"jangan-jadi-guru-kalau-baperan-kecuali-hatimu-sanggup-legawa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jangan-jadi-guru-kalau-baperan-kecuali-hatimu-sanggup-legawa\/","title":{"rendered":"Jangan Jadi Guru Kalau Baperan, kecuali Hatimu Sanggup Legawa"},"content":{"rendered":"<p align=\"justify\"><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"margin: 0px;\">Terus terang<\/span><span style=\"margin: 0px;\">, <\/span><span style=\"margin: 0px;\">ketika kemarin seluruh postingan di <\/span><span style=\"margin: 0px;\">WhatsApp <\/span><span style=\"margin: 0px;\">story, Facebook, dan banyak media sosial lainnya yang mengunggah ucapan &#8220;Selamat Hari<\/span><span style=\"margin: 0px;\">\u00a0G<\/span><span style=\"margin: 0px;\">uru&#8221;. Mungkin saya adalah sebagian kecil manusia di Indonesia <\/span><span style=\"margin: 0px;\">yang <\/span><span style=\"margin: 0px;\">tidak mengucapkan selamat atau <\/span><span style=\"margin: 0px;\">merayakannya dengan suka cita. S<\/span><span style=\"margin: 0px;\">aya membaca pidato Bapak Nadiem Makariem <\/span><span style=\"margin: 0px;\">ketika upacara bendera peringatan Hari Guru Nasional <\/span><span style=\"margin: 0px;\">dengan menangis, bahkan saya menulis ini pun dengan menangis sendiri di dalam kamar dan nelangsa.<\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"justify\"><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"margin: 0px;\">Saya baper maksimal. <\/span><span style=\"margin: 0px;\">Begitu besar harapan bangsa kepada guru, tapi begitu tidak adilnya bagaimana mereka diperlakukan di negara ini. <\/span><\/span><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"margin: 0px;\">Percayalah, masih banyak guru honorer, <\/span><span style=\"margin: 0px;\">dengan ijazah S-1 dan <\/span><span style=\"margin: 0px;\">gaji 300 ribu <\/span><span style=\"margin: 0px;\">di zaman yang menggembar-gemborkan diri sebagai <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ancaman-revolusi-industri-4-0-dalam-pertunjukan-bukik-tui\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">revolusi industri 4.0<\/a> ini.<\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"justify\">Ibu saya, konon ketika masih muda belia, sangat ingin menjadi guru. Mendaftarkan diri di SPG tetapi tidak didukung oleh teman-temannya. Sebab, saat itu ibu saya adalah anggota geng kumpulan anak-anak hits. Mereka suka bolos, rutin nonton bioskop film remaja di masanya. Maka, bagi teman-temannya akan tampak konyol kalau ada &#8220;preman&#8221; yang memilih jadi guru.<\/p>\n<p align=\"justify\"><span style=\"margin: 0px;\"><span style=\"color: #000000;\">Namun rupanya cita-cita mulia ibu saya tidak berhenti sampai di situ. Di kemudian hari, ketika sudah tidak naik kelas selama 2 tahun, puas dengan masa remaja yang penuh hiruk pikuk, dan tiba masa lulus SMA, beliau kemudian mendaftar di IKIP Malang. Sekolah tinggi yang sekarang berganti nama menjadi Universitas Negeri Malang. Keinginannya yang kuat untuk hijrah dan cita-cita mencerdaskan anak bangsa tampaknya belum padam. Beliau mendaftar menjadi guru Sejarah dan sayangnya tidak diterima. <\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"justify\"><span style=\"margin: 0px;\"><span style=\"color: #000000;\">Kita tahu bahwa doa seorang Ibu itu makbul adanya. Bagaimana tidak? Saya dan adek semata wayang yang tidak pernah memiliki cita-cita menjadi guru, atas doa ibu, serentetan takdir berakhirlah kami berdua menjadi guru. Kami menjadi saksi sejarah, begitu dasyatnya doa seorang ibu. Ya, meski gaji kami dengan prifesi ini memang cukup bikin meringis. Tapi tak apa, yang penting ini adalah pekerjaan mulia, halal, dan gajinya hingga akhirat.<\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"justify\">Akan tetapi, apakah kemudian seorang guru tidak diperbolehkan mapan tanpa harus bekerja serabutan dengan mencari pekerjaan tambahan? Pasalnya, percayalah, teman-teman saya sendiri harus berutang dulu, mencari pekerjaan sampingan dulu, jika tidak ingin sekarat kehabisan energi ketika mengajar. Bermacam-macam usaha tambahan dilakukan. Mulai dari menjadi pedagang, peternak, penjahit, bahkan mengamen pun dilakukan.<\/p>\n<p align=\"justify\"><span style=\"margin: 0px;\"><span style=\"color: #000000;\">Berbagai angan-angan, demo, bahkan <em>upload<\/em> slip gaji demi memperjuangkan kesejahteraan sebagai usaha paling putus asa, juga dilakukan. Sungguh sedih rasanya membaca postingan anak didik saya, yang telah menjadi guru dan melihat kenyataan gaji yang mereka terima. Bahkan diam-diam dalam hati kecil saya mendoakan mereka memilih bekerja apa pun saja selain menjadi guru. Menjadi pengusaha atau buruh pabrik dengan gaji UMR. Setidaknya, nanti ketika berkeluarga bisa hidup cukup tak kekurangan. <\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"justify\"><span style=\"margin: 0px;\"><span style=\"color: #000000;\">Mungkin situ kurang iman atau kurang bersyukur saja. Toh bekerja adalah ibadah, gaji adalah bonus. Percayalah, usaha tak mengkhianati hasil. Oh, menurut L?!! Lalu, kalau tidak ada yang merasa dikhianati oleh hasil, kenapa masih marak postingan-postingan penderitaan seorang guru honorer yang kadang bagi para awam tidak percaya dengan kenyataan yang ada?<\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"justify\"><span style=\"margin: 0px;\"><span style=\"color: #000000;\">Namun, apa pun yang terjadi, menjadi guru adalah pilihan. Ketika tidak siap menerima gaji sedikit, maka masih belum terlambat. Pindahlah haluan! Berhentilah. Fokus saja, menjadi pengusaha sukses seperti Bapak <a href=\"https:\/\/tirto.id\/nadiem-makarim-jadi-menteri-lebih-mudah-daripada-jadi-guru-elet\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Nadiem Makariem<\/a>. Lalu, saya doakan kalian menjadi Menteri Pendidikan. Ingatlah gajimu, lalu perjuangkan agar semua guru di Indonesia ini sejajar dengan para buruh yang berhak mendapat UMR.<\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"justify\"><span style=\"margin: 0px;\"><span style=\"color: #000000;\">Salam kemanusiaan yang adil dan beradab!<\/span><\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <\/strong><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/guru-honorer-dilema-antara-cinta-mengajar-dan-pendapatan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Guru Honorer: Dilema Antara Cinta Mengajar dan Pendapatan<\/a> atau tulisan Nila Kartika Sari\u00a0lainnya.<\/p>\n<p>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sungguh sedih rasanya membaca postingan anak didik saya, yang telah menjadi guru dan melihat kenyataan gaji yang mereka terima.<\/p>\n","protected":false},"author":466,"featured_media":21937,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[4707,1123,4152,4602],"class_list":["post-21921","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-gaji-guru","tag-guru-honorer","tag-nadiem-makarim","tag-umr"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21921","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/466"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=21921"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21921\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/21937"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=21921"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=21921"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=21921"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}