{"id":217827,"date":"2023-05-22T09:24:07","date_gmt":"2023-05-22T02:24:07","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=217827"},"modified":"2023-05-22T09:24:07","modified_gmt":"2023-05-22T02:24:07","slug":"pengalaman-jajan-kue-basah-di-jepang-kayak-nagita-slavina","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pengalaman-jajan-kue-basah-di-jepang-kayak-nagita-slavina\/","title":{"rendered":"Kayak Nagita Slavina, Ini Pengalaman Saya Jajan di Pasar Kue Basah di Jepang"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Budaya Jepang bukan hanya tentang Samurai dan Ninja. Jepang juga kaya dengan khasanah kuliner, khususnya kue basah yang rasanya manis. Jajan di sini, seperti Nagita Slavina jajan street food di Jepang rasanya memorable banget.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita Senju, sebuah wilayah post-Edo di pinggiran utara Tokyo. Sebuah kota dengan banyak taman, gedung tua, pusat perbelanjaan, dan festival yang meluncurkan 13.000 kembang api dalam waktu satu jam di pertengahan musim panas. Stasiun Kita-Senju merupakan salah satu stasiun terpenting yang menghubungkan kota-kota dari prefecture lain ke jantung kota <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/7-perbedaan-becak-tokyo-dan-becak-malioboro\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Tokyo<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Siapa tahu Nagita Slavina pengin jajan di Jepang lagi, saya sarankan ke sini. Kalau dari stasiun, terdapat deretan toko-toko yang berjajar sepanjang jalan utama. Salah satunya toko tua penjual jajanan tradisional Jepang yang biasa saya singgahi. Biasanya saya membeli jajanan tradisional sebagai buah tangan ketika sowan ke rumah keluarga besar. Atau sekedar membeli kudapan sebagai teman minum teh atau kopi di sore hari kayak Nagita Slavina.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ternyata ada beberapa jenis jajanan kue basah di Jepang yang mirip dengan jajanan pasar Indonesia, ini dia diantaranya:<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Sakura mochi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa daerah di Indonesia menjadikan ketan sebagai salah satu pilihan menu sarapan pagi. Beras ketan yang dikukus memang cukup mengenyangkan. Biasanya, penganan ini disajikan dengan taburan kelapa sehingga terasa gurih. Kalau di Jepang ada mochi atau kue beras.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada beberapa jenis <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Moci\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kue mochi<\/a> di Jepang tergantung daerahnya. Mochi gaya Kansai terbuat dari beras ketan yang dikukus. Kalau gaya Kanto terbuat dari tepung beras yang dikukus. Nagita Slavina suka jajanan ini nggak ya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mochi diberi pemanis dan diberi pewarna. Kumbu kacang merah yang manis digulung di tengahnya, kemudian dibalut acar daun. Saat musim semi, banyak penduduk Jepang yang menikmati jajanan ini, terutama saat merayakan Hari Anak dan Pesta Melihat Bunga.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kue manis ini diberi warna merah muda yang merepresentasikan warna dari bunga sakura. Setelah itu dibalut dengan acar daun sakura yang menjadikan kekhasan dari kue sakura mochi ini.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Ichigo daifuku<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Indonesia dikenal namanya kue-ku. Ini merupakan kue tradisional peranakan, pengaruh dari budaya Cina yang terbuat dari tepung beras ketan. Warnanya merah dan berisi kumbu <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/rekomendasi-oleh-oleh-bakpia-jogja-selain-bakpia-pathok-25\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kacang hijau<\/a>, kelapa, atau gula merah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, kalau di Jepang ada daifuku, bedanya terbuat dari tepung beras. Kue ini juga diberi pewarna merah muda dan berisi kumbu kacang merah dan dibaluri gula bubuk. Yang manis-manis seperti ini kayaknya Nagita Slavina suka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepintas memang mirip mochi tetapi kalau diperhatikan secara seksama berbeda teknik membentuknya. Buah strawberry diletakkan di belahan tengahnya, sehingga kue ini juga disebut strawberry-mochi atau ichigo daifuku. Kue ini umumnya dinikmati saat akhir musim semi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kue basah ini adalah jenis kue basah yang saya sukai. Kombinasikan dengan buah dan acar daun, sensasi rasa manis sekaligus menyegarkan akan muncul. Nagita Slavina nggak mau mencoba favorit saya ini?<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Kushi dango<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dango, secara sepintas, bentuknya seperti biji salak atau bubur candil. Keduanya berbentuk bulat, berukuran kecil, dan berwarna cokelat karena dicampur dengan gula merah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara penyajian, biji salak dan bubur candil disajikan dengan topping sirup gula merah dan santan kental gurih. Umumnya, bubur candil disajikan bersamaan dengan bubur tepung beras. Kedua kudapan ini identik sebagai menu buka puasa di bulan Ramadan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu, dango berukuran lebih besar, terbuat dari campuran tepung beras dan tepung beras ketan yang juga berbentuk bulat dan berwarna putih. Rasanya cenderung tawar. Kalau yang seperti ini Nagita Slavina belum tentu suka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dango disajikan menggunakan kushi atau tusuk sate. Satu tusuk terdiri dari tiga sampai lima buah tergantung ukurannya. Setelah itu dibakar sambil dibaluri sirup gula merah. Kushi dango biasanya dinikmati untuk pelengkap minum <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/9-teh-kemasan-yang-dijual-di-indomaret-dengan-kandungan-gula-terendah-hingga-tertinggi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">teh hijau<\/a>.<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Kuzu mochi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Konon kabarnya, kue mochi di Indonesia adalah pengaruh dari budaya Jepang yang dibawa saat Perang Dunia II. Tentara Jepang membawa mochi sebagai bekal perang karena mudah dibuat, bentuknya yang simpel, dan mengenyangkan. Selepas perang, kue mochi tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Saat ini tercipta beragam varian yang disesuaikan dengan selera pasar di daerah tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Pontianak sendiri ada kue kaloci, yaitu kue beras yang dipotong berbentuk kotak-kotak dan ditaburi dengan bubuk kacang tanah sangrai. Di Jepang, sebagai negara asal mochi, ada kue kuzu mochi yang berbeda dengan mochi pada umumnya yang terbuat dari beras ketan atau tepung beras. Nagita Slavina pernah mencicipi kue kaloci?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada dua macam kue ini. Pertama kuzu mochi (\u845b\u9905) yang terbuat dari tepung pati akar pohon Kuzu dari Genus Pueraria. Kedua, kuzu mochi (\u304f\u305a\u9905) yang terbuat dari tepung pati gandum yang difermentasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun penyebutannya sama, tetapi berbeda dari segi bahannya. Tergantung bahannya, ada yang setelah dimasak, menjadi agar-agar, kemudian didinginkan dalam cetakan, baru dipotong kotak-kotak, disajikan bersama bubuk kacang kedelai sangrai dan sirup gula merah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada yang setelah dimasak, menjadi seperti lem, diambil sedikit demi sedikit, langsung diaduk-aduk ke dalam bubuk kacang kedelai sangrai sampai tertutup semua bagiannya dan tidak lengket satu sama lain. Setelah itu baru disajikan bersama sirup gula merah. Bagi lidah saya, kue basah ketiga dan keempat agak kemanisan karena ada tambahan sirup gula merah yang kental.<\/span><\/p>\n<h2><b>#5 Imo youkan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Boleh dibilang imo youkan adalah getuk ubi versi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/hal-yang-harus-kamu-lakukan-ketika-menemukan-barang-di-jepang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jepang<\/a>, walaupun secara tampilan lebih mirip kue talam. Terbuat dari ubi jalar yang dihaluskan dan gula pasir, kemudian dipadatkan dan dipotong membentuk persegi panjang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kue basah ini biasanya disajikan tanpa pewarna. Jadi berwarna kekuningan seperti warna aslinya, tapi ada juga yang diberi pewarna kehijauan. Kue ini hanya bisa bertahan sampai semingguan dan biasanya dinikmati saat musim gugur. Maklum, pada musim ini banyak panen umbi-umbian. Kue ini rasanya pas tidak terlalu manis dan kue ini favorit kami sekeluarga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, kalau Nagita Slavina sendiri, suka dengan jajanan pasar ala Jepang yang mana, ya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Nurjanah<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tersiksa-dari-bali-ke-jepang-bersama-maskapai-lcc-terbaik-di-dunia-bernama-airasia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Tersiksa dari Bali ke Jepang Bersama Maskapai LCC Terbaik di Dunia Bernama AirAsia<\/a><\/strong><\/p>\n<p><em style=\"font-family: -apple-system, BlinkMacSystemFont, 'segoe ui', Roboto, Oxygen-Sans, Ubuntu, Cantarell, 'helvetica neue', sans-serif;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">cara\u00a0ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><strong><br \/>\n<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jajan di sini, seperti Nagita Slavina jajan kue basah di Jepang rasanya memorable banget. Inilah pengalaman saya tinggal di Jepang.<\/p>\n","protected":false},"author":2197,"featured_media":217876,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[19298,1213,14157,19299,19297,8672],"class_list":["post-217827","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-jajanan-jepang","tag-jepang","tag-kue-basah","tag-kue-jepang","tag-nagita","tag-nagita-slavina"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/217827","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2197"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=217827"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/217827\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/217876"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=217827"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=217827"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=217827"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}