{"id":217686,"date":"2023-05-20T14:30:11","date_gmt":"2023-05-20T07:30:11","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=217686"},"modified":"2023-05-20T13:56:24","modified_gmt":"2023-05-20T06:56:24","slug":"benarkah-orang-miskin-lebih-rentan-mengalami-obesitas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/benarkah-orang-miskin-lebih-rentan-mengalami-obesitas\/","title":{"rendered":"Benarkah Orang Miskin Lebih Rentan Mengalami Obesitas?"},"content":{"rendered":"<p><em>Katanya, orang miskin justru rentan terkena obesitas. Lho, kok bisa?<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa waktu silam, sebuah video menarik viral di platform TikTok. Video yang diunggah oleh akun @todochidotv pada 21 Januari lalu itu berisikan 3 muda-mudi yang sedang membahas hubungan antara fatphobia dan klasisme. Mereka mengatakan bahwa masalah kegemukan berkaitan dengan isu kemiskinan dan kelas sosial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka berargumen bahwa jika seseorang memiliki uang pas-pasan, jauh lebih mudah baginya untuk kelebihan berat badan. Membeli kebutuhan bahan makanan segar jauh lebih mahal dibanding makanan cepat saji. Selain itu, mempunyai waktu untuk berolahraga juga merupakan privilese yang dimiliki masyarakat kelas atas. Untuk bertahan hidup, masyarakat berpenghasilan rendah menghabiskan waktu mereka dengan bekerja. Belum lagi dengan shift yang panjang atau lembur. Jadi, mereka tidak punya waktu untuk berolahraga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kolom komentar unggahan tersebut pun dipenuhi dengan komentar yang juga menyetujui alasan tersebut. Jadi, apa benar kemiskinan dan kegemukan saling berhubungan? Mari kita bahas dalam tulisan ini.<\/span><\/p>\n<h2><b>Makanan sehat itu mahal, tak mengagetkan jika obesitas marak<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jurnal <\/span><a href=\"https:\/\/www.aaem.pl\/Issue-3-2014,2538\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Annals of Agricultural and Environmental Medicine 2014<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> memuat penelitian yang menyatakan obesitas berhubungan dengan rendahnya akses terhadap makanan segar di daerah miskin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak tersedianya makanan sehat bagi masyarakat miskin merupakan penyebab utama meningkatnya obesitas di antara mereka. Masyarakat miskin sering membeli makanan murah yang diolah berkali-kali atau makanan \u201ckalori kosong\u201d. Pola makan yang tidak teratur juga menyebabkan tubuh tidak dapat memprediksi apakah makanan berikutnya akan tersedia atau tidak. Oleh karena itu, energi dalam bentuk lemak pun terkumpul.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Obesitas sendiri lebih sering terjadi di kalangan masyarakat miskin perkotaan karena pola makan penduduk desa lebih sehat. Hal ini dikarenakan masyarakat miskin perkotaan mengonsumsi banyak makanan olahan murah yang tinggi kalori, tetapi rendah gizi.<\/span><\/p>\n<h2><strong>K<\/strong><b>urangnya aktivitas fisik<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh James A. Levine dari Mayo Clinic, Minnesota, Amerika Serikat, masyarakat kelas bawah cenderung kurang beraktivitas fisik. Salah satu alasannya adalah tingkat kriminalitas yang juga diakibatkan oleh kemiskinan mencegah mereka untuk aktif di luar rumah. Demikian pula, fasilitas taman dan olahraga kurang tersedia untuk orang yang tinggal di daerah miskin. Masyarakat miskin yang tinggal di daerah padat pun tidak bisa menjangkau biaya keanggotaan gim, pakaian olahraga, atau peralatan olahraga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penelitian oleh Linda Pagani dan Celine Huot dari Universitas Montreal, Kanada pun menyebutkan bahwa pola hidup masyarakat telah berubah ke arah praktik sosial dan pekerjaan yang lebih menetap. Orang-orang lebih banyak bekerja, kurang tidur, memiliki sedikit waktu senggang, dan lebih suka berkendara jarak pendek demi menghemat waktu.<\/span><\/p>\n<h2><b>Tingkat stres yang tinggi menyebabkan obesitas<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa penelitian menunjukkan bahwa stres dan peningkatan hormon stres yakni glukokortikoid dan kortisol berperan dalam obesitas. Kemiskinan yang dialami seseorang dapat menyebabkan stres yang tinggi dan respons fisiologis utama, seperti tekanan darah tinggi dan kadar kortisol tinggi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang dengan pendapatan rendah dan minoritas mengalami tingkat stres yang lebih tinggi dan dapat menyebabkan masalah yang signifikan dalam kesehatan mental dan fisik.<\/span><\/p>\n<h2><b>Pendidikan yang rendah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masyarakat miskin memiliki akses yang buruk terhadap pendidikan. Menurut beberapa penelitian, hal ini menyebabkan kurangnya pemahaman dan pengetahuan mengenai kesehatan sehingga kesadaran untuk menjalani gaya hidup dan pola makan yang sehat pun rendah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah beberapa alasan kenapa masyarakat miskin urban cenderung berpotensi mengalami kegemukan. Segelintir orang berpikir bahwa kegemukan diakibatkan oleh keberadaan privilese sehingga seseorang bisa mengonsumsi makanan dalam jumlah yang lebih banyak. Namun ternyata tidak selalu seperti itu, malah justru bisa sebaliknya. Ketimpangan sosial dan ketidakmampuan masyarakat miskin urban dalam mengakses makanan serta gaya hidup sehat pun bisa menjadi faktor yang memengaruhi.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Sabrina Fauziah Oktavianti<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/penjaskes\/kenapa-tingkat-obesitas-di-jepang-rendah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kenapa Tingkat Obesitas di Jepang Rendah, Tak Seperti di Amerika?<\/a><\/strong><\/p>\n<h5><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">cara\u00a0ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Katanya, orang miskin justru rentan terkena obesitas. Lho, kok bisa?<\/p>\n","protected":false},"author":2220,"featured_media":217691,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13641],"tags":[790,3527,429],"class_list":["post-217686","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kesehatan","tag-kemiskinan","tag-obesitas","tag-orang-miskin"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/217686","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2220"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=217686"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/217686\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/217691"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=217686"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=217686"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=217686"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}