{"id":2191,"date":"2019-05-26T17:00:16","date_gmt":"2019-05-26T10:00:16","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=2191"},"modified":"2021-10-05T13:31:24","modified_gmt":"2021-10-05T06:31:24","slug":"bukber-biasa-saja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bukber-biasa-saja\/","title":{"rendered":"Bukber Biasa Saja"},"content":{"rendered":"<p>Jikalau sebagian umat Islam berebutan dapet malam seribu bulan (<a href=\"https:\/\/mojok.co\/red\/ulasan\/pojokan\/tanggal-nuzulul-quran-dan-lailatul-qadar\/\"><em>lailatul qadar<\/em><\/a>)\u2014dengan cara meningkatkan ibadah semakin intensif akhir-akhir ini\u2014maka kami yang masih muda juga masif sekali untuk mengurus buka puasa bersama dengan siapapun dan kapanpun. Mulai dari teman kelas, organisasi, pergerakan, teman sehobi, teman KKN, SD, SMP, SMA, dan grup-grup bekas-ikut-event, juga keluarga-keluarga dekat kami\u2014semua punya jatah untuk bukber. Lalu apa istimewanya?<\/p>\n<p>Alquran sudah turun kemarin\u2014sebagian bilang 17 dan ada juga yang yakin 24 Ramadan\u2014tapi yang jelas saat itulah Nabi menggigil parah sehabis bertemu dengan sosok agung Jibril. Sementara Soekarno dengan tegas tanggal 9 Ramadan\u2014meskipun bergemataran hatinya\u2014mengumandangkan kemerdekaan untuk bangsa Indonesia. Buka bersama adalah realitas sosial masa kini yang perlu dilewati begitu saja. Kegiatannya adalah ikut nimbrung lalu bayar iuran dan akhirnya pulang. Eh lupa, foto-foto dulu pastinya nggak boleh ketinggalan.<\/p>\n<p>Budaya massa Indonesia bisa dibilang rentan, artinya ketika <em>gue<\/em> punya hajatan bukber <em>loe<\/em> juga harus punya. Tapi bisa juga dari skala prioritas hidup manusia yang terpenuhipPrimer dan sekundernya, lalu kebutuhan tersier semacam buka bareng setiap bulan Ramadan harus terpenuhi. Kita masih bisa memperdebatkan\u2014bukber itu menjadi kebutuhan yang mana. Tapi jangan sekarang, hal itu mengurangi esensi puasa.<\/p>\n<p>\u201cMungkin 22 Mei itu gerakan bukber mas,\u201d ungkap satu orang.<br \/>\n\u201cKecurangan perlu diberantas. Ingatlah sosok Umar Bin Khattab?\u201d sambar orang kedua.<br \/>\n\u201cYang penting dan pasti adalah <a href=\"https:\/\/tirto.id\/duduk-perkara-harun-rasyid-korban-kerusuhan-22-mei-tewas-di-slipi-d1J9\">22 Mei itu bukan malam <em>lailatul qadar<\/em><\/a>, ya kan?\u201d<\/p>\n<p>Saya potong obrolan teman-teman karena saat itu ada pria berjenggot lewat di samping kita yang sedang bukber. Sepertinya mereka bukber sesama penyuka jenggot dan jilbab panjang gitu\u2014wah Bimbo bisa <em>remake<\/em> lagu menjadi Kerudung Panjang, pikirku.<\/p>\n<p>Itulah kami yang belum bisa berhenti kalo membicarakan orang\u2014konon karena madu yang diolesi oleh para kawanan Iblis di tepi bibir kita maka kita akan terus dan tidak bosannya melakukan <em>ghibah<\/em>. Tapi kami\u2014para anak-anak muda juga seperti masyarakat lainnya\u2014semakin konsumtif menjelang akhir bulan puasa. Tapi itu alasan terbaik agar kita bisa fokus dalam ibadah. Membeli sayur di pasar, mengupas bawang di dapur, hanyalah kamuflase dari kebiadaban menghasut dan <em>ghibah<\/em>. Lebih baik kita beli, setidaknya kualitas puasa menjadi aman.<\/p>\n<p>Buka puasa bersama punya nama beragam, sebanyak kumpulan kita yang unik-unik\u2014aneh tepatnya. Contoh Bubar (Buka Bareng), Bukber atau Buber (Buka Bersama), Bupuber (Buka Puasa Bersama), Baper (Batalin Puasa Bersama), dan seterusnya\u2014dan yang paling familiar memang Bukber.<\/p>\n<p>Cara paling mudah dan cepat mengidentifikasi kita akan berapa kali buber selama Ramadan adalah dengan cara menghitung grup WhatsApp. Andai saja seseorang punya 30 grup di WhatsApp-nya maka artinya kemungkinan selama sebulan dia akan buka bareng setiap hari.<\/p>\n<p>Uniknya dari bukber itu adalah beberapa orang relawan saja\u2014satu-dua teman kita\u2014yang sebab merekalah yang menghubungi siapapun kita untuk iuran. Merekalah juga yang manggil-manggil kenangan agar kita hadir di acara buka bersama. Merekalah yang mengupayakan semua mendapatkan ruang bicara agar tidak didominasi satu orang saja. Seperti buber <em>on the road<\/em> 22 Mei di Jakarta\u2014pasti punya relawan yang militan, selain mereka harus di jalanan, mereka juga dianjurkan beratribut yang tidak ramah keringat parah\u2014<em>yang begituan itu lo<\/em>. Tapi namanya juga ekspresi, pasti muncul dengan ragam isi hati kita masing-masing.<\/p>\n<p>Bukber sebagai budaya <em>nandhur srawung<\/em> adalah opsi kedua dari kualitas puasa kita yang aman sentosa. Artinya sudah menjadi kebutuhan yang wajib terpenuhi untuk bertemu orang lain, bersosialisasi, dan nanti akhir bulannya bagi-bagi THR. Budaya ini juga sering disebut koordinasi antar kelompok agar terjadinya saling komunikasi dengan baik.<\/p>\n<p>Mari kita mencoba mengambil sudut pandang yang dekat-dekat saja. Artinya kalo budaya bukber itu dihubungkan antara kacamata ekonomi dan kualitas beribadah, maka kita tidak akan pernah selesai dengan segala macam upaya itu. Tapi untuk menganggapnya biasa saja itulah nilai budaya Jawa yang lama tidak digunakan (usang) tapi sepertinya bisa dimodifikasi dengan kebutuhan zaman: <em>menep<\/em>\u2014yang kalau diartikan menjadi bahasa Indonesia adalah mengendap.<\/p>\n<p>Jadi proses pengendapan itu tidaklah sebentar, bermacam ujian dan rasa bosan akan menguji tiada henti, tapi setelah mencapai titik cerah dan tenang menghadapi masalah hidup yang profan ini, maka proses <em>menep<\/em> berjalan dengan baik. Porsi kecewa itu terletak di tempat terbuka namun bagai bunglon untuk dikenali. Maksudnya, kualitas puasa bukan urusan bersama.<\/p>\n<p>Apalagi urusan relawan buka bersama. Itu urusan privat dengan sang pencipta.<\/p>\n<p><em>\u201c&#8230;puasa untukKu dan Aku sendirilah yang akan memberikan ganjaran untuknya.\u201d<\/em><\/p>\n<p>Bunyinya tegas bahwa manusia tidak punya urusan dengan kualitas puasa manusia lainnya. Manusia hanya kurang puas kalau puasa Ramadan tidak ada buka bersama. Inilah upaya untuk mengenali budaya bukber sebagai cara terbaik untuk melihatnya biasa-biasa aja. Karena selain itu, kita harus berfikir positif bahwa teman dan kolega yang hadir itu puasa penuh dan khidmat\u2014bukan puasa duhur yang juga budaya kita\u2014meskipun secara praktek masih di tahap <em>&#8216;am<\/em> (puasa orang-orang umum) yakni menahan makan dan minum dari terbitnya fajar hingga tenggelamnya matahari. Tidur setelah subuh dan bangun jam lima sore sejengkal sebelum adzan magrib\u2014termasuk puasa &#8216;am\u2014boleh ikut bukber.<\/p>\n<p>Bagaimana dengan yang tidak puasa, apakah boleh ikut bukber? Boleh.<\/p>\n<p>Maka dari itu wahai anak cucu Adam, bukber itu (sebenarnya) biasa-biasa saja.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bukber adalah realitas sosial masa kini yang perlu dilewati begitu saja. Kegiatannya adalah ikut nimbrung lalu bayar iuran dan akhirnya pulang.<\/p>\n","protected":false},"author":45,"featured_media":2244,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[537,317,401],"class_list":["post-2191","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-aksi-22-mei","tag-buka-bersama","tag-kritik-sosial"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2191","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/45"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2191"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2191\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2244"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2191"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2191"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2191"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}