{"id":216156,"date":"2023-05-05T14:34:43","date_gmt":"2023-05-05T07:34:43","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=216156"},"modified":"2023-05-05T14:34:43","modified_gmt":"2023-05-05T07:34:43","slug":"sisi-gelap-kampus-menciptakan-joki-pencetak-sarjana","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sisi-gelap-kampus-menciptakan-joki-pencetak-sarjana\/","title":{"rendered":"Sisi Gelap Kampus: Menciptakan Joki Pencetak Sarjana"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalian pasti protes tentang pendapat saya ini. Tapi joki bisa jadi bukti kesuksesan sistem pembelajaran di kampus. Nggak percaya? sudah kuduga, karena anda lebih percaya mitos standardisasi ala kampus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah banyak orang-orang yang menuliskan tentang kebobrokan sistem pendidikan kita. Banyak pula yang menawarkan gagasan reformasi pendidikan. Rujukan yang diambil mulai dari pemikiran Paulo Freire seorang tokoh pendidikan dari Brazil, dengan bukunya yang terkenal itu, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pendidikan Kaum Tertindas<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Atau juga biasanya merujuk pada pemikiran Ivan Illich, seorang filsuf Austria yang tertarik pada isu-isu pendidikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apa? Kalian nggak kenal siapa mereka? Nggak apa-apa, nggak semuanya harus kalian ngerti. Nggak ngerti apa-apa juga nggak apa-apa kok, buebas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi dari sekian banyak uneg-uneg orang tentang pendidikan kita, kok seolah-olah nggak ada benarnya sama sekali sistem pendidikan kita ini. Padahal lho ya, ada suksesnya sistem pendidikan kita yaitu lahirnya joki. Hal ini jarang disorot. Kalaupun disorot, pasti lagi-lagi mengatakan \u201cya itu juga salah satu kebobrokannya. Ya salam, orang-orang kenapa sih?<\/span><\/p>\n<h2><strong>Kampus menciptakan lapangan pekerjaan, joki lah maksudnya<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gini lho, setidaknya dengan begitu kampus sudah membantu membuka lapangan pekerjaan. Memberikan satu solusi, untuk orang-orang dengan kreativitas tinggi mendapatkan penghasilan tambahan. Eh, penghasilan utama kadang. Soalnya, tak jarang joki ini menjadi sebuah profesi, karena penghasilannya begitu menggiurkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makanya, dari sisi ini saya tetap mendukung standardisasi \u201csuksesnya mahasiswa\u201d ala kampus. Standardisasi yang sebenarnya masih sangat bisa diperdebatkan. Misalnya, tugas bikin makalah, tugas bikin karya tulis, tugas bikin resensi, dan tugas untuk membuat skripsi. Itu semua standardisasi yang dilakukan dengan dalih, bahwa kalau melakukan itu maka anda sebagai mahasiswa sudah bla bla bla bla. Mitos.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya katakan mitos, karena ya seharusnya mahasiswa <\/span><b>bisa <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">membuat karya tulis dan tetek bengeknya itu. Seharusnya lho ya. Tapi, jangan kemudian dibarengi narasi basi bahwa seolah-olah satu-satunya jalan untuk menjadi orang pintar, menjadi orang hebat, harus mengerjakan tugas yang tadi itu. Pola ini kemudian bertransformasi menjadi patokan, sampai-sampai parameter utama kelulusan pendidikan tinggi adalah skripsi, kok bukan misalnya potensi akademik? atau keterampilan aplikatif mahasiswa?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saking bergengsinya parameter itu, ada lho yang rela bayar mahal untuk jahitke tugas-tugas yang digaungkan tadi. Tugas yang seolah-olah, satu-satunya jalan menuju kesuksesan. Ehem.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah\u2026 di sinilah otak-otak orang kreatif bekerja.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Kalau bisa mudah, kenapa harus ambil jalan susah?<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau bisa main game dari bangun sampai tidur lagi, judi online sampai lupa makan, dan kongkow-kongkow seperti raja-raja, kenapa harus susah payah ngerjain tugas dosen yang njelimet itu, untuk sekedar mencari gelar sarjana? Toh kiriman bulanan dari orang tua buanyak, alokasikan saja buat bayar para joki.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Main dapat, judi dapat, gelar pun diraih. Ibarat kalau bisa masuk tol, kenapa harus lewat kemacetan jalan ibu kota. Sungguh bodoh dan sia-sia. Begitu mungkin kira-kira, yang ada di benak sebagian teman kita, para calon sarjana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tengah gempuran lingkaran setan tersebut, orang-orang kreatif memainkan perannya. Menjadi sopir, yang siap mengantarkan penumpang pada tujuan mulia: sarjana. Yaa namanya sopir, asal bayarannya sesuai. Gas aja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya punya kawan, yang juga jadi joki mahasiswa. Menurut dia, ada joki yang hanya lulusan SMA, tapi jasanya kerap dipakai oleh mahasiswa. Bukan maksud mengerdilkan lulusan SMA, tapi ya, tolonglah, ini sudah gila.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saking menggurita dan larisnya joki-joki ini, tak jarang tanpa sedikit keraguan pun mereka menawarkan jasanya lewat sosial media. Mereka tak lagi malu-malu untuk menunjukkan eksistensi mereka pada dunia luar.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Kampus sukses menjalankan fungsinya<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemudian ada satu hal yang saya pikirkan, kampus sukses menjalankan fungsinya. Sukses mendidik siapa saja untuk menjadi pintar, sekaligus menghasilkan cuan di saat bersamaan. Tak tanggung-tanggung cuannya. Jangankan gaji guru-guru honorer, <a href=\"https:\/\/databoks.katadata.co.id\/datapublish\/2023\/01\/31\/daftar-umk-di-yogyakarta-tahun-2023-ini-wilayah-terbesar#:~:text=Kota%20Yogyakarta%20menjadi%20daerah%20dengan,berlaku%20mulai%201%20Januari%202023.&amp;text=Naik%207%2C93%25%20dari%20UMK,2022%20sebesar%20Rp%202.153.970.\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">UMR Jogja<\/a> saja ditertawakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi sebenarnya, pada kondisi demikian kampus memperlihatkan wajah ganda. Satu sisi, menggaungkan narasi mulia perihal ketekunan melalui tugas-tugas yang diberikan. Di sisi lainnya, ia mematok kepintaran lewat bukti-bukti yang sebenarnya debatable, yang akhirnya bikin profesi joki muncul.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Artinya apa bang Messi? untuk menjadi orang hebat dengan standardisasi yang digaungkan kampus, nggak perlu kuliah. Lagian kalau cuma selembar ijazah, tanpa dibarengi potensi akademik dan keterampilan aplikatif, ya sama saja menciptakan kere anyar.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Joki jadi pintar, yang malas tetap punya gelar<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekali lagi, kampus begitu sukses. Langgengkan saja relasi yang demikian ini. Joki jadi pintar, yang malas tetap punya gelar. Win-win solution kan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Andai saja tidak terjadi hal-hal demikian, sudah dipastikan teman saya yang pernah menjajaki profesi ini tidak akan pernah menyandang gelar sarjana. Usut punya usut, dari profesi itulah ia membiayai studinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pernah sekali iseng saya tanya, ada nggak benturan nurani di hati kecilnya saat melakoni profesi demikian? Jawabnya ada. Tapi yaa gimana, profesi ini juga bentukan dari sistem kampus yang terjebak pada mitos-mitos basi tadi. Bagi saya itu bukanlah pembenaran, melainkan tamparan dalam dunia pendidikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Andai suatu saat nanti ada gembar-gembor reformasi pendidikan, tapi kampus-kampus dan dunia pendidikan pada umumnya masih gitu-gitu aja sistemnya, percaya sama saya, nggak akan ada bedanya. Wis to.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Faiz Al Ghiffary<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pengalaman-saya-menjadi-joki-skripsi-yang-penghasilannya-nggak-main-main\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pengalaman Saya Menjadi Joki Skripsi yang Penghasilannya Nggak Main-main<\/a><\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kampus mencetak joki, joki mencetak sarjana. <\/p>\n","protected":false},"author":2167,"featured_media":86134,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[15968,921,2064],"class_list":["post-216156","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-joki","tag-kampus","tag-sarjana"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/216156","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2167"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=216156"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/216156\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/86134"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=216156"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=216156"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=216156"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}