{"id":218279,"date":"2023-05-25T13:56:31","date_gmt":"2023-05-25T06:56:31","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=218279"},"modified":"2023-05-25T13:56:31","modified_gmt":"2023-05-25T06:56:31","slug":"nembak-kereta-kelakuan-memalukan-orang-indonesia-di-jepang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nembak-kereta-kelakuan-memalukan-orang-indonesia-di-jepang\/","title":{"rendered":"Nembak Kereta, Kelakuan Memalukan Orang Indonesia di Jepang"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Baru-baru ini viral video 8 orang Indonesia cekikikan sambil keluar dari stasiun di Jepang tanpa memasukkan tiket atau mengetap kartu transportasi dan diberi narasi \u201c8 orang Indonesia nembak Shinkansen dan dideportasi pulang ke Indonesia\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski banyak terjadi kontroversi mengenai kebenaran video tersebut, KBRI Tokyo akhirnya memposting di Instagram dan mengimbau agar diaspora Indonesia yang sedang tinggal di Jepang mentaati peraturan setempat. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang apa sih \u201cnembak kereta\u201d itu sampai bikin geger diaspora Indonesia di Jepang?<\/span><\/p>\n<h2><b>Nembak kereta di Jepang sama dengan mencuri<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Biaya transportasi umum di Jepang memang tak murah. Namun, dengan fasilitas sedemikian bagus, wajar saja kalau biayanya segitu. Kepraktisan stasiunnya dan tepat waktu keberangkatan kedatangan keretanya sudah menjadi rahasia umum. Hanya saja, di balik praktisnya, ternyata masih saja bisa dicurangi. Terutama, moda transportasi kereta dan sejenisnya (termasuk kereta peluru alias shinkansen).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebut saja istilah dalam bahasa Jepangnya \u201ckiseru jousha\u201d alias penumpang \u201cgelap\u201d. Dibilang gelap karena ia tak membayar sesuai tarif yang sudah ditentukan. Kalau di kalangan diaspora Indonesia, kecurangan ini disebut \u201cnembak kereta\u201d. Kenapa dibilang \u201cnembak\u201d? Karena hampir mirip dengan istilah \u201cnembak\u201d saat ujian SIM dsb. Ups. Hal tersebut termasuk tindakan kriminal di Jepang. Hukumannya bisa sampai dipenjara. Namun, ada juga yang baru diberi peringatan dan disuruh membayar sesuai tarif seharusnya terlebih dahulu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masih bingung ya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara teknis, ada beberapa cara mencurangi tiket kereta di Jepang. Namun, tentunya tak akan saya jabarkan secara rinci di sini. Saya sendiri hanya tahu saja dan belum pernah mempraktikkannya. Bagaimana tidak, saya hanya awardee yang terikat kontrak dengan pemberi beasiswa untuk tak melakukan tindakan kriminal seperti itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagi pula, saya mendapat uang dari \u201crakyat Jepang\u201d, ngapain sampai curang segala. Kalau memang nggak punya uang buat jalan-jalan ke luar kota, ya sudah nggak perlu maksain.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Cara naik kereta di Jepang<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi begini, cara naik kereta di Jepang itu sama seperti di Indonesia, harus membeli tiket terlebih dahulu. Untuk dapat masuk ke stasiun keberangkatan, kita harus memasukkan tiket. Ketika sudah masuk, saat keluar dari mesin tiket tersebut akan berlubang. Lalu, saat tiba di stasiun kedatangan, tiket berlubang itu harus dimasukkan ke mesin pintu keluar stasiun. Tiket akan tertelan. Jadi, asal punya \u201ctiket\u201d, ya aman keluar masuk stasiun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saking ramainya stasiun, tak mungkin petugas stasiun mengecek satu per satu. Mencocokkan keberangkatannya dari mana dan tarifnya apakah sesuai atau tidak. Nah, dari sini sudah tahu kan kira-kira gimana cara mencuranginya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yap, mereka memang membeli tiket. Namun, tak sesuai tarifnya. Kalau melakukan perjalanan dengan 10 stasiun, ia hanya membeli tiket dari stasiun keberangkatan ke stasiun terdekat saja (1 stasiun). Anggap saja tiket terdekat hanya 200 yen, sementara untuk sampai 10 stasiun yang dituju bisa sampai 1000 yen, misalnya. Ada selisih 800 yen yang nggak dibayar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ah, trus gimana keluarnya? Mesin stasiun tentu nggak goblok kan, masa nggak bisa mendeteksi tiket asal stasiunnya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yap, bener banget. Mesin stasiun akan tahu kalau tiketnya kurang karena tertulis nama stasiun keberangkatannya.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Nggak ngotak<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari situlah ada beberapa cara mencuranginya. Kalau kata netizen (saya ambil dari komentar di instagram KBRI Tokyo): \u201cnembak itu mereka nempel bang, jadi pas ngetap tmnnya yg nembak nempel di belakang temamnya yang pegang tiket, beli tiketnya cuma satu. Biasanya kan klo ngetap tiket palang pintunya kebuka beberapa detik kan. Nah mereka yg nembak itu nempelnya deketan. Lagian juga mereka gada takut-takutnya. Di stasiun Jepang padahal banyak kamera, dan biasanya ada petugas jaga di depan mesin tap nya itu.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya nggak akan menjelaskan detailnya, tetapi kira-kira paham lah ya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada juga cara lain, dengan \u201cmenjemput\u201d. Jadi, ada teman di stasiun tujuan yang sama-sama beli tiket dengan stasiun terdekat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari 10 stasiun yang dituju tadi, teman di stasiun ke 10 akan masuk dan membeli tiket stasiun 10 ke stasiun 9 (yang tentunya lebih murah). Tentunya ia membeli 2 buah, yang satu untuk dia masuk ke stasiun dan satu lagi untuk temannya yang di dalam yang hanya memiliki tiket stasiun 1 ke 2. Dan teman tersebut hanya membayar tiket stasiun 1 ke 2 dan 9 ke 10 yang pastinya lebih murah dibanding tiket dari stasiun 1 ke 10. Dari sini paham ya? Kalau bingung, nggak usah terlalu dipikirin. Intinya hal tersebut nggak benar dan dibenarkan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Nembak Shinkansen<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau memang benar hal tersebut dilakukan tiket <a href=\"https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Shinkansen\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Shinkansen,<\/a> itu sungguh mengerikan. Stasiun Shinkansen berbeda dengan stasiun kereta biasa di mana penjagaannya cukup ketat (di stasiun besar). Tarifnya pun lebih mahal dibanding kereta biasa. Paling murah dan paling dekat saja sekitar 1400 yen (150 ribu rupiah). Jadi, kalau beneran \u201cnembak Shinkansen\u201d itu sangat luar biasa goblok dan nekatnya. Apalagi kalau beneran bergerombol 8 orang itu, sungguh-sungguh memalukan nama Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kok bisa nembak sih kalau ketat? Kan tiketnya pesan khusus dan harus melalui loket?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yap memang benar. Ada beberapa jenis Shinkansen, yakni ekonomi (setiap stasiun berhenti), semi express dan express yang berhenti hanya di stasiun besar saja. Ada yang tempat duduknya sudah ditentukan, dan ada yang duduknya bebas (bahkan berdiri kalau sedang penuh).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Biasanya, yang membeli tiket dengan stasiun terdekat adalah yang naik Shinkansen ekonomi dan jarang petugas mengecek tiket di dalam keretanya (karena kadang penuh). Jadi, ya bisa saja, beli tiket Jogja Purworejo tetapi turunnya di Jakarta. Nah, lho.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Keberanian yang nggak perlu dilakukan<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya fenomena \u201ckiseru jousha\u201d ini juga dilakukan oleh orang Jepang, tetapi hanya segelintir orang Jepang yang nggak taat aturan saja. Ancaman hukuman penjara tentu saja membuat orang Jepang pun nggak berani melakukannya. Lantas, kenapa diaspora Indonesia berani melakukannya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Konon kabarnya, hal tersebut sudah turun menurun diajarkan dari senior ke junior. Tak bisa dimungkiri juga, kebanyakan pelakunya adalah \u201cpekerja\u201d di Jepang. Ada yang sampai bangga dan memamerkannya di media sosial. Malah ada yang sambil senyum-senyum saat diseret petugas stasiunnya. Nyeleneh banget kan, kriminal kok bangga?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal mereka bisa saja dikeluarkan dari tempat kerjanya dan dideportasi dengan ancaman tak bisa kembali lagi ke Jepang. Duh, sulit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semenjak viralnya berita \u201cnembak Shinkansen\u201d ini tentu saja nama Indonesia bertambah \u201cramai\u201d lagi. Nama baik Indonesia juga dipertaruhkan. Sebagai pendatang, bukankah seharusnya mentaati aturan di negara yang didatangi? Terlebih ancaman penjara tak pandang bulu dari mana negaranya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang jelas, jangan terlalu berani dan merasa harus berani. Nggak ada yang bagus dari melanggar aturan. Bukankah itu yang seharusnya manusia pahami?<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Primasari N Dewi<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/shinkansen-kereta-cepat-nggak-cocok-untuk-wisatawan-kantong-pas-pasan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Shinkansen: Kereta Cepat yang Nyaman, tapi Nggak Cocok untuk Wisatawan Kantong Pas-pasan<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada kebiasaan buruk orang Indonesia di Jepang yang jujur aja bikin malu, yaitu nembak kereta.<\/p>\n","protected":false},"author":1543,"featured_media":172129,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13086],"tags":[1213,19347,1236,17478],"class_list":["post-218279","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-luar-negeri","tag-jepang","tag-nembak-kereta","tag-orang-indonesia","tag-shinkansen"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218279","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1543"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=218279"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218279\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/172129"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=218279"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=218279"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=218279"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}