{"id":218855,"date":"2023-05-31T14:00:26","date_gmt":"2023-05-31T07:00:26","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=218855"},"modified":"2023-05-31T13:45:56","modified_gmt":"2023-05-31T06:45:56","slug":"sejarah-dan-alasan-laki-laki-madura-suka-pakai-sarung","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sejarah-dan-alasan-laki-laki-madura-suka-pakai-sarung\/","title":{"rendered":"Sejarah dan Alasan Laki-laki Madura Suka Pakai Sarung"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sarung seakan menjadi identitas yang sudah melekat bagi laki-laki Madura. Di berbagai waktu dan tempat, laki-laki Madura akan tetap menggunakan sarung. Bukan berarti tidak ada yang menggunakan celana, tapi sarung tetaplah jadi pilihan utama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan, di channel YouTube<\/span><a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=_r15gG46_hs&amp;t=390s\"> <span style=\"font-weight: 400;\">Tretan Universe<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, ada bagian video ketika Tretan Muslim mengatakan kalau orang Madura suka pakai sarung. Tretan Muslim mengatakannya karena banyak melihat laki-laki\u00a0 menggunakan sarung di jalanan saat dirinya berkunjung ke Bangkalan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Riset dari Ardhie Raditya juga memperlihatkan bahwa sekalipun laki-laki Madura sudah dirasuki dengan budaya populer, mereka tidak akan pernah melepaskan sarung di kehidupan sehari-harinya. Baik di rumah, maupun di ruang publik, sarung bagi laki-laki Madura telah menjadi pakaian yang tidak boleh dilupakan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lantas, kenapa laki-laki Madura senang menggunakan sarung?<\/span><\/p>\n<h2><strong>Cerita tentang Aryo Menak<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bisa dikatakan kalau pemakaian sarung di Madura sudah menjadi tradisi turun-temurun sejak masa lampau. Ini bisa ditilik dari kehidupan Madura saat pemerintahannya masih menggunakan sistem kerajaan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada suatu waktu, Aryo Menak, anak dari Adipati Palembang, berkeinginan untuk mengunjungi pamannya yang bernama Lembu Peteng di Pamekasan. Setelah menempuh perjalanan jauh dan penuh cobaan, Aryo Menak sampai di Pamekasan. Sesampainya di Pamekasan, Aryo Menak disambut baik oleh Lembu Peteng, bahkan memintanya untuk menginap.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aryo Menak yang kagum dengan Madura, menolak tawaran menginap dari Lembu Peteng. Dia memutuskan untuk berpetualang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aryo Menak berjalan ke arah barat. Dan sampai di desa Karang Anyar, Aryo Menak diminta untuk memperbaiki sumber air di sana yang sering banjir. Akhirnya, Aryo Menak berhasil menanggulangi sumber air yang sering banjir. Sehingga, memutuskan menetap di Karang Anyar sebagai bentuk penghormatan pada masyarakat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Singkat cerita, Aryo Menak menikah dengan seorang bidadari setelah selendangnya dicuri oleh Aryo Menak. Aryo Menak dan istrinya hidup bahagia di\u00a0 Karang Anyar. Selama hidup di Karang Anyar, Aryo Menak hanya melilitkan tubuhnya dengan kain yang disebut \u201csarung\u201d. Sama dengan istrinya yang melilitkan kain ke badannya dan disebut dengan \u201csamper\u201d.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka, cara berpakaian Aryo Menak dan istrinya ditiru oleh masyarakat sekitar. Sehingga, lambat laun, sarung dan samper menjadi cara berpakaian yang terus menyebar dan dipertahankan oleh masyarakat Madura hingga sekarang.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><strong>Pro dan kontra<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak masyarakat yang percaya jika sarung pertama kali diperkenalkan oleh Aryo Menak. Namun, ada juga yang menolaknya. Argumennya adalah sarung yang digunakan Aryo Menak berbeda dengan sarung yang biasa digunakan untuk salat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terlepas dari perdebatan masyarakat yang setuju dan tidak setuju terkait sejarah pemakaian sarung pertama kali di Madura. Alasan lain laki-laki Madura senang menggunakan sarung karena dimaknai sebagai pembawa keberkahan.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><strong>Arti sarung bagi lak-laki Madura<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Laki-laki Madura yang bukan pekerja kantoran, saat bekerja lebih memilih untuk memakai sarung. Mereka memaknai sarung sebagai pakaian yang memberi keberkahan karena juga digunakan saat beribadah pada Allah. Sehingga, Allah akan memberkahi jika bekerja menggunakan sarung.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang secara rasional, tidak masuk akal. Cuman saya beberapa kali berbincang dengan laki-laki Madura yang bekerja sebagai pedagang. Mereka bercerita kalau pernah mencoba berjualan dengan menggunakan celana biasa. Tetapi, saat menggunakan celana biasa, dagangannya tidak laku. Alhasil, kembali lagi memakai sarung. Dan dagangannya lebih banyak dibeli oleh orang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya juga pernah berbincang dengan seorang petani. Dia bercerita kalau sedang bercocok tanam di tegal, harus menggunakan sarung. \u201cKenapa begitu, Pak?\u201d tanya saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSoalnya, kalau tidak pakai sarung ada saja musibahnya. Kadang kaki kena duri, tangan dipatok ular, bahkan hasil panennya tidak bagus. Sedangkan, kalau bercocok tanam pakai sarung, saya selalu dilindungi oleh marabahaya dan hasil panen lebih bagus,\u201d jawab bapaknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemaknaan terhadap keberkahan sarung, bukan hanya dimaknai sebagai pembawa berkah ketika bekerja. Keberkahan sarung juga dimaknai saat mengendarai kendaraan. Kalau berkunjung ke Madura, baik pengguna sepeda motor dan mobil, kebanyakan akan menggunakan sarung.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenapa? Baginya, sarung bukan sekadar penutup aurat ketika di jalan, melainkan pelindung dari petaka. Masyarakat percaya kalau Allah akan meridai selama berada di perjalanan. Jadi, jangan heran kalau ke Madura, menemukan pengendara sepeda motor tidak pakai helm, atau pengendara mobil tidak menggunakan sabuk pengaman. Helm dan sabuk pengaman, tidak ada artinya jika Allah tidak meridainya.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><strong>Sarung itu praktis<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alasan lain yang menjadikan laki-laki Madura senang menggunakan sarung karena lebih nyaman dipakai daripada memakai celana. Penggunaan sarung lebih fleksibel, sehingga membuat penggunanya lebih nyaman bergerak. Terlebih lagi, sirkulasi angin lebih mudah masuk ke sarung daripada celana. Itu akan membuat laki-laki Madura menjadi lebih nyaman di tengah kondisi suhu Madura yang panas.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenyamanan lain dari menggunakan sarung adalah ketika membelinya. Membeli sarung tidak begitu rumit daripada membeli celana. Apabila membeli sarung, tidak perlu pusing mencari ukuran yang sesuai. Intinya, kalau sudah ada yang cocok dengan hati, langsung sikat ke kasir untuk membayarnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan kenyamanan dan nilai keilahiannya, tidak heran kalau laki-laki Madura suka memakai sarung. Bisa dikatakan, sarung telah menjadi peradaban kebudayaan orang Madura melalui peristiwa yang panjang, bukan dari ruang hampa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, jangan heran sekalipun banyak budaya asing menghujani Madura, sarung tidak akan pernah hilang dari peradaban. Sebab, sejarah yang menjelma sebagai kebudayaan masyarakat akan menjadi akar kehidupan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Akbar Mawlana<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pakai-sarung-di-kampus-madura-adalah-langkah-yang-tepat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Surat Edaran tentang Penggunaan Sarung di Kampus Madura Adalah Langkah yang Tepat<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sarung seakan menjadi identitas yang sudah melekat bagi laki-laki Madura. Bagaimana sejarahnya?<\/p>\n","protected":false},"author":891,"featured_media":172164,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[19408,5020,600],"class_list":["post-218855","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-aryo-menak","tag-madura","tag-sarung"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218855","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/891"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=218855"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218855\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/172164"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=218855"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=218855"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=218855"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}