{"id":2183,"date":"2019-05-28T19:00:05","date_gmt":"2019-05-28T12:00:05","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=2183"},"modified":"2021-10-05T13:21:12","modified_gmt":"2021-10-05T06:21:12","slug":"angkot-sahabat-sejati-mahasiswa-yang-ingin-hidup-minimalis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/angkot-sahabat-sejati-mahasiswa-yang-ingin-hidup-minimalis\/","title":{"rendered":"Angkot, Sahabat Sejati Mahasiswa yang Ingin Hidup Minimalis"},"content":{"rendered":"<p>Pagi sekali, sekitar jam 7 saya sudah berdiri di pinggir jalan raya. Sambil memperhatikan kendaraan-kendaraan yang lalu lalang, saya sedang menunggu mobil angkot untuk saya tumpangi ke kampus. Sebagai seorang mahasiswa milenial yang <span style=\"text-decoration: line-through;\">miskin<\/span> pengen hemat, inilah pilihan terbaik yang saya punya.<\/p>\n<p>Saya memilih moda transportasi ini sebagai kendaraan mau ke kampus karena tentu saja tarifnya yang murah. Jauh dekat hanya tiga ribu. Dan juga karena saya tidak mampu membeli motor Kawasaki Ninja 250R yang suara mesinnya saja terkadang bisa bikin hati cewek-cewek berdesir. Jangankan mau beli motor, diktat dari dosen saja kadang ngutang\u2014miskin memang.<\/p>\n<p>Suara mesin angkot itu tidak ada bagus-bagusnya. Tapi setidaknya suara mesinnya itu lebih bagus dari suara <span style=\"text-decoration: line-through;\">yang katanya<\/span> wakil rakyat di Senayan sana yang janji menyampaikan aspirasi masyarakat, tapi pas rapat malah molor.<\/p>\n<p>Cara memberhentikan angkot itu gampang saja\u2014nggak perlu banyak gerak. Cukup berdiri di pinggir jalan sambil menikmati es kelapa muda, niscaya ia akan berhenti dengan sendirinya.<\/p>\n<p>Setelah sekitar lima menit menunggu, akhirnya yang ditunggu datang juga.<\/p>\n<p>Angkot yang saya tumpangi itu biasanya macam-macam\u2014ada yang <em>body<\/em> mobilnya biru polos saja, kadang ada juga yang ditempel sama <a href=\"https:\/\/mojok.co\/daf\/ulasan\/pojokan\/5-cara-rakyat-indonesia-manfaatkan-baliho-caleg-usai-pemilu\/\">stiker Capres atau Caleg<\/a>. Biasanya juga ada tulisan-tulisan yang cukup menarik untuk dibaca\u2014misalnya dari yang paling klasik, \u201ckutunggu jandamu\u201d, \u201ctidak naik angkot tidak ganteng\u201d dan tulisan lucu seperti \u201cpilihlah pasangan nomor 10, saya jadi pemimpin, kalian <span style=\"text-decoration: line-through;\">sengsara<\/span> sejahtera\u201d.<\/p>\n<p>Pas masuk ke dalamnya, bagian interiornya tak kalah menarik dan juga macam-macam. Ada yang dibiarin kayak gitu aja\u2014polos. Cuma ada kursi yang berhadapan kayak bangku biasa, jadi penumpang duduknya berhadap-hadapan. Ada juga yang dimodif\u2014misalnya dimotif jadi warna <em>pink <\/em>Hello Kitty, warna biru Doraemon. Biar kelihatan lebih menarik, ada yang masang layar monitor biar penumpang bisa nonton. Dan hanya di dalam kendaraan ini kalian bisa melihat personil Blackpink joget diiringi musik koplo.<\/p>\n<p>Ada beberapa pengalaman saya saat naik moda transportasi favorit masyarakat ini<del datetime=\"2019-05-28T06:02:10+00:00\">\u2014semoga saja menarik dan membuat tulisan ini layak untuk dimuat di Terminal Mojok.<\/del><\/p>\n<p>Yang pertama adalah tentang <strong>sopir angkot ini biasanya sangat suka ngebut<\/strong> yang kadang membuat penumpang itu jengkel dan tidak nyaman. Tentu saja tidak bagi kami, mahasiswa yang sebentar lagi bakal telat dan tidak akan diizinkan buat masuk oleh dosen<em>.<\/em> Kalau dari pengalaman saya, saya curiga para sopir ini sebenarnya bercita-cita mejadi pembalap. Saya yakin kalau mereka ini jadi pembalap di Formula 1, Fernando Alonso pun bakal keteteran buat bersaing.<\/p>\n<p>Sebagai mahasiswa yang sebentar lagi akan telat, kami bahkan tidak menyukai sopir yang jalannya lambat. Apalagi sopir yang dikit-dikit berhenti\u2014tentu saja buat naikin penumpang. Tapi apesnya pas angkot berhenti, ada orang yang ditanya sama sopirnya mau naik atau tidak, malah nggak jawab. Sopirnya nggak mau rugi, jadinya nungguin nih orang sampai ke angkot. Pas sudah nyampe di angkot, eh ternyata nggak mau naik\u2014tinggal lewat doang. Pengen rasanya turun dari angkot dan ngasih <span style=\"text-decoration: line-through;\">tendangan terbang<\/span> uang sama orang kayak gitu. Tolonglah, apasih susahnya tinggal bilang atau ngasih kode kalau nggak mau naik angkot biar nggak ditungguin.<\/p>\n<p>Sesuai pengalaman saya, ada lagi satu <strong>kelebihan yang dimiliki oleh para supir angkot\u2014mereka punya penglihatan yang sangat tajam<\/strong>. Saya curiga kalau sebenarnya mereka ini keturunan dari Klan Hyuga. Pernah waktu saya naik angkot tiba-tiba angkotnya berhenti. Saya nengok kiri kanan muka belakang, nggak ada orang. \u201cKenapa nih angkot berhenti\u201d, pikir saya. Tapi tiba-tiba saja ada orang yang naik angkot. <em>Hastagah, ini orang lewat mana yak~<\/em><\/p>\n<p>Yang paling ngeselin lagi dari <strong>para supir angkot ini yaitu ketika tiba-tiba merubah arah<\/strong>. Misalnya tujuan kita belok kiri, tiba-tiba angkotnya belok kanan. Yang seharusnya lurus, tiba-tiba putar balik. <del>Bilangnya sayang, padahal nggak.<\/del> Kalau sudah gitu, pengen rasanya ngeluarin kata-kata mutiara. Tapi tentu saja saya tahu kalau mereka ini lagi nyari uang, jadi wajar saja. Memang sayanya saja yang sedang buru-buru saat itu. Kalau lagi nggak buru-buru, kita mah <em>enjoy<\/em> aja\u2014mau keliling kota juga kita ngikut.<\/p>\n<p>Kalau naik angkot di <em>real life<\/em> itu jangan pernah ngebayangin adegan romantis kayak Dilan sama Milea. Nggak akan pernah bisa. Angkot sungguhan tidak sesepi itu dan tidak jalan selambat itu. Dalam angkot itu bisa muat penumpang sampai sebelas orang\u2014itupun sudah <em>overload<\/em>. Jadinya orang pada dempet-dempetan.<\/p>\n<p>Misalnya <a href=\"https:\/\/tirto.id\/dilan-1991-thriller-psikologis-tentang-evolusi-kegilaan-milea-didP\">Dilan mau gombal,<\/a>\u00a0\u201c<em>Milea, kamu can&#8230;\u201d. \u201cwoi, minggir-minggir napa, sempit ini<\/em>\u201d.<\/p>\n<p>Misalnya lagi, \u201c<em>Milea, aku belum mencin&#8230;., astghfirullah. Pak, pelan-pelan dong, lagi ngegombal ini<\/em>\u201d.<\/p>\n<p>Dijamin nggak bakal ada romantis-romantisnya.<\/p>\n<p>Belum lagi kalau angkot itu lewat di jalan yang kurang bagus. Jalan yang penuh lubang. Asli, berasa kayak naik kuda. <span style=\"text-decoration: line-through;\">Walaupun saya belum pernah naik kuda.<\/span> Angkotnya kayak getar gitu.<\/p>\n<p>Kalau sudah sampai tempat tujuan, usahakan untuk kasih tahu sopir untuk memberhentikan angkot 5 sampai 10 meter dari titik turun. Sesuai pengalaman, angkot itu kadang berhenti lebih jauh dari saat kita suruh untuk berhenti\u2014entah kenapa. Bisa jadi karena terlalu ngebut atau remnya yang kurang bekerja.<\/p>\n<p>Cara nyuruh angkot untuk berhenti itu gampang. Ingat jangan nepuk pundak si sopir\u2014ini bukan ojek. Kalau mau berhenti itu usahakan bilang\u2014ngomong. Kasih tau. <span style=\"text-decoration: line-through;\">Jangan main pergi aja tanpa ngasih alasan yang jelas.<\/span> Kalau mau berhenti, ada 2 kata yang sering digunakan. \u201cMinggir\u201d atau \u201cKiri\u201d <span style=\"text-decoration: line-through;\">dan \u201cmaaf, kamu terlalu baik buat aku\u201d.<\/span><\/p>\n<p>Terlepas dari semua kenyelenehan atau kekurangan saat kita naik angkot, sepertinya kita harus berterima kasih kepada mereka-mereka yang jadi sopir angkot. Mereka rela narik dari pagi buat nawarin jasanya. Jangan merendahkan mereka karena sopir angkot itu pekerjaan yang baik. Bayangin aja kalau nggak ada angkot\u2014aktivitas pasti bakal terhambat dan perekonomian juga bisa jadi melemah.<\/p>\n<p>Saya sudah sampe nih. Sudah dulu yak.<\/p>\n<p><em>\u201cMinggir mas~&#8221;<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sambil memperhatikan kendaraan-kendaraan yang lalu lalang, saya sedang menunggu mobil angkot untuk saya tumpangi ke kampus.<\/p>\n","protected":false},"author":36,"featured_media":2429,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[220,401,644],"class_list":["post-2183","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-angkot","tag-kritik-sosial","tag-transportasi"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2183","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/36"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2183"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2183\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2429"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2183"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2183"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2183"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}