{"id":21440,"date":"2019-11-26T13:20:28","date_gmt":"2019-11-26T06:20:28","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=21440"},"modified":"2019-11-26T13:28:26","modified_gmt":"2019-11-26T06:28:26","slug":"menelanjangi-aktivitas-menangis-dari-pakar-menangis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menelanjangi-aktivitas-menangis-dari-pakar-menangis\/","title":{"rendered":"Menelanjangi Aktivitas Menangis dari Pakar Menangis"},"content":{"rendered":"<p>Selagi kamu menyembunyikan air matamu diam-diam di kantor siang ini gara-gara patah hati atau bertengkar dengan keluarga, di sudut lain di planet ini ternyata ada peneliti dan terapis khusus yang secara spesifik membahas dan mempelajari aktivitas menangis. Kenapa ada orang yang bisa menangis dengan cepat, sementara ada yang susah betul melakukannya? Bagaimana kita bisa mengatasi air mata yang turun tiba-tiba, bahkan kalau terjadi di tempat yang sama sekali tidak tepat, misalnya di tengah-tengah rapat penting dengan klien?<\/p>\n<p>Menangis memang misterius. Kalau kamu baru saja mengusap air matamu atau hendak mengeluarkan air mata mendadak, silakan duduk dan habiskan tulisan ini bersama-sama.<\/p>\n<h4><strong>Menangis: Kenapa dan Buat Apa?<\/strong><\/h4>\n<p>Dilansir dari <a href=\"https:\/\/www.webmd.com\/balance\/features\/why-we-cry-the-truth-about-tearing-up\">WebMD<\/a>, pihak psikolog di University of California Los Angeles menyebutkan bahwa menangis adalah respons natural terhadap perasaan-perasaan tertentu, khususnya sedih dan sakit hati. Tapi, orang-orang juga sangat mungkin mengeluarkan tangis dalam keadaan selain itu.<\/p>\n<p>Bukan melulu sendu, kita (<em>hah kita???<\/em>) bisa saja menangis karena mengalami hal yang \u201ckelewat indah\u201d atau karena merasa <em>melting <\/em>alias meleleh. Waktu nonton <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Super_Show_4\">Super Show 4<\/a> tahun 2012, misalnya, saya nangis di barisan penonton gara-gara ngelihat Cho Kyuhyun dan seluruh member Super Junior pada ganteng-ganteng banget parah nggak ngerti lagi!!!!11!!!1!!!!<\/p>\n<p>Ehm. Maaf. Oke, fokus. Mari kembali ke bahasan.<\/p>\n<p>Kenapa seseorang bisa meleleh sampai menangis? Masih menurut pakar menangis dari California, ini disebabkan karena orang-orang ini, secara langsung, melepaskan \u201cpertahanan diri\u201d yang mereka miliki, lantas masuk ke dalam diri mereka sendiri.<\/p>\n<p>Aktivitas ini juga bisa terjadi dengan tujuan emosional, yaitu sebagai pelepasan perasaan. Perasaan yang dimaksud pun bermacam-macam: bisa karena frustasi, kelewat gembira, sedih, atau sekadar menginginkan perhatian orang lain. Iya, kamu nggak salah baca: menangis memang bisa jadi alat paling manipulatif yang kamu punya, baik itu bertujuan agar kakakmu mau minjemin kamu baju, atau biar laki-laki yang kamu suka mau jadian sama kamu walaupun kamu tahu kalau dia udah punya cewek, tapi kamu nggak peduli karena kamu memang seegois itu.<\/p>\n<p>Menangis, dalam bidang yang \u201clebih-sains\u201d, ternyata berkaitan dengan aktivitas biokimia. Proses mewek ini diyakini dapat melepas hormon stres dan racun dari dalam tubuh. Artinya, daripada repot-repot membahagiakan diri sampai ngabisin duit banyak-banyak atas nama <em><a href=\"https:\/\/mojok.co\/auk\/ulasan\/pojokan\/bentuk-self-love-itu-bukan-sekadar-makan-mahal-atau-belanja\/\">self-love<\/a> <\/em>dan <em>self-appreciation, <\/em>mending nangis berjamaah aja.<\/p>\n<h4><strong>Menangis: Siapa Pelakunya?<\/strong><\/h4>\n<p>Masih dari kalangan pakar menangis di UCLA, aktivitas ini disebut lebih sering dialami oleh wanita ketimbang para pria. Pada beberapa keadaan, laki-laki yang menangis masih sering kali dianggap lemah dan nggak macho.<\/p>\n<p>Teman saya, laki-laki, mengaku nggak pernah mengeluarkan tangis sejak bertahun-tahun yang lalu, sementara saya dikit-dikit nangis. Dia\u2014sebut saja namanya Supono\u2014kerap meminta tutorial menangis. Hampir saja saya jawab rahasianya cuma satu: merelakan diri dipermainkan orang yang paling disayangi sampai mampus, tapi saya nggak tega melihat Supono dijebak orang lain. Alhasil, saya cuma menjawab dengan sembarangan: \u201cKamu gangguin orang aja sampai <em>ditempeleng, <\/em>biar kamu nangis!\u201d<\/p>\n<p>Saya nggak tahu apakah Supono melakukan saran saya, tapi\u2014menurut pakar menangis di UCLA\u2014beberapa orang memang cenderung mengabaikan hal-hal tertentu yang sebenarnya dapat memprovokasi air mata mereka untuk turun ke pipi. Sebaliknya, mereka meyakini bahwa orang-orang dengan trauma bakal menangis lebih mudah, apalagi kalau masa lalu yang bermasalah masih kerap menghantui mereka.<\/p>\n<p>Ya, ya, ya, masa lalu yang traumatis memang mengerikan. Kadang-kadang saya berharap hidup ini serupa acara Uji Nyali: kalau nggak kuat, kita cuma perlu melambaikan tangan dan kita bakal diselamatkan dengan mudah.<\/p>\n<p>Sayangnya, hidup memang nggak sesepele itu.<\/p>\n<h4><strong>Menghadapi Orang yang Menangis, Menghadapi Keinginan Menangis<\/strong><\/h4>\n<p>Berada di dekat orang yang menangis bakal membuat kita sedikit merasa <em>awkward\u2014<\/em>akui saja. Secara tak langsung, tangisan orang ini menunjukkan sisi lemah mereka dan itulah yang membuat kita sedikit nggak nyaman.<\/p>\n<p>Tapi\u2014FYI nih\u2014orang-orang yang sedang mengeluarkan tangis kadang butuh ditemani, dan sebaiknya kamu melakukan satu hal penting: tunjukkan empatimu.<\/p>\n<p><em>No, no, <\/em>kamu nggak perlu langsung memeluk orang yang menangis kalau dia bukan orang yang dekat-dekat amat denganmu. Tapi, ketahuilah, orang yang menangis pun bisa jadi berada dalam situasi yang tak membuatnya nyaman. Satu-satunya hal yang ia butuhkan adalah dukungan empati untuk membuatnya merasa tetap dihargai.<\/p>\n<p>Sialnya, kadang-kadang, <em>kita-<\/em>lah orang-orang itu: orang yang tiba-tiba ingin menangis.<\/p>\n<p>Tempo hari, di Twitter, ramai beredar cara unik kalau mendadak kita nangis di kantor. Saya rasa, tips ini boleh juga dipakai, walaupun agak susah dilakukan kalau WiFi kantor lagi ngadat <span style=\"text-decoration: line-through;\">kayak hubunganmu sama dia<\/span>.<\/p>\n<blockquote class=\"twitter-tweet\" data-width=\"500\" data-dnt=\"true\">\n<p lang=\"in\" dir=\"ltr\">Tips aman menangis di tempat kerja<\/p>\n<p>&#8211; Buka YouTube, search iklan asuransi Thailand<br \/>&#8211; Kembali ke urusan yg membuat menangis<br \/>&#8211; Keluarkan air mata dgn bebas<br \/>&#8211; Ketahuan temen sekantor &quot;Hah lo nangis??&quot;<br \/>&#8211; Lo tunjukin layar &quot;Iya nontonin iklan sedih.&quot;<br \/>&#8211; Teman maklum<\/p>\n<p>Selamat mencoba!<\/p>\n<p>&mdash; ghina (@turdquoise_) <a href=\"https:\/\/twitter.com\/turdquoise_\/status\/1196312195518222337?ref_src=twsrc%5Etfw\">November 18, 2019<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><script async src=\"https:\/\/platform.twitter.com\/widgets.js\" charset=\"utf-8\"><\/script><\/p>\n<p>Menangis itu boleh dan wajar sekali kamu lakukan. Bahkan, menurut ahli psikiatri dari Inggris, Henry Maudsley, orang-orang yang menekan emosinya dan tak bisa mengeluarkan tangis sesungguhnya sedang \u201cmengacaukan\u201d kesehatan fisiknya sendiri. Seperti dikutip dari sang ahli:<em> \u201cThe sorrow which has no vent in tears may make other organs weep.\u201d<\/em><\/p>\n<p>Saya pernah menulis secara khusus soal 5 cara menahan tangis yang datang tiba-tiba, dan kamu bisa baca <a href=\"https:\/\/mojok.co\/apk\/rame\/list\/5-cara-menahan-tangis-yang-datang-tiba-tiba\/\">di sini<\/a>. Tapi perhatikan satu hal: kalau tangisanmu memang nggak bisa dibendung, coba lakukan beberapa hal di bawah ini.<\/p>\n<p><em>Pertama, <\/em>tahan sebentar, setidaknya sampai kerjaanmu beres separuh biar kamu tetap terlihat produktif\u2014walaupun sedikit.<\/p>\n<p><em>Kedua, <\/em>nonton video lucu. <em>Scroll <\/em>lini masa di media sosial. Setiap hari, selalu ada konten lucu dari orang-orang di luar sana dan kamu bisa mengandalkannya barang sebentar untuk membendung air mata.<\/p>\n<p><em>Ketiga, <\/em>cari tempat yang nyaman dan tepat untuk menangis. Tempo hari saya pergi ke parkiran kantor untuk menelepon seorang kawan dan menangis. Saya pikir itu tempat yang aman, tapi ternyata rekan kerja saya melihat dan saya abis di-<em>ceng-ceng-<\/em>in seharian.<\/p>\n<p>Jadi, yah, hati-hati, <em>Guys.<\/em><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menebak-6-karakter-seseorang-dilihat-dari-tempatnya-menangis\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Menebak 6 Karakter Seseorang Dilihat dari Tempatnya Menangi<\/a>s <b><\/b>atau tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/aprilia-kumala\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Aprilia Kumala<\/a>\u00a0lainnya.<\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bukan melulu sendu, kita (hah kita???) bisa saja menangis karena mengalami hal yang \u201ckelewat indah\u201d atau karena merasa melting alias meleleh.<\/p>\n","protected":false},"author":416,"featured_media":21447,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[4567,4636,4531],"class_list":["post-21440","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-menangis","tag-menangis-di-kantor","tag-sedih"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21440","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/416"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=21440"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21440\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/21447"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=21440"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=21440"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=21440"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}