{"id":213909,"date":"2023-04-23T08:11:14","date_gmt":"2023-04-23T01:11:14","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=213909"},"modified":"2023-04-23T08:11:14","modified_gmt":"2023-04-23T01:11:14","slug":"konspirasi-soal-pulang-dan-rumah-di-balik-lagu-minang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/konspirasi-soal-pulang-dan-rumah-di-balik-lagu-minang\/","title":{"rendered":"Konspirasi Soal Pulang dan Rumah di Balik Lagu Minang"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya, yang berasal dari Minang, pernah masuk pesantren di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-makanan-khas-sukabumi-yang-harus-kamu-coba\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sukabumi<\/a>. Salah satu kegiatan favorit saya adalah duduk sore di tukang laundry, yang letaknya masih dalam pagar pesantren. Duduk di sana, saya bisa menyaksikan langsung permainan gitar Mang Jajang, yang bisa disandingkan dengan Sungha Jung, atau sekedar mendengar lagu plesetan yang dia buat sendiri. Atau kalau lagi apes, cuma kebagian ngobrol ngalor-ngidul dengan beliau.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada satu momen yang membuat saya terpukau. Di suatu sore, saya memberitahu Mang Jajang bahwa saya orang Padang. Mendengar itu, Mang Jajang langsung menggitarkan lagu Minang \u201cAyam Den Lapeh\u201d.<\/span><\/p>\n<h2><b>Makna lagu Minang yang tak saya duga sebelumnya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Ente tahu ayam yang dimaksud dalam lagu Minang tersebut?&#8221; Tanyanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya yang saat itu masih di rentang usia SMP tentu menanggapi dengan polos, &#8220;Ayam ya ayam. Ayam pada umumnya.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Salah, ayam yang dimaksud adalah anaknya sendiri.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu saya terkejut. Tapi, beliau akhirnya menjelaskan bahwa memelihara ayam sama halnya memelihara anak. Pertama, karena orang Minang zaman dahulu memiliki banyak anak bahkan lebih dari sepuluh. Kedua, sama-sama diperhatikan makanan dan kesehatannya tapi sering lupa nama saking banyaknya. Ketiga, karena anak dan ayam memiliki pola asuh yang mirip; ada saatnya dikurung dan ada saatnya diumbar. Keempat, karena sama-sama bisa dimakan; ayam bisa dimakan dagingnya, anak bisa dimakan hasil jerih payahnya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Tradisi merantau<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Merantau adalah tradisi penting bagi bujang-bujang Minang untuk membuktikan kelelakiannya. Anak yang merantau, bagi orang Minang, diibaratkan sebagai ayam yang lepas dari umbaran; lebih sering pulang sendiri tanpa dicari. Tapi, untuk beberapa kasus, ada ayam-ayam yang tersesat di rantau dan tak kembali lagi. Entah karena dikurung di perantauan, entah karena kawin dan beranak-pinak di lain pulau, atau sekadar malas pulang kampung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Konon, para ninik-mamak mencari cara bagaimana supaya bujang-bujang yang hilang di rantau ini bisa terpelihara kerinduannya pada kampung halaman. Salah satu cara yang ditempuh adalah lewat seni, khususnya musik. Nah, produk musik hasil pemikiran ninik mamak adalah lagu Minang Ayam Den Lapeh ini yang sampai sekarang pun masih diperdebatkan siapa penulis aslinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Kalau nggak percaya, coba ente sebut satu lagu Minang yang paling tua dari <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-alasan-nasi-padang-jadi-makin-murah-dibanding-nasi-warteg\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Padang<\/a>!&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Spontan saya menjawab, &#8220;Kampuang nan Jauah di Mato.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Itu dia. Coba yang lain.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Pulanglah Uda.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Itu juga.&#8221;<\/span><\/p>\n<h2><b>Pendidikan moral<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mang Jajang menjelaskan bahwa tak hanya dari musik, bahkan pendidikan moral soal merantau juga diselipkan lewat dongeng. <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Malin_Kundang\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Malin Kundang<\/a> tidak durhaka karena lupa diri, tapi durhaka karena lupa pada keberadaan ibunya di kampung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenapa dia jadi batu? Karena dia mengatakan, &#8220;Kau bukan ibuku. Ibuku sudah meninggal.&#8221; Saking lamanya di rantau, sampai dia lupa seperti apa wajah ibunya dan mengambil kesimpulan sendiri bahwa ibunya sudah meninggal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah puas memaparkan rahasia di balik Malin Kundang, beliau mengarahkan percakapan kembali ke pembahasan tentang lagu Minang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Hampir semua lagu Padang itu nyuruh-nyuruh pulang. Coba sebutkan satu lagu Padang yang nggak nyuruh pulang!&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin karena tersihir oleh teorinya sampai otak saya beku saat disuruh cari lagu Minang yang tak mengandung sugesti mudik. Apa ya kira-kira?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Kutang Barendo, mungkin,&#8221; kata saya ragu-ragu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah itu kami berdua tertawa lepas sampai perut ini sakit rasanya. Demikianlah konspirasi di balik lagu Minang yang mungkin akrab di telinga kamu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Akhridhal Syafaad<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/rupa-rupa-kecewa-penikmat-sate-padang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Rupa-rupa Kecewa Penikmat Sate Padang<\/a><br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">cara\u00a0ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada sebuah konspirasi di balik makna lagu Minang yang mungkin akrab di telinga kamu. Kamu tahu makna rahasia di balik lagu &#8220;Ayam Den Lapeh&#8221;? <\/p>\n","protected":false},"author":2191,"featured_media":213956,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13084],"tags":[19032,19031,4006,1988,6213],"class_list":["post-213909","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-musik","tag-ayam-den-lapeh","tag-lagu-minang","tag-malin-kundang","tag-minang","tag-padang"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/213909","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2191"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=213909"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/213909\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/213956"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=213909"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=213909"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=213909"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}