{"id":214050,"date":"2023-04-24T10:31:23","date_gmt":"2023-04-24T03:31:23","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=214050"},"modified":"2023-04-24T10:31:23","modified_gmt":"2023-04-24T03:31:23","slug":"nasib-batik-pekalongan-di-ibc-yang-bikin-hati-pilu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nasib-batik-pekalongan-di-ibc-yang-bikin-hati-pilu\/","title":{"rendered":"Nasib Batik Pekalongan di IBC yang Bikin Hati Pilu"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti yang kita tahu, corak batik itu sangat beragam. Mulai dari Batik Banten (Simbut), Cirebon (Mega Mendung), <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alun-alun-kidul-surga-kuliner-di-yogyakarta\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Yogyakarta<\/a>, Magetan (Sedapur) hingga batik Pekalongan yang disebut Pesisiran.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, kalian bisa menemukan semua motif batik di atas di International Batik Center (IBC) Pekalongan. Pusat batik Pekalongan ini dibangun dengan tujuan mengintegrasikan para pegiat industri batik rumahan. Oleh sebab itu, banyak pegiat UMKM bisa memaksimalkan gerai yang ada di sana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pusat batik yang terletak di Jalan Ahmad Yani No. 573, Pegantungan, Pekuncen, Wiradesa Kabupaten Pekalongan ini bukan sekadar jejeran toko pakaian saja. Tempat ini juga memiliki pusat kuliner. Selain itu, IBC juga memiliki area parkir yang luas.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemerintah membangun IBC sebagai tujuan wisata, mampu menampung bus besar, supaya calon pembeli batik Pekalongan tetap nyaman berbelanja. Namun, ekspektasi tersebut mulai memudar semenjak <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nasib-jalan-braga-setelah-pandemi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pandemi<\/a> melanda.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak gerai batik Pekalongan yang mulai gulung tikar hingga hanya menyisakan sekitar sepertiga pedagang saja. Sepinya pengunjung menjadi faktor utama para pedagang menutup tokonya. Lantas, kira-kira kenapa pusat batik Pekalongan yang sudah dibangun mewah dengan anggaran yang tak sedikit ini sepi?<\/span><\/p>\n<h2><b>Pusat batik Pekalongan yang kini sepi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya menyempatkan diri berkunjung ke IBC saat Ramadan kemarin. Sepi adalah pemandangan yang saya temukan. Bisa dibilang sama sekali tidak ada pengunjung. Padahal, seharusnya, momen Ramadan mendekati Lebaran menjadi momen terbaik bagi pedagang batik Pekalongan meraup keuntungan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah karena harga batik Pekalongan di IBC terlalu mahal? Saya rasa tidak. Kalian bisa membeli kemeja batik (yang menurut saya sudah bagus) dengan harga 50.000 rupiah saja. Ada juga daster batik yang dijual dengan harga obral 35.000 ribu rupiah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Soal lokasi? Tidak juga. Lokasi IBC itu sangat strategis. Persis di tepi <a href=\"https:\/\/www.kompas.id\/baca\/di-balik-berita\/2023\/04\/21\/pantura-bersama-sumpah-serapah-dan-janji-pulang\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">jalur Pantura<\/a>. Fasilitas lain seperti kamar mandi, tempat bermain anak, ATM, musala, hingga kamar mandi juga tersedia. Tapi, dengan segala kelengkapan tersebut, IBC belum mampu menarik minat para wisatawan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Faktor eksternal<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya rasa ada faktor eksternal yang mempengaruhi semua ini. Suatu pusat oleh-oleh akan dikunjungi banyak wisatawan jika daerah tersebut memiliki daya tarik wisata yang menarik. Misalnya Krisna di Bali, yang selalu ramai oleh wisatawan lokal maupun mancanegara.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Siapa tak kenal <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wisata-banyuwangi-siap-melesat-seperti-bali-meninggalkan-jember\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bali<\/a>? Sebuah wilayah dengan segala kekayaan alam dan kearifan lokal yang menjadikan daerah ini memiliki ratusan destinasi wisata. Poin yang perlu diambil adalah ramainya sebuah pusat oleh-oleh tergantung pada jumlah pengunjung. Jumlah pengunjung akan bertambah jika ada daya tarik di daerah tersebut. Jika tidak ada daya tarik yang memikat di suatu daerah buat apa dikunjungi, ya, kan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalo berbicara Pekalongan, ada apa sih di sini? Pantai? Memang, daerah ini memiliki garis pantai yang panjang. Tapi, hampir semua pantai di Pekalongan memiliki air yang kotor. Kalau kotor begini siapa yang mau datang? Kanjeng Ratu Kidul saja mungkin malas plesir ke pantai di utara Pulau Jawa ini. Gimana mau sekalian mampir ke IBC untuk belanja batik Pekalongan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, iklim Pekalongan yang panas membuat wisatawan enggan berkunjung. Beda dengan daerah dingin seperti Bogor, Batu, atau Baturaden yang sejuk. Secara iklim dan destinasi wisata saja Pekalongan nggak menarik, gimana pusat oleh-olehnya mau ramai?<\/span><\/p>\n<h2><b>Pekerjaan yang bakal berat demi batik Pekalongan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, dari penjelasan singkat di atas seharusnya ketemu kudu bagaimana. Jika ingin meningkatkan penjualan batik Pekalongan, pemerintah daerah punya pekerjaan yang berat untuk meningkatkan kualitas daerah. Ini memang pekerjaan yang bakal panjang. Namun, kalau nggak begitu, ya nggak akan ada perubahan. Bisa jadi IBC akan tutup juga dalam waktu dekat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yah, semoga artikel ini juga sampai ke masyarakat Pekalongan. Supaya mereka tahu bahwa ada sebuah potensi ekonomi besar yang ada di daerah sendiri. Jangan sampai hati ini jadi pilu melihat masa depan batik Pekalongan yang sepertinya suram.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Yanuar Abdillah Setiadi<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno\u00a0<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/aib-kota-pekalongan-yang-sampai-sekarang-masih-menghantui\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Aib Kota Pekalongan yang Sampai Sekarang Masih Menghantui<\/a><\/strong><\/p>\n<p><em style=\"font-family: -apple-system, BlinkMacSystemFont, 'Segoe UI', Roboto, Oxygen-Sans, Ubuntu, Cantarell, 'Helvetica Neue', sans-serif;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">cara\u00a0ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><strong><br \/>\n<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pekalongan berpotensi kehilangan salah satu pusat ekonomi yang ramah terhadap UMKM. Kondisi yang membuat batik Pekalongan ikut terancam.<\/p>\n","protected":false},"author":1840,"featured_media":214053,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[2952,4859,10004,5622,4576],"class_list":["post-214050","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-batik","tag-batik-pekalongan","tag-jawa-tengah","tag-pantura","tag-pekalongan"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/214050","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1840"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=214050"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/214050\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/214053"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=214050"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=214050"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=214050"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}