{"id":21776,"date":"2019-11-30T14:49:32","date_gmt":"2019-11-30T07:49:32","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=21776"},"modified":"2021-10-07T16:26:32","modified_gmt":"2021-10-07T09:26:32","slug":"nggak-usahlah-ndakik-ndakik-bicarain-romantisasi-jogja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nggak-usahlah-ndakik-ndakik-bicarain-romantisasi-jogja\/","title":{"rendered":"Nggak Usahlah Ndakik-Ndakik Bicarain Romantisasi Jogja"},"content":{"rendered":"<p><em>Jogja adalah kenangan, angkringan, dan rindu yang tidak kunjung ada obatnya.<\/em> <em>Kamu harus ke sini denganku melewati syahdu jalanan Malioboro, menaiki andong sembari mendengarkan suara sepatu kuda yang berlomba. Kasih, sorenya kita akan lewati senja di Parangtritis kemudian malam harinya mari kita menyeduh Kopi Jos di Pak Tomi. Saat kita sudah mulai lelah segeralah tidur di atas tanah Yogyakarata.<\/em><\/p>\n<p>Halahmbel. Akutu sampai hapal banget kalau ada temanku yang dari luar kota terus liburan ke Jogja, seakan seluruh syair Nizar Qabbani kalah dengan kalimat yang dia tulis. Dimulai dari story WA, Instagram, sampai ngetwit pun harus bernapaskan Jogja. Ya tidak ada salahnya sih meromantisasi Jogja sampai segitunya.<\/p>\n<p>Tapi, apa kamu pernah merasakan saat bangun tidur, melek sambil <em>kriyep-kriyep<\/em> kemudian melamun dan berkata, \u201cHadeeeeh skripsi, hadeeeeeeh duit di dompet kosong, hadeeeeeh pengen ngopi tapi warkop tutup.\u201d Duh, hanya sebagian orang yang merasakan kengerian tersebut.<\/p>\n<p>Akutu juga pernah merasakan saat pertama kali memutuskan tinggal di Jogja, rasanya \u201cwah aku banget nih\u201d. Pada saat itu masih awalan menjadi mahasiswa jadinya ya tiap hari masih seneng-seneng, ngopi di Jogja bagian selatan, utara, timur atau barat gaskeeeuuun. Apalagi dulu masih suka naik Trans Jogja yaudah jadi tiap hari \u201cgaskeun ayo ke mana\u201d. Tapi semuanya berubah setelah bertahun-tahun tinggal di sini. Pernah merasakan saat bangun tidur tidak mengucapkan doa tapi malah berkata \u201chadeeeh skripsi\u201d. Kemudian siangnya di kampus sendirian seraya berkata, \u201cHadeeeeh teman-teman sudah pada sidang\u201d. Romantisasi romantisasi romantis apanyaaaaa woy! [emot nangis].<\/p>\n<p>Suatu ketika ada teman yang liburan di Jogja, otomatis dia hubungin aku minta tolong ditemenin. Yaudah aku mau saja toh sudah lama kami nggak ketemu. Lagipula dia cewek yang dulu pernah aku kejar tapi terhalang oleh \u201cagama kalian tuh beda\u201d hehehe. Siang menjelang sore dia baru sampai Lempuyangan, dia melambaikan tangan dari kejauhan kemudian aku balas lambaiannya.<\/p>\n<p>\u201cIyeks udah sih, nggak usah kayak telenovela,\u201d kataku dalam hati.<\/p>\n<p>Setelah berbasa-basi ria akhirnya dia minta diantarkan ke Malioboro. Hadeeeeh itu merupakan tempat di mana aku setiap hari melewatinya dan sesekali kejebak macet di 0 KM. Sebelum ke Jogja, dia sudah menyiapkan banyak sekali obrolan tentang kota Malang yang membuatnya jenuh. Aku bertanya kenapa, lalu dia berkata, \u201cSetiap hari aku bangun, mandi, makan, terus tidur selalu ada di sana. Jadi aku ingin sesekali kangen Malang dengan cara meninggalkannya sebentar.\u201d<\/p>\n<p>\u201cHalahmbel,\u201d kataku dalam hati.<\/p>\n<p>Sore menjelang malam, Malioboro mulai sesak dengan wisatawan lokal maupun luar negeri. Sejak awal tinggal di Jogja aku belum pernah berfoto di plang jalan Malioboro atau berpose di depan Tugu Jogja, kemudian hasil fotonya ditaruh di medsos dengan <em>caption<\/em> yang romantis. Bingung saja kalau aku melihat orang melakukan itu.<\/p>\n<p>\u201cEh besok kita jalan-jalan ke Parangtritis, Mangunan, dan tempat hits lainnya, ya. Belum dikatakan ke Jogja kalau belum ke Parangtritis,\u201d katanya. Aku cuma mesem manis karena merasa gemas. Tidaklah, kalau kamu sudah ada di Jogja berarti kamu sudah di Jogja. Tidak ada pengakuan khusus seperti harus ke Parangtritis atau jajan Bakpia baru dikatakan ke Jogja, bukan kekasih. Haduh romantisasi ini nggak bikin merasa romantis di depan cewek. Hadeeeeh skripsi.<\/p>\n<p>\u201cEmangnya harus gitu kita ke Parangtritis?\u201d tanyaku.<\/p>\n<p>\u201cIya, biar aku punya stok foto liburan di Jogja. Ini momen yang jarang aku dapetin, bisa liburan ke kota ini.\u201d<\/p>\n<p>Seketika itu aku berpikir kalau romantisasi sebuah kota apalagi sekelas Jogja merupakan hal yang wajar. Apalagi untuk orang-orang yang jarang datang ke kota tersebut, pastilah segala <em>uneg-uneg <\/em>akan muncul dalam bentuk apa pun termasuk romantisasi yang kadang bikin aku, &#8220;iyeks apa nih?&#8221;<\/p>\n<p>Kejadian romantisasi juga akan terjadi kepadaku secara otomatis jika suatu saat jalan-jalan atau liburan ke kota lain. Duh, apalagi Malang yang bikin aku kangen! [Hayolo romantisasi]. Soal romantisasi Jogja, ada banyak tempat yang romantis tanpa harus diungkapkan dengan kata-kata. Cobalah saat kamu liburan, jalan-jalanlah ke belakang Pasar Beringharjo, melewati jalanan kecil sambil sesekali melihat barang-barang antik yang dijual di sepanjang jalan. Atau saat maghrib tiba datanglah ke Pasar Sentir, kamu nantinya akan melihat sisi lain dari kota ini. Lanjut lagi ke Bukit Bintang, dari sana Jogja akan terlihat kecil dan terlihat seperti gugusan bintang yang terang dan dekat. Di sanalah bersemayam yang katamu adalah \u201ckenangan\u201d.<\/p>\n<p>Romantisasi Jogja bukan hanya lagu dari <a href=\"https:\/\/tirto.id\/q\/kla-project-V2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">KLA Project<\/a> yang berjudul Yogyakarta, yang mana setiap kamu dengarkan maka kenanganmu soalnya akan muncul. Atau lagu Sayidan yang menggambarkan asiknya kehidupan malam di Jogja. Cobalah dengan cermat, saat kamu liburan dan tidur di Jogja, jika beruntung kamu akan mendengarkan Drum Band misterius yang kadang pentas di malam hari. Dengan segala mitos yang ada, di matamu ia tetap istimewa, meskipun kamu tahu kalau patah hati yang terjadi di sini, maka dukanya abadi.<\/p>\n<p>Benar juga ya kalau kita pergi dengan seseorang yang kita sayangi, maka segala bentuk keangkuhan akan memudar begitu saja dari diri kita. Buktinya aku yang tadi ingin menulis tentang ketidaksetujuanku tentang romanticizing Jogja tiba-tiba secara otomatis meromantisasi kota ini karena hanya membawa satu nama ke dalam tulisan ini. Udahlah, romantisasi <em>karepmu, ora yo karepmu, aku looooooosss<\/em>. Tapi esok harinya saat aku bangun tidur di kota ini, tetap saja, \u201cHadeeeeeh, <em>bla bla bla<\/em>,\u201d akan terucap.<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <\/strong><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/benarkah-jogja-berhati-mantan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Benarkah Jogja Berhati Mantan?<\/a> atau tulisan Imam Rosyadi Araiyyi\u00a0lainnya.<\/p>\n<h5><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya pikir kalau romantisasi sebuah kota apalagi sekelas Jogja merupakan hal yang wajar. Apalagi untuk mereka yang jarang datang ke kota tersebut.<\/p>\n","protected":false},"author":464,"featured_media":21780,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[115,4683,3224],"class_list":["post-21776","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jogja","tag-romantisasi","tag-wisata"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21776","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/464"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=21776"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21776\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/21780"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=21776"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=21776"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=21776"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}