{"id":218255,"date":"2023-05-26T12:37:21","date_gmt":"2023-05-26T05:37:21","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=218255"},"modified":"2023-05-26T12:37:21","modified_gmt":"2023-05-26T05:37:21","slug":"mengapa-perempuan-mengenakan-kebaya-sedangkan-laki-laki-hanya-kemeja-saat-wisuda","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mengapa-perempuan-mengenakan-kebaya-sedangkan-laki-laki-hanya-kemeja-saat-wisuda\/","title":{"rendered":"Mengapa Perempuan Harus Mengenakan Kebaya, Sedangkan Laki-laki Hanya Kemeja Saat Wisuda?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada sebuah pertanyaan yang sangat mengganggu saya, setelah melakoni wisuda sekurang-kurangnya dua kali. Kenapa kalau wisuda, perempuan memakai kebaya, sedangkan laki-lakinya menggunakan kemeja putih. Aneh nggak sih?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengapa perempuan ketika wisuda itu harus mengenakan kebaya, sedangkan laki-laki hanya mengenakan kemeja putih polos dengan bawahan hitam? Mengapa harus dibedakan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, ketika ospek, ketika awal-awal masuk kuliah, semua mahasiswa sama, semuanya menggunakan kemeja putih. Tapi kenapa ketika keluar kuliah, alias wisuda, perempuan harus menggunakan kebaya? Sedangkan laki-laki tetap kemeja putih? Kenapa itu terjadi?<\/span><\/p>\n<p><strong>Wisuda pakai kebaya itu ribet!<\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mohon maaf sebelumnya, saya selaku cowok, mungkin nggak mengalami langsung betapa riwehnya mengenakan kebaya. Namun, setidaknya saya mendengar langsung dari pacar maupun teman-teman perempuan saya yang semuanya mengeluh mengenakan kebaya ketika wisuda. Mulai dari ribet, betapa sempit ukurannya, jalannya nggak bisa bebas, belum lagi ditambah sepatu high heels tinggi dan make up yang begitu tebal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semua itu tentu nggak mengenakkan. Kalau kata Nawal el Saadawi, \u201cAku sangat menentang makeup, sepatu hak tinggi, dan semua yang kita sebut kecantikan.\u201d Mengapa Nawal mengatakan itu? Ya, kalau menurut Nawal, semua itu menyiksa perempuan, menyakiti perempuan, menyengsarakan perempuan hanya demi berpenampilan sebaik mungkin di ruang publik, khususnya kepada laki-laki.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan hanya persoalan keriwehannya saja. Tapi juga, persoalan biaya yang dikeluarkan. Bayangkan saja, hanya untuk mempersiapkan sebuah prosesi wisuda saja, yang mungkin hanya beberapa jam saja itu, seorang perempuan bisa merogoh kocek yang cukup dalam. Ratusan ribu hingga jutaan rupiah lenyap dalam sekali pakai. Itu pun hanya untuk sewa kebaya beserta perlengkapan yang menyertainya dan make up, belum yang lain-lainnya.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Laki-laki cukup pakai kemeja, kok enak?<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedangkan laki-laki yang melaksanakan wisuda itu bahkan hampir tidak mengeluarkan biaya apa pun untuk persiapan dirinya sendiri. Sebab, kemeja putih dan celana hitam sudah pasti punya sejak ospek. Meskipun beli, semuanya mentok ratusan ribu saja, nggak sampek jutaan. Dan, kebanyakan laki-laki nggak pernah dibebankan dengan make up sebagaimana perempuan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lag-lagi, mengapa harus dibedakan? Mengapa tidak disamakan saja, kalo sama-sama kemeja putih ya monggo, sama-sama kemeja putih bawahan hitam layaknya ospek dahulu. Sama halnya dengan wisuda di kampus-kampus luar negeri yang mana para lulusannya mengenakan pakaian formal pada umumnya, baik laki-laki maupun perempuan, tanpa ada unsur-unsur kebudayaan. Bahkan beberapa kampus luar negeri, lulusannya ada yang berpakaian casual ketika wisuda. Toh akan tertutupi oleh toga juga, jadi nggak perlu belibet.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Atau, opsi yang lain sama-sama bermodel kebudayaan, monggo juga dan nggak masalah, dan kita nggak harus berkiblat pada barat. Berarti laki-laki juga diharuskan mengenakan pakaian budaya, seperti <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Surjan\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">surjan,<\/a> blankon, atau apa pun itu yang mengangkat kebudayaan kita, yang tentu saja nggak harus jawa saja. Jadi, nggak hanya kemeja putih doang si wisudawannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa referensi yang saya baca, alasan mengapa perempuan harus mengenakan kebaya yakni karena untuk menjunjung, menghargai dan melestarikan kebudayaan Indonesia. Begitu pun yang dilakukan oleh para wisudawati Indonesia, khususnya mereka yang memiliki popularitas, artis, atau pamor yang lebih, yang sedang kuliah di luar negeri. Mereka perempuan Indonesia juga mengenakan kebaya ketika wisuda, meskipun perempuan di luar negeri lainnya nggak mengenakan pakaian tradisional. Sangat nasionalisme sepertinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, lagi-lagi pertanyaannya adalah mengapa hanya perempuan yang dibebankan untuk melestarikan kebudayaan Indonesia itu? Padahal, sebagaimana yang saya sebut sebelumnya bahwa pakaian tradisional itu nggak hanya dikenakan oleh perempuan saja. Memangnya pakaian tradisional laki-laki juga nggak perlu dilestarikan?<\/span><\/p>\n<h2><strong>Jawa, Jawa, Jawa!<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu masih dalam ranah problematika gender, belum lagi persoalan etika budaya. Mengapa hanya kebaya yang dijadikan standar pakaian yang harus digunakan ketika wisuda? Kok sangat-sangat Jawasentris ya? Kan Indonesia itu nggak hanya Jawa aja kan ya? Mengapa nggak menggunakan pakaian tradisional dari daerah lain di Indonesia, Kalimantan, Sumatra, Sulawesi, bahkan Papua. Mereka punya pakaian tradisional mereka masing-masing. Mengapa harus kebaya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan, anehnya lagi, berbagai problematika tentang penggunaan pakaian ketika wisuda ini, mulai ketidaksetaraan gender bahkan problem etika budaya ini, rasa-rasanya telah dinormalisasi begitu saja. Yaa, ibarat sesuatu yang biasa-biasa saja, nggak hanya dari birokrat dan pemangku kebijakan saja, bahkan wisudawan dan wisudawatinya yang katanya lulus kuliah itu juga merasa pasrah dan menjadikan sesuatu yang biasa, meskipun mereka berkeluh kesah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kalian malas baca panjang-panjang argumen di atas, sepertinya saya kasih rangkuman dalam satu kalimat saja sebagai penutup, yang sekiranya bisa bikin kalian overthinking\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenapa, wanita diminta ribet waktu wisuda, tapi laki-laki diberi beban yang amat ringan?<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Mohammad Maulana Iqbal<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-perbedaan-wisuda-di-jepang-dan-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">4 Perbedaan Wisuda di Jepang dan Indonesia<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kenapa kalau wisuda, wanita wajib pake kebaya, sedangkan pria cuman diminta pake kemeja? Bebannya kok beda?<\/p>\n","protected":false},"author":886,"featured_media":210914,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[762,10742,13131,19356,2312],"class_list":["post-218255","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-budaya","tag-jawasentris","tag-kebaya","tag-kemeja","tag-wisuda"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218255","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/886"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=218255"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218255\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/210914"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=218255"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=218255"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=218255"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}