{"id":213238,"date":"2023-04-16T09:34:41","date_gmt":"2023-04-16T02:34:41","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=213238"},"modified":"2023-04-25T14:08:01","modified_gmt":"2023-04-25T07:08:01","slug":"lori-tebu-di-kayutangan-malang-adalah-wujud-penistaan-sejarah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lori-tebu-di-kayutangan-malang-adalah-wujud-penistaan-sejarah\/","title":{"rendered":"Lori Tebu di Kayutangan Malang Adalah Wujud Penistaan Sejarah"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jumat, 14 April 2023, Pemkot memajang replika lokomotif di depan patung Chairil Anwar di Kayutangan, Malang Begini bentuknya.<\/span><\/p>\n<blockquote class=\"twitter-tweet\">\n<p dir=\"ltr\" lang=\"en\">Double view \u2026 <a href=\"https:\/\/t.co\/tSaDFJcm3U\">pic.twitter.com\/tSaDFJcm3U<\/a><\/p>\n<p>\u2014 Yusuf Gunawan (@yusufgunawan) <a href=\"https:\/\/twitter.com\/yusufgunawan\/status\/1646799639545516032?ref_src=twsrc%5Etfw\">April 14, 2023<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><script async src=\"https:\/\/platform.twitter.com\/widgets.js\" charset=\"utf-8\"><\/script><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Konon, tujuannya buat membangkitkan romantisme sejarah kalau di Kayutangan Malang pernah ada trem yang ditarik lokomotif tersebut. Sontak, banyak netizen yang mempertanyakan program aneh ini. Bagaimana dengan warga Kota Malang? Apakah mereka bangga? Ternyata tidak. Malah banyak yang memprotes karena tambah banyak ikon yang tidak mencerminkan unsur \u201cheritage\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat lihat bentuknya, saya malah mendapatkan kesan ini bukan lokomotif trem, melainkan lokomotif lori tebu. Setelah membaca beberapa pendapat, ternyata bukan hanya saya yang mempunyai anggapan seperti itu. Kalangan pemerhati sejarah Kota Malang juga mengkritik.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan ada yang memplesetkan istilah Makobu yang dulunya dikenal sebagai Malang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/julukan-kota-apel-dan-kota-bunga-cocoknya-buat-kota-batu-bukan-kota-malang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kota Bunga<\/a> menjadi Malang Kota Tebu. Sungguh, membuat saya prihatin.<\/span><\/p>\n<p><em><strong>Baca halaman selanjutnya&#8230;.<\/strong><\/em><\/p>\n<h2><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lori-tebu-di-kayutangan-malang-adalah-wujud-penistaan-sejarah\/2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><b>Pemerintah kota yang problematik<\/b><\/a><\/h2>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kapan hari itu, saya menulis artikel berisi harapan bagi Kota Malang yang baru saja menginjak usia 109. Saya berharap kota ini tidak semakin problematik seperti Depok dengan segala fenomenanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya yakin tulisan saya tidak dibaca oleh jajaran pemerintah Kota Malang. Namun, satu hal yang pasti, harapan saya juga tidak akan terwujud. Bukannya membaik, kota ini semakin problematik. Contohnya ya di masalah replika lokomotif tadi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan hanya melecehkan sejarah, replika lokomotif ini mempertegas bahwa Kota Malang itu krisis identitas. Sebelumnya, kita sama-sama tahu bahwa trotoar Kayutangan Malang saja dimirip-miripkan seperti <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kayutangan-heritage-malioboro-kw-yang-begitu-mahal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Malioboro<\/a>. Lalu, ada pemasangan phone box ala Inggris. Sekarang, replika trem yang dipasang tidak sesuai dengan sejarah.<\/span><\/p>\n<h2><b>Penistaan sejarah Kayutangan Malang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Adanya replika lokomotif tebu di Kayutangan Heritage ini merupakan penistaan terhadap sejarah Kayutangan Malang itu sendiri. Dulu, pemerintah memutuskan untuk memendam rel trem Kayutangan. Padahal, unsur sejarah Kayutangan ada di sana. Sekarang, replika trem yang dipajang tidak sesuai dengan sejarahnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kecuali kalau memang mau mengangkat sejarah perkebunan tebu. Itu masih masuk akal. Namun, replika lokomotifnya nggak dipajang di Kayutangan juga. Lebih tepat kalau dipajang di pabrik gula Kebonagung atau Krebet. Kayutangan tidak punya sejarah industri gula.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalau, bagaimana dengan bentuk asli lokomotif yang pernah melintasi kawasan Kayutangan? Jawabannya ada di tiga tweet @MalangTramway.<\/span><\/p>\n<p>(1)<\/p>\n<blockquote class=\"twitter-tweet\">\n<p dir=\"ltr\" lang=\"in\">Lokomotif Seri B17 merupakan lokomotif uap yang dulu jadi tulang punggung Trem Malang (NV Malang Stoomtrammaatschappij). Trem Malang dulu memiliki 10 unit lokomotif uap type ini dan dioperasikan sejak 1897. Lintas Jagalan &#8211; Blimbing via Kayutangan dulu juga rutin dilewati B17. <a href=\"https:\/\/t.co\/AoPVqGp7Df\">pic.twitter.com\/AoPVqGp7Df<\/a><\/p>\n<p>\u2014 Malang Tramway (@MalangTramway) <a href=\"https:\/\/twitter.com\/MalangTramway\/status\/1646029130541182978?ref_src=twsrc%5Etfw\">April 12, 2023<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><script async src=\"https:\/\/platform.twitter.com\/widgets.js\" charset=\"utf-8\"><\/script><\/p>\n<p>(2)<\/p>\n<blockquote class=\"twitter-tweet\">\n<p dir=\"ltr\" lang=\"in\">Terdapat dua unit Lokomotif Uap Seri B24 yang dulu pernah dimiliki oleh Trem Malang. Baik B24 dan B17 sama-sama dibuat produsen lokomotif Hohenzollern, Jerman. Tampilan B24 sebenarnya mirip B17, tetapi B24 sedikit lebih panjang. Kecepatan maksimumnya juga sekitar 30 km\/ jam saja <a href=\"https:\/\/t.co\/xXWMm8wVQd\">pic.twitter.com\/xXWMm8wVQd<\/a><\/p>\n<p>\u2014 Malang Tramway (@MalangTramway) <a href=\"https:\/\/twitter.com\/MalangTramway\/status\/1646031641075388416?ref_src=twsrc%5Etfw\">April 12, 2023<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><script async src=\"https:\/\/platform.twitter.com\/widgets.js\" charset=\"utf-8\"><\/script><\/p>\n<p>(3)<\/p>\n<blockquote class=\"twitter-tweet\">\n<p dir=\"ltr\" lang=\"in\">Berbeda dengan dua seri lainnya (B17 dan B24) yang berbentuk kotak dan merupakan tampilan khas lokomotif uap khusus trem, Seri D11 buatan Hohenzollern Jerman ini punya tampilan seperti lokomotif uap pada umumnya. Nampak dua unit Lokomotif D11 menghela trem di Kayutangan, Malang. <a href=\"https:\/\/t.co\/cOiatTRCDf\">pic.twitter.com\/cOiatTRCDf<\/a><\/p>\n<p>\u2014 Malang Tramway (@MalangTramway) <a href=\"https:\/\/twitter.com\/MalangTramway\/status\/1646079103043518466?ref_src=twsrc%5Etfw\">April 12, 2023<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><script async src=\"https:\/\/platform.twitter.com\/widgets.js\" charset=\"utf-8\"><\/script><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau mau merepresentasikan sejarah perkeretaapian Kayutangan Malang, akun yang sama juga sudah mengulasnya. Berikut penjelasannya.<\/span><\/p>\n<blockquote class=\"twitter-tweet\">\n<p dir=\"ltr\" lang=\"in\">Jika tujuannya mengabadikan sejarah Trem Malang di Kayutangan, seharusnya dipasang miniatur Loko B17, B24 atau D11. Tapi jika dikaitkan dengan sejarah perkeretaapian di Malang, bisa juga tiruan Loko C11 yg dulu jadi tulang punggung layanan kereta api Surabaya &#8211; Malang sejak 1879 <a href=\"https:\/\/t.co\/KRSwLRN6Fi\">pic.twitter.com\/KRSwLRN6Fi<\/a><\/p>\n<p>\u2014 Malang Tramway (@MalangTramway) <a href=\"https:\/\/twitter.com\/MalangTramway\/status\/1646155944173223936?ref_src=twsrc%5Etfw\">April 12, 2023<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><script async src=\"https:\/\/platform.twitter.com\/widgets.js\" charset=\"utf-8\"><\/script><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika tujuannya ingin mengembalikan heritage Kota Malang, ini sangat ngawur. Terkesan tidak ada dan tidak pernah melakukan riset sejarah. Maklum, kota ini seperti panik untuk menciptakan destinasi wisata yang benar-benar murni dari sejarah. Kelihatan sangat takut kalah sama Kabupaten Malang dan <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kota_Batu\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kota Batu<\/a>.<\/span><\/p>\n<h2><b>Lancang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menaruh replika lori di depan patung Chairil Anwar yang tertulis puisi \u201cAku\u201d di bawahnya juga lancang terhadap kesejarahan. Replika tebu yang dipasang ini nilai kesejarahannya dipertanyakan, terlebih ukurannya lebih besar dan ditaruh di depan patung Chairil Anwar yang bersejarah dan dibangun pada 1955.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Monumen ini didirikan untuk menghormati Si Binatang Jalang yang pernah ke Malang dalam rangka Sidang Pleno Kelima KNIP 25 Februari-6 Maret 1947 di Societeit Concordia yang sekarang menjadi Mal Sarinah Malang. Monumen ini dibangun untuk mengenang sejarah kemerdekaan Indonesia, tapi malah dirusak dengan replika lokomotif lori tebu yang diklaim sebagai trem (peninggalan penjajah Belanda).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Harusnya, orang-orang ke patung Chairil Anwar untuk menghargai sejarah. Eh kawasan wisata sejarah itu malah tambah sepi. Banyak orang malah foto-foto di replika yang tidak ada nilai historisnya sama sekali. Padahal, keberadaan patung Chairil Anwar sangat penting sebagai amanat Jasmerah Bung Karno agar masyarakat lebih menghargai sejarah perjuangan Indonesia.<\/span><\/p>\n<h2><b>Lenyapkan dari Kayutangan Malang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena dari kajian sejarah tidak masuk akal dan mengotori estetika taman patung Chairil Anwar, seharusnya replika lokomotif lori tebu tersebut dicopot saja. Seharusnya, pemerintah kota menggandeng ahli sejarah sebelum membangun zona wisata Kayutangan Malang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, pembangunan replika ini sangat membuang uang. Padahal, anggarannya bisa digunakan untuk membenahi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jalan-rusak-di-klaten-abadi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">aspal jalanan kota yang rusak<\/a> atau penanggulangan banjir. Sungguh nggak ada nalar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Mohammad Faiz Attoriq<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mati-tua-di-jalanan-kota-malang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Mati Tua di Jalanan Kota Malang<\/a><br \/>\n<\/strong><\/p>\n<div class=\"jeg_ad jeg_ad_article jnews_content_inline_2_ads \">\n<div class=\"ads-wrapper align-center \">\n<div class=\"ads_code\"><a href=\"https:\/\/click.accesstrade.co.id\/adv.php?rk=0008p5001zi8\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/imp.accesstrade.co.id\/img.php?rk=0008p5001zi8\" border=\"0\" data-pin-no-hover=\"true\" \/><\/a><em style=\"font-family: -apple-system, BlinkMacSystemFont, 'Segoe UI', Roboto, Oxygen-Sans, Ubuntu, Cantarell, 'Helvetica Neue', sans-serif;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0ini\u00a0ya.<\/em><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pemasangan replika lori tebu di Kayutangan, Kota Malang, adalah sebuah bentuk penistaan terhadap sejarah. Memalukan dan segera copot saja!<\/p>\n","protected":false},"author":1661,"featured_media":213328,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[18975,2501,14534,10740,985,18974],"class_list":["post-213238","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-banjir-kota-malang","tag-jawa-timur","tag-kayutangan","tag-kota-malang","tag-malang","tag-replika-lori-tebu"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/213238","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1661"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=213238"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/213238\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/213328"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=213238"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=213238"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=213238"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}