{"id":21645,"date":"2019-11-28T12:55:45","date_gmt":"2019-11-28T05:55:45","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=21645"},"modified":"2019-11-29T09:59:18","modified_gmt":"2019-11-29T02:59:18","slug":"dear-konten-kreator-tolong-jangan-buat-prank-amoral-lagi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dear-konten-kreator-tolong-jangan-buat-prank-amoral-lagi\/","title":{"rendered":"Dear Konten Kreator, Tolong Jangan Buat Prank Amoral Lagi!"},"content":{"rendered":"<p>Tagar #saynotoprank menjadi trending karena kelakuan gila seorang konten kreator yang melakukan prank terhadap ojek online. Tidak tanggung-tanggung, konten kreator tersebut memesan pizza seharga 1 juta dan tiba-tiba <em>cancel<\/em>. Sudah ditebak alurnya, setelah membiarkan bapak ojek online itu sedemikian tersiksa dan menderita, ia datang bak pahlawan memberikan \u201csegepok uang\u201d. Helloo, lu pikir uang segitu bisa otomatis menghapus luka batin si bapak ojol tadi?<\/p>\n<p>Heran, dewasa ini kok semakin banyak ya orang-orang senang melihat penderitaan orang lain? Kok makin lama, makin banyak ya orang yang \u201ckebelet jadi hero\u201d? Dia pikir dengan skenario dia datang memberi uang setelah melakukan \u201cpenyiksaan batin\u201d kepada korban <em>prank,<\/em> ia lantas dianggap sebagai orang yang dermawan? Bukan begitu, Ferguso!<\/p>\n<p>Sebenarnya ada begitu banyak <em>prank<\/em> yang tidak masuk akal yang berseliweran di media sosial.<em> Prank<\/em> hancurin kosmetik pacar, <em>prank<\/em> dikejar orang gila, <em>prank<\/em> homo, <em>prank<\/em> hey Tayo,<em> prank<\/em> mandi di lampu merah, <em>prank<\/em> hantu, dan <em>prank-prank<\/em> lainnya. Memang tujuan awalnya untuk lucu-lucuan. Tapi pada akhirnya <em>prank<\/em> ini digunakan untuk menambah popularitas dan pundi-pundi uang.<\/p>\n<p>Tapi, apakah lucu-lucuan harus begitu? Apakah demi kata \u201clucu\u201d dan \u201cmenghibur\u201d kita rela menjual \u201cketersiksaan\u201d orang lain akibat <em>prank<\/em> yang dibuat. Misal, ada <em>prank<\/em> dikejar orang gila sampai tercebur ke sawah. Lalu kru <em>prank<\/em> dengan bahagianya menadatangi korban dan berteriak \u201cprank!\u201d Lalu semua orang tampak tertawa puas. Mbok yo mikir, kalau ternyata korban <em>prank<\/em> tadi sudah janjian ketemu dengan pacar, terpaksa ia batalkan karena keadaannya begitu. Pun, itu termasuk pelecehan orang gila. Tidak semua orang gila begitu. Yang ada malah jadi generalisasi kalau semua orang gila suka mengganggu orang. Pernah nggak sih mikir begitu kalian yang hobi bikin konten <em>prank<\/em>?<\/p>\n<p>Bagi Anda yang melakukan <em>prank<\/em> dengan tujuan menambah \u201cadsense\u201d tapi dengan menampilkan penderitaan orang lain, Anda kejam dan sangat keterlaluan. <em>I see human, but no humanity.<\/em> Anda turut melanggengkan rantai setan, artinya akan ada orang yang mengikuti langkah Anda bertidak demikian. Selamat, Anda turut menyumbang dehumanisasi pada pengikut Anda.<\/p>\n<p>Harusnya fokus tagar \u201csay no to prank\u201d bukan hanya pada ojol saja. Tapi kepada semua prank yang meresahkan masyarakat. Sudah tahu kalau \u201chantu\u201d adalah sesuatu yang ditakuti, masih nekat bikin <em>prank<\/em>. Di jalan raya pula. Kalau korban <em>prank<\/em> sampai terjatuh saat berkendara lalu tulangnya patah, apa sampeyan mau menanggung biaya rumah sakit, <em>recovery,<\/em> dan biaya hidup selama proses penyembuhan? Belum lagi kalau korban <em>prank<\/em> lebih pintar, Anda yang nge-<em>prank<\/em> jadi hantu tiba-tiba menyeberang jalan, bisa habis ditabrak korban. Anda juga yang merugi kan?<\/p>\n<p>Saya tidak kontra terhadap <em>prank<\/em>, kadang saya juga senang bercampur kesal kalau dikerjai pas ulang tahun. Namun, dalam kapasitas sewajarnya dan pada konteks yang sesuai. Tidak sampai diikat di pohon lalu dilempar telur dan diguyur air satu drum. Kalau itu bukan <em>prank<\/em>, itu <em>bullying<\/em> dan penyiksaan. Kalau atas nama <em>prank<\/em> tapi ujung-ujungnya menyakiti hati, untuk apa? Kalau atas nama <em>prank<\/em> tapi merugikan, untuk apa?<\/p>\n<p>Saya jadi teringat novel <em>Fantasteen Ghost Dormitory in Cairo<\/em> karya Marsella Azuela, bercerita tentang 5 orang yang bersahabat melakukan <em>prank<\/em> \u201cmenjauhi\u201d salah satu sahabatnya bernama Neferti. Tujuannya baik, agar Neferti \u00a0sadar akan keegoisannya dan berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Tapi, bukannya sadar, Neferti justru makin bringas. Ia bahkan menjual jiwanya kepada iblis bernama Rhea. Ia memutar waktu agar teman-temannya menderita dan mengacaukan dunia. Orang-orang yang harusnya tidak mati, terjebak dalam lingkaran <em>loop.<\/em> Tentu kisah ini berakhir tragis dengan kematian sahabat dan penyesalan tokoh utama.<\/p>\n<p><em>Dear<\/em> konten kreator, mohon lebih bijak ketika ingin membuat konten. Tolong lihat dari sudut pandang siapa pun yang terlibat dalam konten Anda. Tolong gunakan Pancasila sila ke-2 sebagai landasan membuat konten, yakni \u201ckemanusiaan yang adil dan beradab\u201d. Manusia harus diakui dan diperlakukan sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang sama derajatnya, hak, dan kewajibannya.<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <\/strong><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/stop-bikin-konten-prank-ojol\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Stop, Bikin Konten Prank Ojol!<\/a> atau tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/winda-ariani\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Winda Ariani<\/a>\u00a0lainnya.<\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dear konten kreator, mohon lebih bijak ketika ingin membuat konten. Tolong lihat dari sudut pandang siapa pun yang terlibat dalam konten Anda.<\/p>\n","protected":false},"author":386,"featured_media":21661,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[4662,1610,1965,514],"class_list":["post-21645","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-featured","tag-konten-kreator","tag-ojek-online","tag-prank","tag-youtuber"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21645","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/386"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=21645"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21645\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/21661"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=21645"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=21645"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=21645"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}